Banyak sekali wanita, termasuk di Indonesia yang masih menganggap keluhan seperti nyeri perut bagian bawah, keputihan berbau, atau pendarahan di luar siklus haid sebagai hal biasa. Sebagian bahkan memilih cuek atau hanya mengobatinya sendiri tanpa pernah mencari tahu penyebab sebenarnya. Padahal, keluhan tersebut bisa menjadi tanda awal dari penyakit serius bernama Pelvic Inflammatory Disease (PID) atau Penyakit Radang Panggul. Menurut data penelitian di Indonesia, pada tahun 2020 terdapat potensi 24.000–46.000 kasus PID setiap tahun. Angka ini belum termasuk kasus yang tidak terdiagnosis karena banyak wanita enggan atau terlambat berobat akibat stigma, keterbatasan akses, maupun kurangnya pengetahuan. Artinya, jumlah sebenarnya kasus di masyarakat kemungkinan jauh lebih tinggi.
PID adalah infeksi pada organ reproduksi dalam wanita yang mencakup rahim, leher rahim, tuba falopi (saluran yang menghubungkan ovarium dengan rahim), dan ovarium (indung telur). Infeksi ini sering kali berawal dari masuknya bakteri melalui vagina, yang kemudian naik ke organ-organ reproduksi. Proses ini tidak selalu menimbulkan gejala di awal, sehingga banyak pasien tidak menyadari bahwa dirinya sudah terkena PID. Namun bila tidak segera ditangani, PID bisa menimbulkan komplikasi serius, termasuk infertilitas atau kemandulan, kehamilan ektopik, nyeri panggul kronis, bahkan kematian bila infeksi menyebar ke seluruh tubuh atau sepsis.
Ada beberapa kondisi yang meningkatkan kemungkinan seorang wanita terkena PID:
- Usia muda dan aktif seksual, karena wanita berusia <25 tahun memiliki risiko paling tinggi.
- Memiliki banyak pasangan seksual atau pasangan yang tidak diketahui status kesehatannya.
- Riwayat penyakit menular seksual sebelumnya, terutama gonorrhea atau chlamydia.
- Riwayat PID sebelumnya, karena sekali terkena, risiko kambuh akan lebih besar.
- Penggunaan IUD yang baru dipasang tanpa dilakukan pemeriksaan infeksi terlebih dahulu.
- Salah memilih obat cuci vagina yang dapat mengganggu flora normal, memudahkan bakteri naik ke rahim.
Gejala PID
PID sering disebut sebagai “silent disease” karena bisa tidak menimbulkan gejala pada sebagian wanita. Namun, bila gejala muncul, tanda-tanda berikut perlu diwaspadai:
- Nyeri perut bagian bawah (gejala paling umum).
- Nyeri saat berhubungan seksual atau setelahnya.
- Demam ringan hingga tinggi.
- Keputihan berbau tidak sedap, berwarna kuning atau kehijauan.
- Pendarahan di luar siklus haid, termasuk setelah berhubungan.
- Nyeri saat buang air kecil.
- Kelelahan atau rasa lemas berkepanjangan.
PID dan Perubahan Keputihan
Salah satu tanda yang sering dikeluhkan pasien PID adalah perubahan pada keputihan. Dalam kondisi normal, cairan vagina berwarna bening atau putih susu, berbau normal, dan jumlahnya wajar. Pada PID, keputihan bisa berubah menjadi kuning atau hijau, lebih kental dan lebih banyak dari biasanya, dan berbau sangat amis atau busuk. Sayangnya, perubahan keputihan sering kali disalahartikan sebagai infeksi jamur atau bakteri biasa yang dapat membuat diagnosis PID terlambat ditegakkan, sementara infeksi sudah terlanjur menyebar ke organ panggul.
Komplikasi PID
Sekilas, PID tampak seperti infeksi biasa. Namun perbedaannya terletak pada dampak jangka panjangnya, karena PID dapat menyebabkan komplikasi seperti:
- Kerusakan organ reproduksi melalui peradangan kronis dan pembentukan jaringan parut, sehingga menyebab-kan infertilitas atau kemandulan. Ini adalah komplikasi PID yang paling serius. Menurut Centers for Disease Control and Prevention (CDC) di AS, 1 dari 8 wanita dengan riwayat PID akan mengalami kesulitan hamil.
