Dr. Indra K. Muhtadi - "dokter plus"
  • Home
    • My Curriculum Vitae
    • Dr. Indra on Media
  • What's New
  • Health & Wellness Influencer & Motivator
    • Retirement Preparation from Health Point of View
    • Stres untuk Hebat
    • Health Topic Seminars
    • The Secret of Healthy Life Style
    • Company Health Management
    • Stop Smoking Course
    • Quality Service Excellent
    • Change Leadership Training and Self Improvement
    • Smile in Assertive Communication
    • Assertive Communication Skills
    • Employee Counseling for Productivity
    • Managerial Skills and Self Leadership Skills
    • Motivation and Job Satisfaction
  • Dr. Indra's Books
    • Book: "SEHAT untuk HEBAT"
    • Book: "STRES untuk HEBAT"
    • Book: "Revolusi Mental"
  • Blog: Medical Articles
    • Blog Index (A to Z)
    • Blog Index (by category)
    • Blog Articles: 2026
    • Blog Articles: 2025
    • Blog Articles: 2024
    • Blog Articles: 2023
    • Blog Articles: 2022
    • Blog Articles: 2021
    • Blog Articles: 2020
    • Blog Articles: 2019
    • Blog Articles: 2018
    • Blog Articles: 2017
    • Blog Articles: 2016
    • Blog Articles: 2015
    • Blog Articles: 2014
    • Blog Articles: 2013
    • Blog Articles: 2012
    • Blog Articles: 2011
    • Blog Articles: 2010
  • Health Consultant (Praktek)
    • Location
    • Adult Vaccination
  • Health Tips Video
  • Health Calculator
    • BMI Calculator
    • Advanced BMI Calculator
    • BMI Calculator for Children
    • Ideal Body Weight Calculator
    • Exercise Calorie Calculator
    • Daily Calorie Calculator
    • Liquid Calorie Calculator
  • Health Pictures
  • My Travel and Other Blog
  • ABN Group
  • References & Partners
  • Contact Me

Topik ke-551: Emotional Eating, Mengapa Kita Lapar pas Lagi Stres

23/9/2025

0 Comments

 
Picture
Pendahuluan
Pernahkah Anda membuka lemari tempat penyimpanan makanan lalu mengemil makanan ringan, atau menghabis-kan sebungkus coklat ketika sedang jengkel, sedih, bosan, atau sedang merayakan sesuatu? Jika iya, Anda tidak sendirian. Banyak orang memakai makanan sebagai cara meredakan perasaan. Tindakan ini biasa disebut emotional eating atau makan karena emosi. Yaitu aktivitas makan dilakukan untuk merespons perasaan, bukan karena tubuh membutuhkan energi. Konsep ini sederhana, tetapi dampak dan mekanismenya kompleks, dimana dapat memberi kenyamanan sementara, tetapi sering tidak menyelesaikan masalah emosional yang mendasarinya.

Mengenal Emotional Eating
Emotional eating adalah perilaku makan yang didorong oleh emosi, baik emosi positif maupun negatif. Misalnya makan untuk meredakan stres, kesepian, kebosanan, atau untuk merayakan kegembiraan. Jadi bukan aktivitas makan biasa yang didasari oleh sinyal fisiologis rasa lapar. Perilaku emotional eating ini sering cepat, impulsif, dan berfokus pada makanan yang memberi kenikmatan sensorik. Biasanya makanan yang manis, gurih, dan lembut. Pelakunya tidak berfokus pada kebutuhan gizi. Penting juga untuk dipahami bahwa emotional eating berbeda dari gangguan makan secara klinis seperti binge eating disorder. Meskipun emotional eating berulang dan intens dapat juga menjadi tanda dan awal masalah makan yang lebih berat.

Makanan Terasa Menjadi 'Obat' Saat Stres
Berikut adalah beberapa alasan dan mekanisme di dalam tubuh, mengapa makanan dapat memberi rasa nyaman:
  • Dopamin dan reward system otak. Makanan enak (terutama yang tinggi gula/lemak) memicu pelepasan dopamin, neurotransmitter yang terlibat pada rasa senang (pleasure/reward). Ini membuat perilaku makan terasa 'menguntungkan' secara neurologis. Kombinasi biologis + psikologis ini dapat membentuk kebiasaan.
  • Pengkondisian dan kebiasaan. Jika sejak kecil seseorang diasosiasikan makanan dengan kenyamanan, seperti contohnya anak diberi kue ketika menangis, maka pola ini bisa terinternalisasi sampai dewasa. Maka saat emo-si muncul, respon otomatis adalah mencari makanan.
  • Regulasi emosi yang lemah / alexithymia. Beberapa orang sulit mengenali atau mengelola emosi, yang dikenal dengan istilah alexithymia atau emotion dysregulation. Penderitanya alih-alih menghadapi emosi, mereka menggunakan makanan untuk mengurangi ketidaknyamanan.
  • Hormon dan stres kronis. Stres berkepanjangan memengaruhi hormon cortisol terkait sistem tubuh yang mengatur reaksi terhadap tekanan. Hormon ini bisa membuat kita merasa lebih sering lapar atau ngidam makanan berkalori tinggi seperti yang manis dan berlemak. Jadi ketika stres terus-menerus, banyak orang cenderung makan untuk 'menghibur' diri.
  • Ketersediaan makanan dan lingkungan. Di era modern, makanan enak tersedia di mana-mana. Apalagi dengan pengaruh iklan, mudah didapatkan, kemasan besar, dan budaya makan sambil menonton, memudahkan konsumsi berlebihan tanpa sadar. Hal ini disebut sebagai ‘lingkungan mempermudah cue-trigger’ atau ‘lingkungan menjadi pencetus.’
 
