Di era sekarang, makin banyak kemasan makanan dan minuman yang menyematkan klaim seperti “sehat”, “rendah lemak”, “rendah gula”, “organik”, “snack sehat”, “fit”, “nutritious”, dan berbagai embel-embel positif lainnya. Kenyataannya justru banyak produk yang tampak sehat ternyata masuk kategori Ultra-Processed Food (UPF), alias makanan ultra-olahan. Menurut definisi, UPF adalah makanan olahan secara industri dengan banyak proses dan tambahan bahan seperti gula tambahan, garam, lemak, perasa, pengawet, pewarna, dan zat tambahan lainnya. Produk seperti cemilan siap makan, minuman manis, makanan cepat saji, snack kemasan, dan makanan beku termasuk ke dalam kelompok ini.
Masalahnya, meski dikemas dengan label “sehat”, banyak UPF tetap mengandung kadar gula, garam, dan lemak tinggi, namun miskin vitamin, serat, dan nutrisi penting lainnya. Selain itu, banyak klaim kesehatan pada kemasan justru menimbulkan efek “health halo”, dimana konsumen menganggap produk lebih sehat daripada kenyataannya. Sebuah penelitian terbaru menunjukkan bahwa klaim nutrisi di kemasan tidak selalu mencerminkan kualitas gizi sesungguhnya. Singkatnya, label “sehat” tidak menjamin makanan itu memang sehat dalam perspektif jangka panjang. Karena meskipun “sehat”, makanan ultra-olahan tetap bisa membawa risiko jangka panjang bagi kesehatan. Ini jadi paradoks, dimana banyak orang memilih UPF karena dianggap praktis dan sehat, tapi dalam jangka panjang, dampaknya bisa merugikan.
Follow Dr. Indra on Instagram