Bayangkan setiap bulan ada seorang wanita dewasa yang harus menghadapi rasa nyeri yang begitu kuat sampai rasanya ingin bolos kerja atau sekolah, atau bahkan cuma bisa berbaring meringkuk di tempat tidur. Bukan cuma sesekali, tapi terus berulang bertahun-tahun. Itulah kenyataan yang juga dialami jutaan perempuan di seluruh dunia yang hidup dengan endometriosis. Banyak orang mengira endometriosis itu cuma “nyeri haid yang lebih parah dari biasanya.” Padahal, ini adalah penyakit yang bisa mepengaruhi banyak aspek hidup; kesehatan fisik, mental, hubungan dengan pasangan, pekerjaan, bahkan rencana punya anak. Sayangnya, penyakit ini sering terlambat dikenali karena gejalanya bisa mirip dengan nyeri haid atau gangguan lain sehingga dianggap sesuatu yang wajar.
Endometriosis adalah kondisi ketika jaringan yang mirip dengan lapisan dalam rahim (endometrium) tumbuh di luar rahim. Normalnya, lapisan ini cuma ada di dalam rahim dan setiap bulan menebal, luruh saat haid, lalu terbentuk lagi. Pada endometriosis, jaringan serupa bisa ditemukan di: ovarium (indung telur), tuba falopi (saluran telur), permukaan luar rahim, dinding panggul, usus, kandung kemih, bahkan pada kasus yang sangat jarang, jaringan ini bisa ditemukan di paru-paru atau bagian tubuh lain. Yang membuat masalah, jaringan ini tetap “berperilaku” seperti dinding di dalam di rahim, yang menebal, pecah, dan berdarah mengikuti siklus bulanan. Bedanya, karena berada di luar rahim, darah dan jaringan yang luruh tidak bisa keluar lewat jalur normalnya melalui vagina. Aki-batnya, tubuh bereaksi dengan peradangan, pembentukan jaringan parut (fibrosis), dan perlengketan antar organ.
Di dunia diperkirakan sekitar 1 dari 10 wanita usia subur terkena endometriosis, alias sekitar 10–15% dari total populasi wanita usia subur. Ini setara dengan lebih dari 190 juta wanita di dunia yang hidup dengan endometriosis. Pada mereka yang bermasalah kesuburan, angka ini bisa naik tinggi, hingga hampir separuhnya mungkin mengalami endometriosis. Pada tahun 2021, laporan global mencatat ada sekitar 22 juta kasus endometriosis dengan tingkat prevalensi tersendiri menurut usia dan wilayah. Daerah dengan tingkat pembangunan sosial-ekonomi rendah cenderung punya beban endometriosis yang lebih besar. Usia yang paling terkena dampak adalah usia 25–29 tahun.
Faktor Risiko Endometriosis
Endometriosis bisa menyerang siapa saja yang punya rahim dan sedang berada di usia produktif. Tapi ada beberapa faktor yang membuat risikonya lebih tinggi. Penting diingat juga bahwa punya faktor risiko tidak berarti pasti terkena endometriosis. Banyak wanita memiliki faktor-faktor risiko tidak pernah mengalaminya, dan sebaliknya ada juga yang terkena meskipun tidak punya faktor risiko jelas.
- Riwayat keluarga yang sama memiliki endometriosis.
- Menstruasi pertama (menarche) di usia sangat muda, sebelum usia 11–12 tahun.
- Siklus haid pendek kurang dari 27 hari, membuat lebih banyak siklus dalam setahun.
- Haid lama (lebih dari 7 hari) atau sangat banyak.
- Belum pernah hamil, karena kehamilan membuat siklus haid berhenti sementara dan mengurangi risiko.
- Kelainan pada rahim atau saluran reproduksi, sepeti bentuk rahim yang berbeda dari normal atau ada hambatan pada aliran darah haid, sehingga darah mengalir balik ke panggul (retrograde menstruation).
- Penggunaan hormon tertentu dalam jangka panjang.
- Gaya hidup tertentu (dijelaskan di bawah).
