Dr. Indra K. Muhtadi - "dokter plus"
  • Home
    • My Curriculum Vitae
    • Dr. Indra on Media
  • What's New
  • Health & Wellness Influencer & Motivator
    • Retirement Preparation from Health Point of View
    • Stres untuk Hebat
    • Health Topic Seminars
    • The Secret of Healthy Life Style
    • Company Health Management
    • Stop Smoking Course
    • Quality Service Excellent
    • Change Leadership Training and Self Improvement
    • Smile in Assertive Communication
    • Assertive Communication Skills
    • Employee Counseling for Productivity
    • Managerial Skills and Self Leadership Skills
    • Motivation and Job Satisfaction
  • Dr. Indra's Books
    • Book: "SEHAT untuk HEBAT"
    • Book: "STRES untuk HEBAT"
    • Book: "Revolusi Mental"
  • Blog: Medical Articles
    • Blog Index (A to Z)
    • Blog Index (by category)
    • Blog Articles: 2026
    • Blog Articles: 2025
    • Blog Articles: 2024
    • Blog Articles: 2023
    • Blog Articles: 2022
    • Blog Articles: 2021
    • Blog Articles: 2020
    • Blog Articles: 2019
    • Blog Articles: 2018
    • Blog Articles: 2017
    • Blog Articles: 2016
    • Blog Articles: 2015
    • Blog Articles: 2014
    • Blog Articles: 2013
    • Blog Articles: 2012
    • Blog Articles: 2011
    • Blog Articles: 2010
  • Health Consultant (Praktek)
    • Location
    • Adult Vaccination
  • Health Tips Video
  • Health Calculator
    • BMI Calculator
    • Advanced BMI Calculator
    • BMI Calculator for Children
    • Ideal Body Weight Calculator
    • Exercise Calorie Calculator
    • Daily Calorie Calculator
    • Liquid Calorie Calculator
  • Health Pictures
  • My Travel and Other Blog
  • ABN Group
  • References & Partners
  • Contact Me

Topik ke-548: Waspada ‘Hidden Sugar’ di Makanan Favorit Kita

22/8/2025

0 Comments

 
Picture
Pendahuluan
Bayangkan pada pagi hari seseorang memulai aktivitas dengan secangkir kopi kekinian, mungkin kopi susu gula aren, atau es latte yang viral di media sosial. Siangnya, makan siang kilat di kantor dengan nasi, ayam goreng tepung, ditemani dengan saus sambal. Setelah makan malam, ngemil martabak manis atau roti bakar isi coklat dan keju sambil menonton TV. Kedengarannya seperti hari biasa, tapi tanpa sadar, mungkin sudah mengkonsumsi dua hingga tiga kali lipat jumlah gula harian yang direkomenda-sikan. Masalahnya, gula itu tidak selalu terasa manis. Inilah yang disebut dengan “hidden sugar” atau gula tersembunyi.

Mengenal Gula dan “Hidden Sugar”
Gula, dalam bentuk paling sederhananya, sebenarnya adalah karbohidrat yang menjadi sumber energi utama tubuh. Gula alami banyak terdapat di buah-buahan (dalam bentuk fruktosa), susu (dalam bentuk laktosa), atau makanan nabati lainnya. Masalahnya muncul ketika tubuh mendapatkan terlalu banyak gula tambahan atau gula olahan yang sengaja ditambahkan ke dalam produk makanan dan minuman. “Hidden sugar” merujuk pada gula tambahan ini, yang sering tidak kita sadari keberadaannya, yang dapat berupa: high fructose corn syrup (sirup jagung mengandung fruktosa tinggi), sirup glukosa, invert sugar, maltose, maltodextrin, dan puluhan nama lain yang terdengar “ilmiah”, tetapi pada dasarnya tetap gula.