- Peningkatan risiko kehamilan ektopik yaitu kondisi ketika janin berkembang di luar rahim. Pada PID paling sering di tuba falopi, karena sel telur yang sudah dibuahi tertahan pada tuba falopi yang rusak. Kondisi bisa menyebabkan perdarahan hebat dan dapat sampai mengancam jiwa ibu.
- Kondisi nyeri panggul kronis yang mengurangi kualitas hidup sehari-hari. Rasa nyeri ini disebabkan oleh peradangan berkepanjangan dan terbentuknya perlengketan di sekitar organ reproduksi.
- Terjadi abses di dalam panggul karena PID bisa menyebabkan terbentuknya abses tubo-ovarium, yaitu kantung berisi nanah di tuba falopi atau ovarium. Abses ini bisa membesar, menimbulkan nyeri hebat, bahkan pecah. Bila pecah, infeksi bisa menyebar ke rongga perut (peritonitis) dan menyebabkan kondisi darurat yang memerlukan operasi segera.
- Dan akhirnya dapat menyebabkan sepsis yaitu ketika infeksi sudah menyebar ke seluruh tubuh melalui aliran darah. Sepsis bisa menyebabkan kegagalan organ multiple dan berujung pada kematian.
Baca artikel lain di Blog Dr. Indra K. Muhtadi
Selain komplikasi medis, PID juga memiliki dampak sosial dan psikologis yang tidak kalah berat. Banyak pasien PID merasa malu untuk memeriksakan diri karena penyakit ini sering dikaitkan dengan perilaku seksual. Padahal, PID tidak selalu berasal dari PMS. Banyak pasien yang terkena meski hanya memiliki satu pasangan atau bahkan tanpa riwayat PMS sebelumnya. Stigma ini membuat pasien menunda pemeriksaan, yang justru akan memperburuk kondisinya. Kemudian bila sampai terjadi infertilitas, maka penderita akan menghadapi tekanan sosial maupun keluarga. Tidak jarang memicu masalah rumah tangga bahkan perceraian.
Diagnosis PID
PID bukanlah penyakit yang mudah didiagnosis. Gejalanya sering kali tidak khas, tumpang tindih dengan penyakit lain seperti infeksi saluran kemih, endometriosis, infeksi vagina, dll. Bahkan, ada pasien PID yang sama sekali tidak menunjukkan gejala sampai komplikasi muncul. PID adalah salah satu diagnosis banding paling menantang di bidang ginekologi, karena tidak ada satu pemeriksaan pun yang bisa memastikan diagnosis dengan cepat. Diagnosis biasanya ditegakkan berdasarkan kombinasi gejala, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang.
Pemeriksaan Penunjang
Untuk mendukung diagnosis, beberapa pemeriksaan tambahan dapat dilakukan:
- Laparoskopi: yang merupakan “gold standard” untuk diagnosis PID. Bisa juga sekaligus digunakan sebagai tindakan terapi bila ditemukan abses atau perleng-ketan. Namun, karena invasif dan mahal, laparoskopi tidak dilakukan secara rutin pada semua pasien.
- Tes swab serviks dan vagina: untuk mendeteksi adanya infeksi gonorrhea atau chlamydia. Namun hasil negatif pada swab tidak otomatis menyingkirkan PID, karena infeksi bisa sudah naik ke organ panggul meski bakteri tidak lagi terdeteksi di serviks dan vagina.
- Tes darah: untuk melihat adanya peningkatan jumlah sel darah putih sebagai tanda adanya infeksi.
- Tes urin: untuk membantu menyingkirkan kemung-kinan infeksi saluran kemih.
- Pemeriksaan imaging: Dilakukan setelah infeksi menyebar untuk menilai sejauh mana sebarannya.