Faktor Pemicu Emotional Eating
Emotional eating sering berinteraksi dengan pola diet sebelumnya, dimana orang yang sering melakukan diet ketat rentan mengalami episode emotional eating karena mekanisme fisiologis dan psikologis. Berikut adalah pemicu emotional eating yang paling sering dilaporkan:
  1. Stres kerja / deadline. Merupakan yang paling umum, dimana makan menjadi pelarian cepat.
  2. Perasaan sedih, kecewa, cemas. Makan menjadi cara untuk 'mengisi kekosongan'.
  3. Bosan. Makan menjadi aktivitas pengalih.
  4. Kebiasaan sosial dan budaya. Makanan sebagai hadiah atau penghibur (reward).
  5. Diet ketat. Ironisnya, pembatasan ketat lama-kelamaan akan dapat meningkatkan kejadian emotional eating yang muncul dari rasa tertekan.
 
Dampak Emotional Eating
  • Jangka pendek. Emotional eating memang bisa memberikan rasa senang atau tenang sesaat. Namun setelah itu sering muncul rasa bersalah atau penyesalan, apalagi bila makanan yang dikonsumsi tinggi gula dan lemak. Efeknya juga bisa menyebabkan lonjakan gula darah sementara yang berujung pada rasa lemah atau perubahan suasana hati.
  • Jangka panjang. Bila kebiasaan ini terus berulang, risiko yang ditimbulkan lebih serius. Berat badan cenderung naik, metabolisme tubuh bisa terganggu, dan mening-katnya kemungkinan berkembang ke kondisi seperti pre-diabetes atau diabetes tipe 2. Selain itu, hubungan seseorang dengan makanan juga bisa menjadi tidak sehat. Akan muncul pola makan yang kacau atau tidak teratur. Pada sebagian orang, bahkan dapat berkembang menjadi binge eating disorder.
 
Lapar Emosional vs. Lapar Fisik
Antara lapar emosional seperti uraian di atas dan lapar fisik harus dapat dibedakan, dan ternyata cara membedakannya cukup praktis. Dengan mengetahui perbedaannya akan membantu agar kita punya jeda sebelum otomatis mencari makanan saat keinginan untuk makan muncul. Berikut tanda-tandanya:
Picture
Lapar fisik
  • Muncul perlahan.
  • Terkait waktu sejak makan terakhir.
  • Bisa diatasi dengan berbagai jenis makanan (tidak spesifik).
  • Hilang setelah kenyang.
Lapar emosional
  • Datang tiba-tiba, dan keinginannya intens.
  • Biasanya menginginkan makanan spesifik (mis. gorengan, manis/makanan energi tinggi lainnya).
  • Tetap ingin makan walau sudah kenyang; dan aktivitas makannya cepat dan penuh emosi.
  • Sering diikuti rasa bersalah atau malu setelahnya.
 
Mindful Eating
Lawan dari emotional eating adalah mindful eating. Merupakan praktik memperbesar kesadaran terhadap sinyal tubuh (lapar/kenyang), perasaan yang muncul saat makan, serta kebiasaan lingkungan yang mendorong makan. Pelatihan mindful eating dapat dilakukan dalam kelompok dengan program 8–12 minggu, atau secara mandiri lewat latihan singkat harian. Bukti menunjukkan bahwa mindful eating dapat mengurangi frekuensi emotional eating dan membantu mencegah binge eating disorder. Mindful eating paling efektif bila dikombinasikan dengan strategi lain seperti dukungan psikologis, perubahan lingkungan, dll.
 
