Bayangkan seseorang yang melihat wajah orang tuanya, namun tidak bisa mengenalinya. Atau seseorang yang memegang kunci rumah, tapi tidak tahu benda apa itu. Atau mendengar dering telepon tapi tak tahu bunyi apa itu. Fenomena ini bukanlah masalah pada mata, telinga, atau kulit, melainkan kegagalan otak dalam mengenali makna dari sensasi yang diterimanya. Kondisi ini disebut agnosia, sebuah gangguan neurologis yang membuka pemahaman luas tentang bagaimana otak manusia bekerja. Pada penderita agnosia, Panca Indera masih berfungsi normal, tetapi otak gagal memaknai informasi yang diterima.
Agnosia berasal dari bahasa Yunani "a-" (tidak) dan "gnosis" (pengetahuan), sehingga bisa diartikan "ketidaktahuan". Secara medis, agnosia adalah ketidakmampuan mengenali objek, suara, wajah, kata, atau sensasi lain meskipun fungsi Indera tetap utuh. Agnosia biasanya disebabkan oleh kerusakan pada area tertentu di otak, terutama lobus parietal, temporal, dan oksipital, yang berperan dalam persepsi dan pemrosesan informasi sensorik. Kerusakan ini bisa disebabkan oleh stroke, cedera otak traumatik (traumatic brain injury), tumor otak, infeksi otak, hipoksia, atau penyakit degeneratif, yang akan dijelaskan lebih lengkap di bawah.
Gejala agnosia sangat bergantung pada jenis agnosia dan lokasi kerusakan otak yang dialami.
1. Agnosia visual (visual agnosia)
Penderita tidak bisa mengenali benda melalui penglihatan, meskipun matanya sehat. Misalnya, bisa melihat gunting tapi tidak tahu itu gunting. Agnosia visual memiliki sub tipe:
- Prosopagnosia: tidak bisa mengenali wajah orang, bahkan keluarga dekat.
- Agnosia kata (agnosic alexia): bisa mendeteksi huruf tapi tidak bisa menggabungkannya menjadi kata utuh, meskipun bisa menulis dan berbicara.
- Apperseptif: tidak bisa mengenali bentuk dan struktur objek. Tidak mampu menyalin gambar.
- Asosiatif: bisa melihat dan menyalin gambar, tetapi tidak tahu nama dan fungsi objek.
- Agnosia warna (achromatopsia): tidak mengenali /mengidentifikasi warna meskipun bisa melihatnya.
- Akinetopsia: tidak bisa menangkap gerakan, bagi penderita dunia seperti terlihat diam yang dikenal dengan istilah “freeze frame.”
2. Agnosia auditori (auditory agnosia)
Penderita mendengar suara tetapi tidak dapat mengenalinya, meskipun organ pendengarannya sehat. Agnosia auditori memiliki sub tipe:
- Agnosia auditori verbal (pure word deafness): tidak memahami kata yang didengar (ketulian kata).
- Phonagnosia: tidak bisa mengenali suara orang yang familiar, tetapi masih mengerti kata-kata.
3. Agnosia taktil (tactile agnosia)
Tidak bisa mengenali benda melalui sentuhan, walaupun sensasi kulit tetap normal. Misalnya, memegang sendok tapi tidak tahu benda apa itu.
4. Agnosia jari (finger agnosia)
Tidak mampu membedakan dan menyebut jari-jarinya sendiri atau orang lain. Sering menjadi bagian dari Sindroma Gerstmann, yang meliputi:
- Disorientasi kiri-kanan
- Acalculia (kesulitan menghitung)
- Agraphia (gangguan menulis)
5. Agnosia tubuh sendiri (autotopagnosia)
Kesulitan mengenali bagian tubuh sendiri, terutama posisi atau nama bagian tubuh.
6. Simultanagnosia
Tidak bisa mengenali objek ketika berada dalam kelom-pok, tetapi bisa mengenali jika objek itu berdiri sendiri.
Penyebab Agnosia
Beberapa kondisi yang dapat merusak area otak dapat menyebabkan agnosia antara lain:
- Stroke. Merupakan penyebab paling umum agnosia, terutama jika terjadi pada belahan otak yang dominan atau pada bagian lobus oksipital dan temporal. Stroke bisa menyebabkan mati sebagian area otak sehingga fungsinya terganggu.
