Pernahkah Anda membuka lemari tempat penyimpanan makanan lalu mengemil makanan ringan, atau menghabis-kan sebungkus coklat ketika sedang jengkel, sedih, bosan, atau sedang merayakan sesuatu? Jika iya, Anda tidak sendirian. Banyak orang memakai makanan sebagai cara meredakan perasaan. Tindakan ini biasa disebut emotional eating atau makan karena emosi. Yaitu aktivitas makan dilakukan untuk merespons perasaan, bukan karena tubuh membutuhkan energi. Konsep ini sederhana, tetapi dampak dan mekanismenya kompleks, dimana dapat memberi kenyamanan sementara, tetapi sering tidak menyelesaikan masalah emosional yang mendasarinya.
Emotional eating adalah perilaku makan yang didorong oleh emosi, baik emosi positif maupun negatif. Misalnya makan untuk meredakan stres, kesepian, kebosanan, atau untuk merayakan kegembiraan. Jadi bukan aktivitas makan biasa yang didasari oleh sinyal fisiologis rasa lapar. Perilaku emotional eating ini sering cepat, impulsif, dan berfokus pada makanan yang memberi kenikmatan sensorik. Biasanya makanan yang manis, gurih, dan lembut. Pelakunya tidak berfokus pada kebutuhan gizi. Penting juga untuk dipahami bahwa emotional eating berbeda dari gangguan makan secara klinis seperti binge eating disorder. Meskipun emotional eating berulang dan intens dapat juga menjadi tanda dan awal masalah makan yang lebih berat.
Follow Dr. Indra on Instagram