Kenapa “Hidden Sugar” Berbahaya
Hidden sugar menjadi berbahaya karena dapat menyebabkan beberapa hal di bawah ini:
  1. Dampak jangka pendek, seperti rasa lemas dan mudah lapar, perubahan mood (mudah marah atau cemas), konsentrasi menurun, sakit kepala, dll.
  2. Gangguan hormon. Gula berlebih membuat hormon insulin bekerja ekstra untuk menurunkan kadar gula darah. Lama-kelamaan, tubuh bisa mengalami resisten-si insulin, yang menjadi pintu masuk diabetes tipe 2.
  3. Kecanduan gula. Gula merangsang pelepasan hormon dopamin, hormon yang sama dengan yang dilepaskan saat seseorang merasa senang atau “rewarded”. Inilah alasan mengapa ada kecanduan rasa manis, mirip dengan mekanisme kecanduan nikotin atau alkohol.
  4. Penyakit kronis
  • Obesitas: Kalori berlebih dari gula, cepat disimpan dan ditumpuk dalam bentuk lemak.
  • Penyakit jantung: Gula meningkatkan peradangan dan kadar kolesterol jahat (LDL).
  • Fatty liver: Gula berlebih, terutama fruktosa, me-numpuk di hati dan menyebabkan perlemakan hati.
  • Kanker tertentu: Penelitian menunjukkan hubungan konsumsi gula berlebih dengan risiko kanker payudara, kanker usus besar, dan pankreas.

Statistik Terkini: Konsumsi Gula di Indonesia

WHO merekomendasikan maksimal 50 gram gula per hari, walaupun idealnya sebenarnya hanya 25 gram. Namun, survei Badan Pusat Statistik 2024 menunjukkan rata-rata konsumsi gula masyarakat Indonesia mencapai 67 gram per hari. Angka ini lebih tinggi pada kelompok anak muda dan remaja, terutama karena tren minuman manis dan cemilan kekinian yang menjadi salah satu penyumbang utama meningkatnya masalah diabetes, obesitas, dan penyakit metabolik di Indonesia. Secara global, International Diabetes Federation (IDF) mencatat Indonesia berada di peringkat ke-7 dunia dalam jumlah penderita diabetes, mengalahkan negara-negara maju dengan akses kesehatan yang lebih baik. Sementara menurut data Riskesdas 2023, jumlah penderita diabetes di Indonesia mencapai lebih dari 12 juta orang, dan diperkirakan melonjak drastis pada 2030 diperkirakan 12% orang Indonesia menderita diabetes; jika tidak ada perubahan pola konsumsi masyarakat.
 
Sumber-Sumber Gula Tersembunyi
Menjadi sangat penting untuk mengetahui sumber-sumber gula tersembunyi ini. Berikut adalah contoh makanan favorit kita yang sering mengandung gula tersembunyi:
  • Minuman kekinian, seperti es kopi susu gula aren, boba, Thai tea; mengandung sekitar 30-50 gram gula/porsi.
  • Minuman kemasan, seperti teh dalam kemasan, jus dalam kemasan, minuman energi; mengandung sekitar 20-40 gram gula per porsi.
  • Makanan tradisional, seperti es cendol, martabak manis, kolak; sekitar 20-40 gram gula per porsi
  • Makanan cepat saji, seperti burger, ayam goreng tepung, pizza; sekitar 10-20 gram gula per porsi.
  • Cemilan ringan, seperti popcorn rasa, keripik, biskuit; mengandung sekitar 5-10 gram gula per porsi
  • Saus dan bumbu instan, seperti saus sambal, saus tomat, kecap manis; mengandung sekitar 3-6 gram gula per sendok.
 
Penyebab Kita Mudah Tertipu
Berikut adalah alasan mengapa kita mudah tertipu:
  1. Strategi pemasaran. Industri makanan menggunakan label seperti “low fat”, “no added sugar”, atau “diet”, padahal gula tetap ada dalam bentuk lain.
  2. Label yang membingungkan. Istilah teknis seperti maltodextrin atau dextrose jarang dimengerti oleh konsumen. Padahal nama dan jenis lain dari gula.
  3. Kurangnya literasi gizi. Sebagian besar masyarakat Indonesia belum terbiasa membaca label pada kemasan makanan atau minuman yang dikonsumsi.
  4. Kebiasaan sejak kecil. Anak-anak diperkenalkan dengan makanan manis sejak dini, membuat mereka menganggap rasa manis sebagai “normal,” bahkan bersifat “rewarding.”