Dua Mitos yang Sering Muncul
Ada 2 mitos yang sering muncul tentang emotional eating vs. mindful eating:
  1. "Emotional eating hanya masalah emosi" — Salah. Ada faktor biologis, perkembangan, dan lingkungan. Penanganannya perlu strategi konkret.
  2. "Mindful eating pasti bisa menurunkan berat badan secara banyak" — Tidak selalu. Mindful eating membantu mengubah perilaku makan dan bisa membantu manajemen berat, tetapi hasilnya dan bervariasi. Harus dikombinasikan dengan strategi lain.
 
Cara Mengatasi Emotional Eating
  1. Membuat jurnal emosi vs. makanan. Catat kapan Anda makan tanpa lapar: apa situasinya, bagaimana perasaan Anda (stres, bosan, sedih), apa yang Anda makan, dan apa yang Anda lakukan setelahnya. Tujuan: identifikasi pola pemicu dan buka ruang refleksi. Ini teknik yang sering dianjurkan dalam praktik klinis.
  2. Teknik jeda. Buat jarak antara impuls dan tindakan. Saat timbul keinginan makan mendadak, lakukan ritual jeda: hitung napas 5 kali, minum segelas air, atau jalan singkat 5–10 menit. Seringkali impuls itu mereda. Teknik ini mengurangi keputusan impulsif.
  3. Mindful eating. Yaitu makan dengan penuh perhatian: dengan memperlambat laju makan, mengamati rasa/tekstur, dan mengenali sinyal kenyang. Ini membantu membedakan rasa lapar jenis fisik vs emosional seperti penjelasan di atas dan mengurangi makan impulsif. Meta-analisis dari penelitian menunjukkan mindful/intuitive eating mengurangi makan karena stres dan perubahan fungsi otak terkait hormon dopamin tentang reward dan sinyal tubuh. Langkah latihan praktis mindful eating:
  • Matikan layar gadget dan makan di piring.
  • Ambil satu gigitan dan kunyah perlahan.
  • Perhatikan rasa, tekstur, bau.
  • Tanyakan pada diri: “Apakah makanan ini benar-benar diperlukan sekarang?”
  • Berhenti sejenak di tengah makan; cek level kenyang sebelum meneruskan atau berhenti.
  1. Rencanakan pola makan teratur. Misalnya dengan 3 kali makan + 1–2 snack sehat akan membantu menstabilkan gula darah dan mengurangi ‘empathy gap' yaitu kekhawatiran akan nantinya merasa lapar bila tidak makan. Mengetahui ada jadwal juga dapat membantu menunda impuls.
  2. Ganti aktivitas makan untuk menyenangkan diri. Siap-kan alternatif saat dorongan makan muncul: jalan singkat, minum teh tawar hangat, telpon teman 5 menit, tarik napas, dll. Intinya adalah sediakan opsi non-makanan yang cepat dan mudah.
  3. Olahraga ringan / aktivitas fisik. Gerak tubuh memban-tu menurunkan hormon stres dan menaikkan mood melalui endorfin. Bahkan jalan 10 menit atau stretching dapat menurunkan dorongan makan emosional.
  4. Dapatkan dukungan profesional. Bila emotional eating sering terjadi, atau telah mengarah ke pola makan berbahaya, carilah bantuan profesional. Pendekatan seperti CBT (cognitive behavioral therapy) dan intervensi mindfulness terbukti membantu kasus sedang hingga berat.
 
Kapan Mencari Bantuan Profesional
Pertimbangkan untuk mencari bantuan profesional bila:
  • Emotional eating mengganggu fungsi sehari-hari.
  • Mengalami episode makan berlebihan yang tidak terkendali atau muncul perilaku makan sebagai kompensasi.
  • Terjadi perubahan berat badan yang drastis atau masalah kesehatan terkait makan.
Di Indonesia, dengan mekanisme rujukan BPJS, masalah emotional eating bisa mendapatkan rujukan dari dokter keluarga ke psikolog klinis atau dokter ahli gizi di PPK lanjutan. Dapat juga mengikuti kursus-kursus online yang sekarang banyak tersedia, seperti MBI (mindfulness-based interventions) yang terbukti membantu.
 
Kesimpulan
Emotional eating adalah kebiasaan makan yang dipicu oleh emosi, bukan karena kebutuhan energi tubuh. Ada banyak faktor yang menyebabkannya, mulai dari aspek biologis, psikologis, hingga lingkungan sekitar. Untuk mengatasinya, berbagai teknik dapat diterapkan, seperti menulis jurnal, memberi jeda sebelum makan, menerapkan mindful eating, menjaga jadwal makan teratur, melakukan aktivitas fisik, serta mencari dukungan profesional bila diperlukan. Bahkan langkah sederhana seperti berjalan kaki 5–10 menit atau minum segelas air ketika muncul dorongan untuk makan dapat membantu. Pada akhirnya, tujuan bukanlah meniadakan makanan sebagai sumber kenyamanan sama sekali, melainkan membuat pilihan dengan lebih sadar, kapan makanan memang pantas menjadi cara untuk menenangkan diri, dan kapan sebaiknya mencari alternatif yang lebih sehat.

