Bayangkan pada pagi hari seseorang memulai aktivitas dengan secangkir kopi kekinian, mungkin kopi susu gula aren, atau es latte yang viral di media sosial. Siangnya, makan siang kilat di kantor dengan nasi, ayam goreng tepung, ditemani dengan saus sambal. Setelah makan malam, ngemil martabak manis atau roti bakar isi coklat dan keju sambil menonton TV. Kedengarannya seperti hari biasa, tapi tanpa sadar, mungkin sudah mengkonsumsi dua hingga tiga kali lipat jumlah gula harian yang direkomenda-sikan. Masalahnya, gula itu tidak selalu terasa manis. Inilah yang disebut dengan “hidden sugar” atau gula tersembunyi.
Gula, dalam bentuk paling sederhananya, sebenarnya adalah karbohidrat yang menjadi sumber energi utama tubuh. Gula alami banyak terdapat di buah-buahan (dalam bentuk fruktosa), susu (dalam bentuk laktosa), atau makanan nabati lainnya. Masalahnya muncul ketika tubuh mendapatkan terlalu banyak gula tambahan atau gula olahan yang sengaja ditambahkan ke dalam produk makanan dan minuman. “Hidden sugar” merujuk pada gula tambahan ini, yang sering tidak kita sadari keberadaannya, yang dapat berupa: high fructose corn syrup (sirup jagung mengandung fruktosa tinggi), sirup glukosa, invert sugar, maltose, maltodextrin, dan puluhan nama lain yang terdengar “ilmiah”, tetapi pada dasarnya tetap gula.
Follow Dr. Indra on Instagram