Endometriosis Sering Terlambat Diketahui
Jarak waktu antara gejala pertama dan diagnosis endometriosis bisa panjang. Bahkan di Indonesia, banyak yang mengalaminya hingga 9–10 tahun sebelum terdiagnosis. Ada beberapa alasan kenapa endometriosis sering terlambat terdiagnosis:
- Gejalanya mirip penyakit lain, seperti nyeri haid, kista ovarium biasa, masalah pencernaan, gangguan dan infeksi saluran kemih, bahkan dapat disangka sindroma iritasi usus (IBS).
- Nyeri haid dianggap normal. Banyak wanita tumbuh dengan anggapan bahwa nyeri saat haid adalah hal biasa yang harus ditahan. Akibatnya, mereka tidak mencari bantuan medis sampai gejala sudah parah.
- Akses pemeriksaan yang terbatas. Di beberapa daerah akses ke dokter spesialis kandungan atau alat pemeriksaan USG transvaginal/laparoskopi masih sulit.
- Kurangnya kesadaran tenaga kesehatan sehingga tidak semua dokter langsung mencurigai endometriosis, apalagi ketika gejala pasien tidak khas.
Gejala Endometriosis
Gejala endometriosis tidak selalu sama pada semua penderitanya. Gejala yang paling sering dikeluhkan adalah nyeri panggul yang biasanya memburuk saat haid. Gejala yang perlu diwaspadai antara lain:
- Nyeri haid hebat sampai mengganggu aktivitas
- Nyeri saat/setelah berhubungan intim (dyspareunia)
- Nyeri ketika buang air besar/kecil, terutama saat haid
- Pendarahan haid yang sangat banyak atau disertai bercak di luar jadwal haid
- Perut kembung atau begah
- Sembelit atau diare yang muncul sesuai siklus haid
- Sulit untuk bisa hamil.
Baca artikel lainnya di Blog Dr. Indra K. Muhtadi
Yang membingungkan, tingkat nyeri tidak selalu sesuai dengan tingkat keparahan penyakit. Ada yang lesinya banyak tapi nyerinya ringan, ada juga yang lesinya sedikit tapi nyerinya luar biasa. Dan ada pula yang hampir tidak punya gejala sama sekali, yang disebut sebagai silent endometriosis. Tidak semua orang dengan endometriosis merasakan nyeri hebat. Biasanya baru ketahuan ketika orang tersebut menjalani pemeriksaan karena sulit hamil atau pemeriksaan medis lainnya. Silent endometriosis tetap bisa mengalami masalah kesuburan atau komplikasi lainnya. Inilah sebabnya penting untuk melakukan pemeriksaan jika ada kesulitan hamil tanpa sebab yang jelas, atau bila ada riwayat keluarga dengan endometriosis.
Dampaknya pada Kehidupan dan Kesuburan
Endometriosis tidak hanya soal nyeri. Peradangan dan perlengketan organ di panggul bisa mengganggu fungsi indung telur, menyumbat saluran telur, atau mengubah lingkungan di rahim sehingga sulit bagi embrio untuk menempel. Walaupun tidak semua penderita akan mengalami infertilitas, tapi risikonya akan meningkat. Selain itu, nyeri kronis membuat banyak wanita kehilangan hari kerja atau sekolah, menurunkan produktivitas, dan mepengaruhi hubungan dengan pasangan. Kelelahan berkepanjangan, gangguan tidur, bahkan depresi bukan hal yang jarang terjadi pada penderita endometriosis.
Kapan Mencari Pertolongan Medis
Jangan tunggu sampai kondisi endometriosis sudah menjadi tambah buruk. Segera periksakan diri jika:
- Nyeri haid, sampai tidak bisa beraktivitas normal
- Nyeri muncul setiap kali berhubungan intim
- Nyeri atau darah keluar saat buang air besar atau kecil, terutama saat haid
- Haid sangat banyak atau berlangsung lebih dari seminggu
- Sulit hamil setelah mencoba selama 1 tahun (atau 6 bulan jika usia di atas 35 tahun).
Menegakkan Diagnosis Endometriosis
Diagnosis biasanya melibatkan beberapa tahap:
- Anamnesis dan pemeriksaan fisik. Dokter akan menanyakan pola nyeri, hubungan dengan siklus haid, riwayat keluarga, dan melakukan pemeriksaan panggul.
- USG transvaginal. Ini pemeriksaan dengan probe USG yang dimasukkan ke vagina untuk melihat kondisi organ panggul. Bisa mendeteksi endometriosis di ovarium dan lokasi lainnya.