©IKM 2025-09
0 Comments



Leave a Reply.

    Home >> Medical Articles >> 2025

    Medical Articles 2025

    Picture
    Lihat daftar artikel lainnya, click pada gambar

    Picture
    Maknai stres, untuk membuat hidup menjadi lebih hebat. Baca di sini.

    Bila Anda suka dengan blog ini, silakan "like" artikelnya di bagian bawah setiap artikel dan silakan menikmati artikel lainnya pada blog tahun 2023. Click di sini.

    Picture

    Author

    Dr. Indra K. Muhtadi adalah seorang Health Influencer dan konsultan pada berbagai professional training di Indonesia.

    Sebagai dokter, ia sangat piawai memberikan konsultasi kesehatan dengan bahasa ringan sehingga membuat masalah medis menjadi sesuatu yang mudah untuk dipahami.

    Click di sini untuk berkonsultasi dengan Dr. Indra

    These Blogs are written in Bahasa Indonesia. I hope these blogs can help those who search the information about the topic discussed in the radio.  Feel free to give comments and if you need an English version of the content from these blogs, please don't hesitate to contact me.


    Instagram Follow Dr. Indra on Instagram
    Follow @indrakm

    Archives

    December 2025
    November 2025
    October 2025
    September 2025
    August 2025
    July 2025
    June 2025
    May 2025
    April 2025
    March 2025
    February 2025
    January 2025

    Categories

    All
    10000 Langkah Per Hari
    Agnosia
    Air Panas Vs. Air Dingin
    Aktivitas Fisik Vs. Olahraga
    Ancaman Tersembunyi Kesehatan Reproduksi Wanita
    Aneurisma Otak
    Antara Kebaikan Sosial & Manfaat Kesehatan
    Berat Badan Normal Tapi Kolesterol Tinggi
    Brain Rot
    Diet Menurunkan Trigliserida
    Donor Darah
    Emotional Eating
    Endometriosis
    Filosofi Sehat & Sakit Dalam Perspektif Medis & Islam
    Gangguan Kepribadian Narsistik (NPD)
    Glaucoma
    Harapan Baru Melawan Penyakit Lama
    Healthy Scam
    Human Metapneumovirus
    Insulin & Resistensi Insulin
    Jenis-Jenis Gula Dalam Makanan Kita
    Kedokteran Integratif
    Keropos Tulang Pada Wanita Menyusui
    Ketika Otak Tak Mengenali Dunia Di Sekitarnya
    Kolesterol Gak Ikut Party
    Lebaran Happy
    Lebih Dari Sekedar Minuman Hijau Kekinian
    Leptospirosis
    Makan Malam Bikin Gemuk
    Matcha
    Mengungkap Kekuatan Jahe
    Mitos Dan Fakta Cemilan Sehat
    Mitos Vs. Fakta
    MMPI
    Musuh Di Dalam Tubuh
    Myelodysplastic Syndrome
    Ngemil Cerdas
    Penyakit Jantung Bawaan
    PID
    Rahasia Di Balik Nasi Panas & Nasi Dingin
    Rahasia Hubungan Perut Dan Suasana Hati
    Robek Ligamen Lutut - ACL (Anterior Cruciate Ligament) Tear
    Saay Nyeri Haid BUkan Sekedar Nyeri Biasa
    Science Of Hype
    Siluman Pencuri Penglihatan
    Skinny Fat
    Stem Cell Untuk Kecantikan
    Stres Oksidatif
    Terapi Regeneratif Sendi
    Tes Kejiwaan Pembuka Peta Kepribadian & Gangguan Mental
    Vaksin TBC Dewasa
    Wabah "Kencing Tikus"
    Waspada 'Hidden Sugar' Di Makanan Kita


    Saya tidak mencantumkan rujukan atau sumber dari artikel yang saya tulis, karena akan menambah panjang body dari posting-an blog-nya.
    Bila ada yang memerlukan silakan hubungi saya di contac me. Saya dengan senang hati akan menginfokannya.


    Disclaimer
    All data and statements in all articles in these blogs on this website were true at the time of writing. Some update may be required.

    The Content is not intended to be a substitute for professional medical advice, diagnosis, or treatment. Always seek the advice of your physician or other qualified health provider with any questions you may have regarding a medical condition.

    Picture
    Terima kasih untuk mendukung usaha saya dan berbagi informasi
    Thank you for supporting my effort and sharing my knowledge


    Picture

    Infographic
    of the week

    Picture
    Healthy Scam, Makanan yang Membuat Kita Tertipu

    Navigation:
    Back to Blog Main Page
    Back to Blog Index

Proudly powered by Weebly