Selama ini, banyak orang menganggap bahwa tubuh langsing adalah simbol kesehatan. Di media sosial, televisi, bahkan di lingkungan sehari-hari, tubuh ramping sering diidentikkan dengan gaya hidup sehat dan bebas penyakit. Namun ada fenomena bernama "skinny fat." Dalam istilah medis dikenal sebagai MONW (Metabolic Obesity Normal Weight) atau bila diterjemahkan “berat badan normal dengan obesitas metabolik.” Orang dengan kondisi ini memiliki berat badan normal, tetapi kadar lemak tubuhnya tinggi dan massa ototnya rendah. Yang mengejutkan, banyak di antara mereka memiliki kolesterol tinggi. Tidak itu saja mereka juga banyak yang memiliki tekanan darah meningkat, dan berisiko terkena diabetes dan penyakit jantung. Fenomena ini kini menjadi perhatian dunia medis karena jumlah kasusnya semakin meningkat.
Seperti dijelaskan di atas, bahwa "skinny fat" adalah istilah populer yang merujuk pada seseorang dengan berat badan normal atau bahkan kurus secara penampilan, tetapi memiliki persentase lemak tubuh yang tinggi dan massa otot yang rendah. Biasanya, lemak yang berlebihan tersebut menumpuk di bagian perut atau lemak viseral dari organ, bukan di bawah kulit. Istilah ini pertama kali diperkenalkan pada 1981 oleh ilmuan AS Dr. George A. Bray dan timnya, yang menemukan bahwa orang dengan berat badan normal pun bisa memiliki metabolisme yang mirip dengan orang obesitas.
- WHO menyatakan bahwa pada tahun 2022, lebih dari 2,5 miliar orang dewasa di dunia mengalami kelebihan berat badan atau obesitas, namun sekitar 20-25% orang dengan berat badan normal ternyata memiliki gangguan metabolik serupa obesitas.
- Studi NHANES di Amerika Serikat menunjukkan bahwa 24% orang dengan berat badan normal memiliki metabolisme yang tidak sehat.
- Penelitian di Amerika Latin menemukan prevalensi MONW mencapai 29,1% pada usia dewasa.
Data Indonesia Skinny Fat
- Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018 mencatat prevalensi obesitas sentral (pada daerah perut) di Indonesia adalah 30,4%, termasuk pada orang dengan BMI normal.
- Data dari berbagai kota besar seperti Jakarta, Surabaya, dan Bandung menunjukkan tren peningkatan lemak perut meski berat badan tetap normal.
- Penelitian di Universitas Indonesia pada 2022 menemukan bahwa 1 dari 4 orang dewasa di Jakarta yang tampak kurus ternyata memiliki kadar kolesterol tinggi dan resistensi insulin.
Ciri-ciri Umum Skinny Fat
Orang yang mengalami kondisi skinny fat umumnya menunjukkan beberapa ciri yang khas meskipun berat badannya tampak normal. Lingkar pinggang mereka cen-drunrg membesar karena adanya penumpukan lemak viseral di perut. Selain itu, kadar kolesterol LDL atau kolesterol jahat sering kali berada di atas normal, sementara kadar HDL atau kolesterol baik justru rendah. Trigliserida dalam darah juga cenderung tinggi, begitu pula dengan kadar gula darah yang mulai meningkat sebagai tanda awal terjadinya resistensi insulin. Tak hanya itu, massa otot mereka biasanya rendah, kondisi yang dikenal sebagai sarcopenia, yaitu hilangnya massa dan kekuatan otot akibat kurangnya aktivitas fisik dan asupan nutrisi yang tidak seimbang.
Penyebab Terjadinya Skinny Fat
- Gaya hidup sedentary (kurang gerak). Banyak orang yang terlihat kurus tetapi jarang bergerak atau berolahraga. Aktivitas sehari-hari yang didominasi oleh duduk berjam-jam, baik di depan komputer maupun di kendaraan, membuat tubuh kehilangan kesempatan untuk membakar kalori secara optimal. Jarang berjalan kaki, tidak melakukan olahraga rutin, apalagi latihan beban, yang akan mempercepat penyusutan massa otot dan meningkatkan akumulasi lemak viseral di area perut.
