Picture
Pendahuluan
Deep Vein Thrombosis (DVT) bila diterjemahkan bebas ke dalam Bahasa Indonesia adalah suatu “sumbatan darah yang terjadi pada vena utama yang jauh dari permukaan”, di mana biasanya terjadi pada daerah tungkai. Sebenarnya pembekuan dan lebih jauh penyumbatan dapat juga terjadi pada vena yang letaknya di permukaan yang disebut sebagai phlebitis dan dapat menyebabkan masalah serius juga, tetapi DVT bukan saja menyebabkan masalah serius karena DVT harus mendapatkan pertolongan medis secepat mungkin. Ini disebabkan DVT dapat terlepas dan melayang di dalam pembuluh darah vena sehingga bila tersumbat di dalam vena paru-paru akan menyebabkan emboli paru yang mengancam jiwa.
 
Fakta Tentang DVT
  • Penyumbatan darah paling sering terjadi pada vena di tungkai, tapi bisa juga terjadi pada vena di lengan dan vena di panggul.
  • Setiap tahun di AS, antara 350 – 900 ribu orang mengalami penyumbatan vena di tungkai atau di paru-parunya.
  • Di AS 60 – 100 ribu orang meninggal karena DVT atau komplikasi emboli paru.
  • Orang yang sudah pernah terkena DVT, akan lebih mudah terkena kembali 33% lebih besar dari yang belum pernah.
  • Diduga kecendrungan DVT diturunkan di dalam keluarga.

Penyebab dan Faktor Resiko dari DVT
  1. Bila seseorang tidak bergerak aktif, dan hanya berbaring, misalnya pada orang yang sudah lumpuh atau pasca stroke.
  2. Terjadi pada kondisi perjalanan jauh duduk di dalam kendaraan atau pesawat terbang.
  3. Terjadi setelah suatu kejadian kecelakaan atau trauma yang merusak pembuluh darah.
  4. Terjadi setelah kejadian patah tulang di tungkai, lengan atau panggul.
  5. Akibat dari suatu tindakan operasi orthopedi, ginekologi, dan jantung.
  6. Memiliki penyakit gangguan pembekuan darah, di mana darah mudah untuk menggumpal (hypercoagulability).
  7. Kondisi infeksi sangat berat atau gagal organ yang memicu DIC (Disseminated Intravascular Coagulation), di mana darah menggumpal secara tidak normal.
  8. Karena efek dari suatu kanker dan penanganan kanker yang merusak pembuluh darah.
  9. Serangan jantung, gagal jantung, atau stroke.
  10. Kondisi medis masalah vena seperti vasculitis dan varises.
  11. Kondisi hamil dan melahirkan.
  12. Penggunaan terapi estrogen atau pil KB dalam waktu lama.
  13. Berada pada ketinggian di atas 4.200 meter di atas permukaan laut.
  14. Terjadi pada orang yang sudah sangat tua.
  15. Obesitas.
  16. Merokok dan asap rokok orang lain.

Komplikasi dari DVT
  1. Iritasi pada vena yang disebut thrombophlebitis dengan keluhan nyeri dan bengkak pada daerah yang terkena
  2. Emboli paru (pulmonary embolism) dengan keluhan mulai dari sesak nafas sampai kematian; tergantung dari derajat keparahannya. Emboli paru lebih mungkin terjadi bila penggumpalan terjadi lebih tinggi dari pada lutut.
 Baca artikel lainnya di Blog Dr. Indra K. Muhtadi
Tanda dan Gejala DVT
Pada tahap awal DVT bisa sama sekali tidak menimbulkan suatu tanda dan keluhan. Bila sudah menimbulkan keluhan, dapat berupa:
  1. Bengkak, panas, nyeri, dan perubahan warna (memerah) pada tungkai atau daerah yang terkena.
  2. Sering mengalami keram pada tungkai.
  3. Nyeri akan lebih terasa bila ditekan, digerakkan, atau bila saat menekuk persendian di sekitar area yang terkena.
  4. Nyeri dapat bertahan lahan dan bisa bertambah buruk.
 
Terkadang tanpa terjadinya keluhan, tiba-tiba sudah terjadi emboli paru yang menjadi pertanda awalnya terjadi DVT. Tanda dan gejala sudah terjadinya emboli paru adalah sbb.:
  1. Tiba-tiba terjadi nafas pendek dan sulit untuk bernafas.
  2. Nyeri di dada yang bertambah parah bila menarik nafas dalam.
  3. Batuk yang bisa disertai dengan darah.
  4. Degup jantung yang cepat (palpitasi).
  5. Keluar keringat dingin.
  6. Pingsan, kehilangan kesadaran, sampai meninggal dunia.
 
Setelah terjadi DVT dan selamat dari kondisi kritis, penderita dapat mengalami Post-thrombotic syndrome, di mana terjadi rasa nyeri yang berkepanjangan pada daerah yang tadinya terkena walau pun sebenarnya sudah tidak ada lagi penggumpalan darah di sana.
 
Kapan Mencari Pertolongan Medis
  1. Bila terlihat tanda dan gejala DVT seperti di atas untuk pertama kalinya, sebaiknya diperiksakan ke dokter agar terhindar dari resiko yang dapat mengancam jiwa.
  2. Bila sudah pernah terjadi DVT sebelumnya, dan terjadi keluhan ulangan, karena resiko untuk terkena emboli paru akan semakin besar.
  3. Bila terjadi tanda dan gejala dari emboli paru, harus segera ke RS karena bila tidak ditangani dengan segera dapat mengancam jiwa.
 