- Cedera kepala traumatik. Benturan keras di kepala akibat kecelakaan atau trauma dapat merusak area pemrosesan sensorik secara langsung, terutama jika terjadi pada sisi belakang atau samping kepala.
- Tumor otak. Pertumbuhan jaringan abnormal di otak, terutama yang menekan lobus oksipital, temporal, atau parietal, bisa mengganggu fungsi pengenalan obyek, suara, atau sensasi sentuhan.
- Infeksi otak (ensefalitis). Peradangan dan infeksi pada jaringan otak akibat virus atau bakteri dapat merusak jalur saraf yang penting dalam mengenali sensasi.
- Hipoksia atau anoksia (kehilangan oksigen ke otak). Misalnya akibat serangan jantung, keracunan karbon monoksida, atau sesak napas parah. Otak sangat sensitif terhadap kekurangan oksigen dan dapat me-ngalami kerusakan permanen dalam hitungan menit.
- Paparan toksin neurotropik. Seperti karbon monoksida, timbal, atau zat kimia tertentu dapat merusak jaringan otak dan menyebabkan agnosia.
- Penyakit neurodegeneratif. Seperti penyakit Alzheimer, demensia, atau penyakit Parkinson lanjut, yang secara perlahan merusak area pengolahan informasi dan menyebabkan hilangnya fungsi pengenalan.
Baca artikel lainnya di Blog Dr. Indra K. Muhtadi
Agnosia bisa terjadi secara tunggal, tapi tidak jarang juga terjadi bersama “teman-temannya.” Bahkan merupakan satu dari lima gejala yang umum terjadi dan menjadi tanda seseorang mengalami stroke atau penyakit neuro-degeneratif, terutama demensia dan penyakit Alzheimer. Perbedaannya terletak pada gejala dan wilayah otak yang terdampak. Dari kelimanya, yang paling sering terjadi kesalahan dalam membedakan atau menegakkan diagnosisnya (bahkan oleh tenaga medis) adalah antara agnosia, afasia, dan apraksia. Kelima hal tersebut adalah:
1. Agnosia
Seperti dijelaskan di atas, otak penderita tidak dapat mengenali makna sensasi atau informasi yang diterima oleh panca Indera, meskipun fungsinya masih baik. Wilayah otak yang terkait adalah lobus oksipital, temporal, dan parietal (tergantung jenis agnosia yang dialami).
2. Aphasia
Ketidakmampuan/kesulitan mengungkapkan fikiran dan ucapan diri sendiri kepada orang lain, baik secara lisan maupun tulisan. Dapat juga terjadi gangguan membaca, sehingga disebut sebagai gangguan dalam berbahasa dan berkomunikasi. Afasia terbagi 2:
- Afasia Broca (non-fluent): sulit berbicara, kalimat pendek dan terputus-putus. Pemahaman masih relatif baik. Contoh: "Makan... nasi... tadi..." Wilayah otak yang terkait di area Broca, yaitu di frontal inferior kiri.
- Afasia Wernicke (fluent): lancar berbicara, tetapi kata-katanya tidak nyambung/sulit dimengerti. Pe-mahaman juga terganggu. Contoh: "Kemarin bunga motor menyanyi lampu." Wilayah otak yang terkait di area Wernicke, yaitu di temporal superior kiri.
3. Apraxia: Dikatakan sebagai gangguan dalam perenca-naan gerakan motorik. Otak penderita tidak mampu menyusun instruksi gerakan secara tepat, sehingga tubuh tidak merespons sesuai perintah. Akibatnya terjadi kesalahan penggunaan barang atau objek, karena kegagal-an mengidentifikasi benda atau objeknya. Contohnya diberi sendok, tahu itu sendok, tapi tidak tahu harus dibawa ke mulut. Wilayah otak yang terkait adalah area premotor dan parietal di belahan kiri otak. Apraksia dibagi menjadi tiga:
- Ideomotor apraxia: sulit meniru gerakan atau melakukan perintah sederhana.
- Ideational apraxia: tidak bisa menyusun rangkaian aktivitas logis, seperti membuat kopi.
- Apraxia bicara (apraxia of speech): tahu apa yang ingin diucapkan, tidak bisa mengatur gerakan otot bicara.