- Pola makan tidak seimbang. Meskipun seseorang makan dalam porsi kecil, jika menu hariannya didominasi oleh makanan tinggi gula, minuman manis, serta makanan olahan seperti junk food, tubuh akan cenderung menyim-pan lemak. Kurangnya asupan protein menyebabkan otot tidak mendapat cukup bahan baku untuk memper-tahankan massanya. Di sisi lain, kurangnya serat dari sayur dan buah juga membuat metabolisme tubuh melambat. Kombinasi pola makan ini menyebabkan tubuh menjadi lebih mudah menyimpan lemak, terutama di area perut, tanpa terlihat dari kenaikan berat badan secara signifikan.
- Faktor genetik dan etnis. Genetik juga memegang peran penting dalam terjadinya skinny fat. Beberapa orang memang secara alami memiliki kecenderungan untuk menyimpan lebih banyak lemak viseral dibandingkan dengan lemak subkutan (lemak di bawah kulit). Penelitian menunjukkan bahwa orang Asia, termasuk Indonesia, memiliki kecenderungan lebih tinggi untuk mengalami penumpukan lemak di perut meskipun memiliki BMI yang normal. Kondisi ini disebut dengan istilah TOFI (Thin Outside Fat Inside), yaitu tubuh tampak kurus dari luar tetapi menyimpan lemak berlebih di dalam.
- Penuaan dan perubahan hormon. Seiring bertambah-nya usia, terutama setelah memasuki usia 40-an, metabo-lisme tubuh secara alami akan melambat. Pada wanita, masa menopause menjadi salah satu faktor yang memper-cepat perubahan komposisi tubuh. Penurunan hormon estrogen menyebabkan tubuh lebih mudah menyimpan lemak, terutama di area perut. Di sisi lain, massa otot mulai berkurang secara perlahan, kondisi yang disebut sarcopenia. Pada pria, penurunan hormon testosteron juga berkontribusi terhadap hilangnya massa otot dan meningkatnya lemak tubuh. Akibatnya, meskipun berat badan tetap, proporsi lemak dan otot berubah drastis.
- Kurang tidur dan stres berlebihan. Kurang tidur, apalagi jika terjadi secara kronis, menyebabkan peningkatan hormon kortisol yang memicu tubuh untuk menyimpan lebih banyak lemak, terutama di perut. Stres yang berke-panjangan juga memiliki efek serupa. Ketika tubuh dalam kondisi stres, sistem hormonal akan memprioritaskan penyimpanan energialk dalam bentuk lemak sebagai cadangan. Hal ini seringkali terjadi tanpa disadari, karena tubuh merespon stres psikologis mirip seperti merespon ancaman fisik yang terjadi pada zaman pra sejarah.
Baca dalam artikel lainnya di Blog Dr. Indra K. Muhtadi
Meskipun terlihat sehat dari luar, orang dengan skinny fat sebenarnya menyimpan bom waktu metabolik. Berikut beberapa risikonya:
- Diabetes tipe 2: Insulin tidak bekerja efektif, menyebabkan gula darah meningkat.
- Dislipidemia: Kadar kolesterol jahat (LDL) tinggi, kolesterol baik (HDL) rendah, dan trigliserida tinggi.
- Penyakit jantung: Penumpukan plak di pembuluh darah lebih cepat terjadi.
- Hipertensi: Tekanan darah meningkat akibat resistensi insulin dan inflamasi.
- Fatty Liver (NAFLD): Lemak menumpuk di hati, meskipun tidak minum alkohol.
- Peningkatan risiko kematian dini: Studi menunjukkan bahwa orang dengan skinny fat memiliki risiko kematian akibat penyakit jantung hingga 25-31% lebih tinggi dibandingkan orang dengan berat badan normal dan metabolisme sehat.
Cara Mengukur Risiko Skinny Fat
BMI memang masih digunakan sebagai alat ukur berat badan, tetapi untuk mendeteksi skinny fat diperlukan pemeriksaan tambahan, seperti:
- Lingkar pinggang: Idealnya untuk orang Indonesia <90 cm untuk pria dan <80 cm untuk wanita.