- USG Transvaginal: dapat menunjukkan adanya abses, cairan di rongga panggul, atau perlengketan. Namun, USG hanya bisa mendeteksi PID bila infeksi sudah cukup lanjut.
- CT Scan: bisa mendeteksi abses atau komplikasi lain di rongga panggul.
- MRI: Mampu melihat detail peradangan pada serviks, endometrium, tuba, dan ovarium.
Tata Laksana PID
1. Antibiotik. Terapi utama PID adalah antibiotik kombinasi. Karena sulit menentukan bakteri penyebab secara pasti, dokter biasanya memberikan antibiotik spektrum luas yang mencakup berbagai kemungkinan bakteri.
2. Rawat inap. Kasus PID berat memerlukan perawatan di rumah sakit. Indikasinya antara lain: pasien hamil, tidak membaik dengan terapi oral, mengalami abses panggul, mengalami mual muntah sehingga tidak bisa minum obat.
3. Operasi. Jarang diperlukan, tetapi bisa dilakukan bila: abses tubo-ovarium pecah, abses tidak mengecil dengan antibiotik, ada terjadi komplikasi berat seperti peritonitis.
4. Pengobatan pasangan seksual. PID sering kali disebabkan oleh PMS. Karena itu, pasangan seksual pasien juga harus diperiksa dan diobati meskipun tidak memiliki gejala. Bila pasangan tidak diobati, pasien bisa terinfeksi ulang.
5. Larangan hubungan seksual. Pasien dianjurkan tidak melakukan hubungan seksual sampai pengobatan selesai dan dinyatakan sembuh oleh dokter. Hal ini penting untuk mencegah infeksi berulang.
PID Tidak Boleh Dibiarkan Sembuh Sendiri
Beberapa pasien mungkin berpikir infeksi akan hilang dengan sendirinya. Memang, ada kasus langka di mana sistem imun melawan infeksi tanpa antibiotik. Namun, menurut para ahli, hal ini sangat jarang terjadi dan justru berbahaya. PID yang tidak diobati bisa menyebabkan kerusakan permanen. Antibiotik mungkin bisa membunuh bakteri, tetapi tidak bisa memperbaiki kerusakan yang sudah terjadi pada organ reproduksi. Oleh karena itu, semakin cepat penanganan, semakin besar peluang untuk mencegah komplikasi jangka panjang.
Pencegahan PID
PID bisa diobati, tetapi kerusakan permanen yang ditimbulkannya sering tidak dapat diperbaiki. Jaringan parut di tuba falopi, infertilitas, nyeri kronis; semua ini tetap ada walaupun bakteri penyebabnya sudah hilang. Itulah sebabnya pencegahan jauh lebih baik dibanding pengobatan. Berikut adalah cara pencegahan PID:
- Praktik seks yang aman dan sesuai norma agama.
- Skrining dan deteksi dini dilakukan pada wanita usia di bawah 25 tahun yang aktif secara seksual. Pasangan seksual juga perlu ikut diperiksa.
- Hindari douching (cuci vagina) ber-pH tinggi yang dapat mengganggu keseimbangan flora normal vagina.
- Memastikan tidak ada infeksi saat pemasangan IUD.
- Segera berobat jika ada gejala seperti uraian di atas.
PID Cermin Kesehatan Reproduksi Wanita Indonesia
Kasus PID mengingatkan kita bahwa kesehatan reproduksi wanita masih memiliki tantangan besar di Indonesia. Ada tiga hal utama pengingat penting:
- PID adalah penyakit umum tetapi sering diabaikan.
Ribuan kasus terjadi setiap tahun, tetapi banyak yang tidak terdiagnosis. - Infeksi ini bisa terjadi pada setiap wanita, tidak mengenal batas usia, status sosial, atau latar belakang.
- PID berdampak luas. Tidak hanya mengancam kesehatan fisik, tetapi juga kesuburan, psikologis, dan kehidupan sosial wanita.
- PID bisa dicegah. Dengan edukasi yang tepat, layanan kesehatan yang lebih merata, serta hilangnya stigma, angka PID bisa ditekan secara signifikan.
©IKM 2025-09
Follow Dr. Indra on Instagram