4. Amnesia
Memory loss (gangguan daya ingat). Pernah ditulis dalam artikel sebelumnya, silakan dibaca. Tapi secara singkat, penderita amnesia mengalami kesulitan untuk menyimpan, mengingat, atau mengakses informasi yang sebelumnya pernah disimpan dalam memori otak. Gangguan ini dapat bersifat sementara maupun permanen, dan bisa mempengaruhi memori jangka pendek, jangka panjang, atau keduanya. Amnesia bukanlah gangguan kecerdasan, dan penderita biasanya tetap sadar dan memiliki fungsi Indera serta kemampuan berpikir logis yang normal. Paling sering wilayah otak terkait adalah hippocampus, lobus temporal medial, dan diencephalon, yang berperan penting dalam pembentukan dan penyimpanan memori. Amnesia terbagi menjadi 2:
- Amnesia anterograde: tidak mampu membentuk atau menyimpan memori baru setelah terjadinya kerusakan otak. Penderita lupa kejadian yang baru saja dialami, namun memori masa lalu masih utuh. Contoh: setelah mengalami kecelakaan, tidak bisa mengingat kejadian 5 menit yang lalu.
- Amnesia retrograde: kehilangan memori masa lalu, terutama sebelum terjadinya cedera atau penyakit. Penderita tidak bisa mengingat peristiwa penting, nama orang yang dekat dengannya, atau sejarah hidupnya sendiri.
5. Anomia
Anomia adalah gangguan bahasa yang ditandai oleh kesulitan menyebutkan nama benda, orang, tempat, atau konsep tertentu, meskipun penderita tahu apa yang dimaksud. Kondisi ini mirip dengan “tip of the tongue phenomenon” atau “ungkapan seperti sudah di ujung lidah” namun berlangsung terus-menerus dan bersifat patologis. Anomia bisa berdiri sendiri atau muncul sebagai bagian dari afasia ringan. Penderita biasanya berbicara lancar, tapi sering terhenti, mencari kata yang tepat, atau menggantinya dengan istilah umum seperti “itu” atau “yang buat makan.” Contoh: ingin berkata “sendok” tapi akhirnya mengatakan, “Itu… yang buat makan nasi… dari logam.” Area otak yang terkait berada di lobus temporal kiri dan parietal inferior, yang berperan dalam penyimpanan dan pengambilan kosa kata.
Penegakan Diagnosis
Karena gejala kelimanya mirip, diagnosis harus dilakukan dengan hati-hati melalui kombinasi anamnesis, tes neuropsikologis, dan pemeriksaan pencitraan (MRI & CT scan otak) untuk mengetahui lokasi dan luasnya kerusakan.
- Agnosia: dokter akan menilai kemampuan pasien dalam mengenali rangsangan visual, auditori, atau taktil meskipun panca Inderanya berfungsi normal.
- Afasia, dilakukan uji bahasa lisan dan tulisan mengeva-luasi kemampuan bicara, memahami, baca, & menulis.
- Apraksia: dilakukan tes motorik untuk melihat apakah pasien mampu merencanakan dan mengeksekusi gerakan sederhana maupun kompleks.
- Amnesia: dideteksi melalui pemeriksaan fungsi memori jangka pendek dan panjang, serta penelusuran terhadap ingatan autobiografis pasien.
- Anomia, dilakukan uji penamaan objek dan word retrieval dalam konteks percakapan.
Penutup
Agnosia memang tergolong gangguan neurologis yang langka, namun dampaknya terhadap kualitas hidup penderitanya sangat signifikan, apalagi bila ditemani oleh “teman-temannya.” Kondisi ini mengingatkan kita bahwa mengenali dunia bukan sekedar soal melihat, mendengar, atau meraba, melainkan bagaimana otak memaknai semua itu. Pemahaman yang lebih luas sangat diperlukan, tidak hanya untuk deteksi dini, tetapi juga untuk menumbuhkan empati terhadap mereka yang mengalaminya. Di tengah kemajuan ilmu saraf dan teknologi medis, harapan pada terapi rehabilitatif serta dukungan keluarga dan lingkungan dapat membantu penderita menjalani hidup yang lebih mandiri dan bermakna, dengan kualitas hidup lebih baik.
©IKM 2025-07
Follow Dr. Indra on Instagram