Baca artilkel lainnya di Blog Dr. Indra K. Muhtadi
Picture
Cara Mendeteksi Hidden Sugar
  1. Baca label gizi. Jangan hanya melihat jumlah gula per sajian. Cari istilah lain seperti glucose, syrup, corn syrup, maltose, fructose, atau sucrose. Contoh: Pada kemasan minuman teh kemasan, gula bisa disebut “high fructose corn syrup” atau “glucose syrup.”
  2. Pelajari porsi tersembunyi. Ukuran sajian pada label kadang mengecoh. Satu kemasan mungkin untuk 2–3 porsi, sehingga gula total lebih tinggi. Contoh: Minuman soda kaleng tertulis 15 gram gula per porsi, tapi kema-sannya berisi 2 porsi, artinya totalnya 30 gram gula.
  3. Kenali makanan olahan. Produk seperti roti, saus salad, granola bar, atau sereal sering mengandung gula tersembunyi walaupun tidak terasa manis. Contoh: Saus pasta kalengan bisa mengandung hingga 7 gram gula per 100 gram, padahal kita jarang mengira saus asin mengandung gula tambahan.
  4. Waspadai klaim ‘sehat’. Label seperti “low fat” atau “organic” sering menipu. Gula ditambahkan untuk menambah rasa saat lemak dikurangi. Contoh: Yogurt rendah lemak bisa mengandung 20 gram gula per porsi.
 
Cara Mengurangi Hidden Sugar
  1. Ganti minuman. Minuman manis adalah salah satu sumber gula terbesar. Beralihlah ke air mineral, infused water, atau teh tanpa gula. Contoh: Tambahkan irisan lemon, jeruk, atau daun mint ke air mineral atau teh agar terasa lebih segar tanpa tambahan gula.
  2. Kontrol porsi. Jika belum bisa langsung berhenti, mulailah dengan mengurangi jumlah atau ukuran porsi. Contoh: Minum kopi dengan ukuran kecil dengan sedikit gula (jangan ditambah gula lagi).
  3. Perbanyak serat. Serat membantu mengontrol kadar gula darah dan meningkatkan rasa kenyang sehingga mengurangi keinginan ngemil manis. Contoh: Tambahkan sayuran segar ke setiap menu makan atau pilih buah utuh dari pada jus buah kemasan.
  4. Masak sendiri. Dengan membuat sendiri, kita mengen-dalikan jumlah gula yang digunakan. Contoh: Membuat minuman segar dengan pemanis buah asli.
  5. Edukasi keluarga. Biasakan seluruh anggota keluarga, terutama anak-anak, mengenal rasa alami makanan sehat sejak dini. Contoh: Sajikan cemilan sehat seperti buah potong atau kacang panggang, bukan biskuit atau permen manis.
 
Edukasi Anak-Anak
Mengajarkan anak untuk memahami bahaya gula tersembunyi sejak dini sangat penting. Berikut beberapa langkah yang bisa dilakukan:
  • Jadi teladan. Anak meniru kebiasaan orang tua. Jika orang tua mengkonsumsi makanan sehat, anak cenderung mengikuti. Berlaku sebaliknya, bila orang tua mengkonsumsi makanan tidak sehat, anak cendrung menjadi gemar makanan tidak sehat pula.
  • Kenalkan rasa alami. Ajarkan anak menikmati rasa manis alami dari buah, bukan gula tambahan.
  • Buat proses belajar menyenangkan. Libatkan anak membaca label gizi saat belanja sebagai permainan.
  • Batasi konsumsi cemilan manis. Tetapkan jadwal khu-sus, misalnya cemilan manis hanya pada akhir pekan.
  • Diskusi santai. Jelaskan dengan bahasa sederhana mengapa terlalu banyak gula bisa membuat sakit, seperti “gigi bolong” atau “penyakit berbahaya,” dll.
 