Penegakan Diagnosis DVT
Bila tanda dan gejala tidak begitu jelas, sebenarnya sulit menegakkan diagnosis DVT tanpa pemeriksaan tambahan. Jadi bila dokter sudah curiga ke arah suatu kasus DVT, biasanya dokter meminta untuk dilakukan pemeriksaan USG pada daerah yang nyeri. Dapat juga dilakukan venogram yaitu suatu pemeriksaan vena menggunakan foto Rontgen. Pemeriksaan jantung dan paru akan dilakukan untuk memperkuat diagnosis dan melihat adanya tanda-tanda emboli paru. Khusus untuk pemeriksaan USG, bisa diulang dalam 7-10 hari untuk lebih memastikannya lagi. Terkadang dokter sampai meminta pemeriksaan CT-scan dan MRI juga.
 
Pemeriksaan khusus untuk kecendrungan penggumpalan darah bisa juga dilakukan, seperti:
  1. Blood thinner testing yang terdiri dari Activated partial thromboplastin time (APTT) dan Prothrombin Time (PT).
  2. Tes untuk masalah penggumpalan yang dilakukan: bila tidak ada penyebab jelas terjadinya DVT, bila terjadi pada usia < 45 tahun, bila terjadi pada daerah di luar lokasi biasanya, bila ada anggota keluarga kandung yang mengalami gangguan penggumpalan darah pada usia < 45 tahun. 
Baca artikel lainnya di Blog Dr. Indra K. Muhtadi
Penanganan DVT
Tujuan utama penanganan DVT adalah mencegah penggumpalan menjadi bertambah besar, mencegah gumpalan lepas dan sampai di paru-paru, mencegah terjadinya post-thrombotic syndrome, dan mencegah kejadiannya terjadi kembali di kemudian hari.
 
Dilakukan Sendiri
  • Cobalah menjadi lebih aktif dengan berjalan secara rutin.
  • Bila duduk, posisikan kaki lebih tinggi dari biasanya dan jangan tergantung.
  • Gunakan stocking khusus (compression stockings) yang dapat mengurangi keluhan dan mencegah post-thrombotic syndrome.
  • Minum obat penahan nyeri dan anti inflamasi bila perlu.
  • Bila diresepkan obat anti penggumpalan darah (anticoagulants), jagalah untuk tidak terjadi benturan dan luka, serta lakukan pemeriksaan darah secara rutin.
 
Dilakukan Dokter
  1. Dokter akan memberikan obat anticoagulants setidaknya 3 bulan untuk mencegah penggumpalan bertambah besar. Anticoagulants tidak bisa diberikan untuk yang beresiko terjadi perdarahan saluran cerna, perdarahan di dalam otak, atau yang baru saja mengalami trauma benturan yang berat. Obat-obat anticoagulants seperti: heparin, warfarin, rivaroxaban, atau fondaparinux. Khusus untuk wanita hamil hanya bisa boleh diberikan heparin saja.
  2. Pada kondisi yang lebih serius, pasien bisa dirawat di RS untuk diberikan thrombolytic therapy.
  3. Bila ancaman untuk emboli paru menjadi sangat besar, dokter akan menyarankan untuk memasang vena cava filter. Yang dimasukkan dengan cara operasi ke dalam vena cava agar bila ada gumpalan yang lepas tidak akan masuk ke dalam paru-paru. Tindakan ini masih jarang dilakukan.
 
Operasi
Operasi untuk mengangkat penggumpalan darah sangat jarang dilakukan dan bila dilakukan pada kondisi gumpalan yang sangat besar dan bisa mengancam jiwa. Bila operasi dilakukan biasanya sekalian memasang vena cava filter.
 
Prognosis DVT
  • Sebagian besar DVT hilang dengan sendirinya.
  • 33% penderita yang sembuh akan mengalaminya kembali dalam waktu 10 tahun.
  • Kejadian ulang lebih sering terjadi pada penderita kanker dan dalam terapi kanker, memiliki riwayat keluarga dengan penyakit yang sama atau emboli paru.
  • Therapi Anticoagulants dapat menurunkan angka kematian dan menurunkan kejadian emboli paru secara signifikan.
  • Bila sudah terjadi emboli paru:
  1. 25% penderitanya meninggal mendadak dan menjadi satu-satunya tanda telah terjadi DVT.
  2. 23% meninggal dalam 3 bulan
  3. 30% meninggal dalam 6 bulan
  4. 37% meninggal dalam 1 tahun
 
Pencegahan DVT
  1. Jangan menjadi orang yang tidak aktif bergerak. Lakukanlah olah raga secara rutin.
  2. Dalam perjalanan panjang menggunakan mobil cobalah untuk rutin berhenti untuk melakukan peregangan dan olah raga ringan, dan dalam perjalanan panjang menggunakan kapal dan pesawat terbang, cobalah untuk berdiri dan bergerak serta melakukan peregangan.
  3. Bila duduk terlalu lama, pastikan kaki tidak tergantung. Dan bila berbaring terlalu lama, pastikan posisi tungkai lebih tinggi dari badan.
  4. Setelah melakukan operasi besar, dokter memberikan anticoagulants.
  5. Bila sudah terdiagnosis DVT, gunakan compression stockings.
  6. Bila ada dalam kondisi berat badan berlebih apa lagi obesitas, turunkan berat badan Anda dan jagalah pada berat badan normal.
  7. Hindari penggunaan terapi estrogen dan penggunaan pil KB dalam waktu yang lama, konsultasikan pada dokter.
  8. Hentikan merokok dan jauhi asap rokok orang lain.
IKM 2016-07



Leave a Reply.