- Persentase lemak tubuh: Dapat diukur dengan bioimpedance (alat pengukur lemak tubuh) atau DXA scan.
- Pemeriksaan Laboratorium:
- Profil lipid: LDL, HDL, trigliserida.
- Gula darah puasa dan HbA1c.
- Tes fungsi hati (untuk mendeteksi fatty liver).
Mengatasi Skinny Fat
- Latihan beban (strength training). Latihan ini penting untuk membangun massa otot dan meningkatkan metabolisme. Semakin banyak otot, semakin banyak kalori yang dibakar tubuh bahkan saat istirahat. Menurut Physical Activity Guidelines for Americans, Latihan kekuatan otot sebaiknya dilakukan minimal 2 kali per minggu, meliputi seluruh kelompok otot besar (dada, punggung, kaki, lengan, perut).
- Latihan aerobik (cardio). Latihan aerobik seperti jalan cepat, bersepeda, atau berenang membantu membakar lemak viseral. Menurut Physical Activity Guidelines for Americans, latihan aerobik sebaiknya dilakukan 150-300 menit per minggu berupa latihan aerobik intensitas sedang (jalan cepat, bersepeda).
- Pola Makan Sehat, dengan cara:
- Kurangi konsumsi gula dan karbohidrat olahan.
- Perbanyak protein dari daging tanpa lemak seperti ikan, telur, tahu, tempe, dan lain-lain.
- Konsumsi sayur dan buah.
- Hindari minuman manis.
- Hindari alkohol dan asap rokok.
- Tidur cukup. Tidur minimal 6 jam setiap malam untuk membantu mengatur hormon-hormon metabolik.
- Kelola dan manfaatkan stres. Baca dalam artikel lain tentang mengelola dan memanfaatkan stres ini.
Jangan Hanya Mengandalkan Berat Badan
Kesehatan tidak bisa diukur hanya dari angka di timbangan. Banyak orang merasa sudah cukup sehat karena berat badannya terlihat normal, namun kenyataannya tubuh mereka menyimpan kelebihan lemak tersembunyi yang justru jauh lebih berbahaya. Jika termasuk orang yang jarang olahraga, sering makan makanan olahan tinggi gula dan lemak jenuh, atau terlalu sering duduk dalam waktu lama tanpa jeda aktivitas fisik, waspadalah. Begitu pula jika merasa kurus tetapi mudah lelah, atau sudah pernah melakukan cek kesehatan dan menemukan bahwa kadar kolesterol tinggi padahal berat badan normal. Kondisi-kondisi tersebut merupakan peringatan bahwa mungkin termasuk dalam kelompok skinny fat. Oleh karena itu, penting untuk mulai memeriksa kesehatan secara menyeluruh, tidak hanya mengandalkan berat badan sebagai satu-satunya indikator. Cek komposisi tubuh, kadar lemak, gula darah, dan kolesterol secara berkala untuk me-ngetahui kondisi metabolisme tubuh secara menyeluruh.
Penutup
Fenomena skinny fat adalah masalah kesehatan masyarakat yang sering luput dari perhatian. Banyak orang masih beranggapan bahwa selama berat badan mereka tidak naik, maka kondisi kesehatannya pasti baik. Padahal kenyataannya, lemak tersembunyi di dalam tubuh, terutama di area perut dan organ dalam, dapat menjadi ancaman serius bagi kesehatan jangka panjang. Di Indonesia, dengan pola makan yang kaya gorengan, makanan tinggi gula, serta minuman manis, ditambah gaya hidup sedentary yang semakin meluas akibat kemudahan teknologi dan minimnya aktivitas fisik harian; fenomena skinny fat ini diprediksi akan terus meningkat jika tidak ada intervensi sejak dini. Pemeriksaan kesehatan menyeluruh secara rutin kesehatan secara rutin, melakukan latihan fisik yang teratur seperti dijelaskan di atas, terbukti efektif membangun massa otot sekaligus membakar lemak. Perbaiki pola makan perbaiki kualitas tidur serta kelola dan manfaatkan stres dengan baik. Ingat bahwa penampilan luar tidak selalu mencerminkan kesehatan dalam tubuh.
©IKM 2025-07
Follow Dr. Indra on Instagram