Tips Belanja Sehat
Mengurangi gula tersembunyi juga bisa dimulai saat belanja:
  • Baca label dengan teliti. Hindari produk yang menuliskan gula sebagai salah satu tiga bahan pertama.
  • Pilih produk minim proses. Semakin sedikit diproses, semakin kecil kemungkinan mengandung gula tambahan.
  • Cari alternatif sehat. Misalnya, yogurt tanpa tambahan gula atau sereal gandum utuh (oat).
  • Beli dalam jumlah kecil. Membeli kemasan besar sering membuat konsumsi tidak terkontrol.
  • Belanja dengan daftar. Tulis kebutuhan sebelum ke supermarket agar tidak tergoda membeli cemilan manis yang tidak perlu.
 
Studi Kasus Nyata di Indonesia
  • Kasus 1: Kecanduan teh manis dalam kemasan
Seorang pria 35 tahun, berat badan 92 kg, datang dengan gula darah puasa 145 mg/dL. Setelah dievaluasi, ternyata ia minum 3 botol teh manis kemasan setiap hari. Setelah mengurangi minuman manis, berat badannya turun 7 kg dalam 6 bulan dan kadar gula darahnya kembali normal.
  • Kasus 2: Remaja dan minuman boba
Remaja 14 tahun mengalami obesitas dan pra-diabetes. Ia mengkonsumsi rata-rata 4 gelas minuman boba per minggu ditambah pula dengan kebiasaan cemilan manis setiap hari. Edukasi keluarga dan penggantian cemilan menjadi buah segar membantu menurunkan berat badan anak ini dan memperbaiki kadar gulanya.
 
Perspektif Global dan Kebijakan
Beberapa negara sudah lebih maju dalam mengatasi masalah gula. Berikut beberapa contohnya:
  • Singapura: Label peringatan harus dicantumkan untuk minuman dengan kadar gula tinggi.
  • Jepang: Edukasi gizi sejak dini di sekolah.
  • Inggris: Menerapkan pengenaan pajak untuk minuman manis (sugar tax).
Di Indonesia, Kementerian Kesehatan sudah mengkampa-nyekan “BATAS KONSUMSI 4-1-1 +1”: maksimal 4 sendok makan gula per hari, 1 sendok teh garam, 1 sendok makan minyak, plus olahraga 1 jam. Namun implementasi di lapangan masih lemah dan perlu dukungan lintas sektor.
 
Kesimpulan: Menuju Hidup yang Lebih Sehat
Gula tersembunyi ada di mana-mana, dari makanan modern hingga kuliner tradisional kita. Mengetahui di mana gula ini berada adalah langkah pertama untuk hidup lebih sehat. Mari mulai dari diri sendiri dan keluarga dengan  membaca label, kontrol porsi, edukasi anak, dan kurangi makanan olahan. Sekecil apa pun perubahan yang kita lakukan hari ini, dampaknya akan besar di masa depan. Ke-sehatan adalah investasi jangka panjang. Mari jadi konsumen cerdas, tidak terkecoh manisnya gula tersembu-nyi, dan bergerak menuju gaya hidup yang lebih sehat.

©IKM 2025-08
0 Comments



Leave a Reply.

    Home >> Medical Articles >> 2025

    Medical Articles 2025

    Picture
    Lihat daftar artikel lainnya, click pada gambar

    Picture
    Maknai stres, untuk membuat hidup menjadi lebih hebat. Baca di sini.

    Bila Anda suka dengan blog ini, silakan "like" artikelnya di bagian bawah setiap artikel dan silakan menikmati artikel lainnya pada blog tahun 2023. Click di sini.

    Picture

    Author

    Dr. Indra K. Muhtadi adalah seorang Health Influencer dan konsultan pada berbagai professional training di Indonesia.