- MRI. Tidak selalu dibutuhkan, tapi berguna untuk kasus yang kompleks, misalnya jika dicurigai ada perlengketan di usus atau kandung kemih.
- Laparoskopi. Dilakukan untuk melihat langsung ke dalam rongga panggul dan, jika memungkinkan, mengangkat atau membakar jaringan endometriosis. Laparoskopi adalah cara untuk memastikan diagnosis.
Penanganan Endometriosis
Karena belum ada obat yang benar-benar menyembuhkan endometriosis, pengobatan fokus pada mengurangi nyeri, dan menangani masalah kesuburan. Antara lain:
- Obat pereda nyeri. Dokter biasa memberikan Obat antiinflamasi nonsteroid (OAINS) seperti ibuprofen untuk mengurangi nyeri haid. Lebih efektif jika diminum sehari sebelum haid dimulai.
- Terapi hormonal. Tujuannya menekan siklus haid dan pertumbuhan jaringan endometriosis, menggunakan: pil KB kombinasi, progestin dalam bentuk pil, suntikan, atau IUD hormonal, dan agonis atau antagonis GnRH, yang “mematikan” produksi estrogen sementara.
- Dua jenis operasi. Pertama operasi konservatif, yaitu mengangkat jaringan endometriosis dan melepaskan perlengketan tanpa mengangkat rahim, biasanya dengan laparoskopi. Kedua adalah hysterectomy, yaitu mengangkat rahim, kadang termasuk indung telur, biasanya sebagai pilihan terakhir jika pengobatan lain gagal dan pasien tidak berencana hamil.
- Pendekatan pendukung, seperti fisioterapi untuk otot dasar panggul, terapi perilaku kognitif (CBT) untuk mengelola nyeri, TENS (alat stimulasi listrik ringan) atau akupunktur untuk mengurangi nyeri, dll.
Peran Pola Makan dan Gaya Hidup
Beberapa penelitian menunjukkan perubahan pola makan dan gaya hidup dapat membantu mengurangi gejala. Meskipun tidak menggantikan pengobatan medis, namun modifikasi gaya hidup berikut layak untuk dijalani:
- Perbanyak makanan antiinflamasi, seperti sayur, buah, biji-bijian utuh, ikan berlemak (salmon, sarden, tuna), dan kacang-kacangan
- Kurangi daging merah dan olahan karena sering dikaitkan dengan peradangan
- Batasi makanan olahan tinggi gula dan lemak jenuh
- Olahraga ringan-sedang secara teratur yang membantu sirkulasi dan kesehatan hormon
- Cukup tidur dan kelola stres, karena dapat memicu peradangan dan membuat nyeri terasa lebih parah.
Kisah Nyata Penderita di Indonesia
Banyak wanita Indonesia berbagi cerita tentang perjalanan panjang mereka sebelum mendapat diagnosis. Ada yang bolak-balik ke dokter umum, ganti obat nyeri berkali-kali, bahkan sampai dicurigai “cuma stres” atau “terlalu lelah kerja.” Baru setelah bertemu dokter yang memahami gejala terutama spesialis kandungan, dilakukan USG atau laparoskopi, didapat diagnosis pasti. Sayangnya, perjalanan panjang ini tidak hanya menguras tenaga dan emosi, tapi juga biaya. Itulah kenapa kesadaran masyarakat dan tenaga kesehatan tentang endometriosis perlu terus ditingkatkan.
Penutup
Endometriosis adalah penyakit nyata yang memerlukan perhatian serius. Bukan cuma “nyeri haid biasa” yang bisa diabaikan. Semakin cepat dikenali, semakin besar peluang untuk mengendalikan gejalanya dan mencegah komplikasi jangka panjang. Jangan ragu mencari pertolongan medis jika gejala terasa mengganggu. Catat pola gejala yang dialami, cari dokter yang mau mendengarkan, dan pertimbangkan berbagai pilihan pengobatan yang tersedia. Dengan pengelolaan yang tepat, banyak wanita dengan endometriosis bisa tetap hidup aktif, produktif, dan merencanakan masa depan sesuai impian mereka.
©IKM 2025-08
Follow Dr. Indra on Instagram