    Sebagai dokter, ia sangat piawai memberikan konsultasi kesehatan dengan bahasa ringan sehingga membuat masalah medis menjadi sesuatu yang mudah untuk dipahami.

    Click di sini untuk berkonsultasi dengan Dr. Indra

    These Blogs are written in Bahasa Indonesia. I hope these blogs can help those who search the information about the topic discussed in the radio.  Feel free to give comments and if you need an English version of the content from these blogs, please don't hesitate to contact me.


    Instagram Follow Dr. Indra on Instagram
    Follow @indrakm

    Archives

    December 2025
    November 2025
    October 2025
    September 2025
    August 2025
    July 2025
    June 2025
    May 2025
    April 2025
    March 2025
    February 2025
    January 2025

    Categories

    All
    10000 Langkah Per Hari
    Agnosia
    Air Panas Vs. Air Dingin
    Aktivitas Fisik Vs. Olahraga
    Ancaman Tersembunyi Kesehatan Reproduksi Wanita
    Aneurisma Otak
    Antara Kebaikan Sosial & Manfaat Kesehatan
    Berat Badan Normal Tapi Kolesterol Tinggi
    Brain Rot
    Diet Menurunkan Trigliserida
    Donor Darah
    Emotional Eating
    Endometriosis
    Filosofi Sehat & Sakit Dalam Perspektif Medis & Islam
    Gangguan Kepribadian Narsistik (NPD)
    Glaucoma
    Harapan Baru Melawan Penyakit Lama
    Healthy Scam
    Human Metapneumovirus
    Insulin & Resistensi Insulin
    Jenis-Jenis Gula Dalam Makanan Kita
    Kedokteran Integratif
    Keropos Tulang Pada Wanita Menyusui
    Ketika Otak Tak Mengenali Dunia Di Sekitarnya
    Kolesterol Gak Ikut Party
    Lebaran Happy
    Lebih Dari Sekedar Minuman Hijau Kekinian
    Leptospirosis
    Makan Malam Bikin Gemuk
    Matcha
    Mengungkap Kekuatan Jahe
    Mitos Dan Fakta Cemilan Sehat
    Mitos Vs. Fakta
    MMPI
    Musuh Di Dalam Tubuh
    Myelodysplastic Syndrome
    Ngemil Cerdas
    Penyakit Jantung Bawaan
    PID
    Rahasia Di Balik Nasi Panas & Nasi Dingin
    Rahasia Hubungan Perut Dan Suasana Hati
    Robek Ligamen Lutut - ACL (Anterior Cruciate Ligament) Tear
    Saay Nyeri Haid BUkan Sekedar Nyeri Biasa
    Science Of Hype
    Siluman Pencuri Penglihatan
    Skinny Fat
    Stem Cell Untuk Kecantikan
    Stres Oksidatif
    Terapi Regeneratif Sendi
    Tes Kejiwaan Pembuka Peta Kepribadian & Gangguan Mental
    Vaksin TBC Dewasa
    Wabah "Kencing Tikus"
    Waspada 'Hidden Sugar' Di Makanan Kita


    Saya tidak mencantumkan rujukan atau sumber dari artikel yang saya tulis, karena akan menambah panjang body dari posting-an blog-nya.
    Bila ada yang memerlukan silakan hubungi saya di contac me. Saya dengan senang hati akan menginfokannya.


    Disclaimer
    All data and statements in all articles in these blogs on this website were true at the time of writing. Some update may be required.

    The Content is not intended to be a substitute for professional medical advice, diagnosis, or treatment. Always seek the advice of your physician or other qualified health provider with any questions you may have regarding a medical condition.

    Picture
    Terima kasih untuk mendukung usaha saya dan berbagi informasi
    Thank you for supporting my effort and sharing my knowledge


    Picture

    Infographic
    of the week

    Picture
    Healthy Scam, Makanan yang Membuat Kita Tertipu

    Navigation:
    Back to Blog Main Page
    Back to Blog Index

Proudly powered by Weebly