Dr. Indra K. Muhtadi - "dokter plus"
  • Home
    • My Curriculum Vitae
    • Dr. Indra on Media
  • What's New
  • Health & Wellness Influencer & Motivator
    • Retirement Preparation from Health Point of View
    • Stres untuk Hebat
    • Health Topic Seminars
    • The Secret of Healthy Life Style
    • Company Health Management
    • Stop Smoking Course
    • Quality Service Excellent
    • Change Leadership Training and Self Improvement
    • Smile in Assertive Communication
    • Assertive Communication Skills
    • Employee Counseling for Productivity
    • Managerial Skills and Self Leadership Skills
    • Motivation and Job Satisfaction
  • Dr. Indra's Books
    • Book: "SEHAT untuk HEBAT"
    • Book: "STRES untuk HEBAT"
    • Book: "Revolusi Mental"
  • Blog: Medical Articles
    • Blog Index (A to Z)
    • Blog Index (by category)
    • Blog Articles: 2025
    • Blog Articles: 2024
    • Blog Articles: 2023
    • Blog Articles: 2022
    • Blog Articles: 2021
    • Blog Articles: 2020
    • Blog Articles: 2019
    • Blog Articles: 2018
    • Blog Articles: 2017
    • Blog Articles: 2016
    • Blog Articles: 2015
    • Blog Articles: 2014
    • Blog Articles: 2013
    • Blog Articles: 2012
    • Blog Articles: 2011
    • Blog Articles: 2010
  • Health Consultant (Praktek)
    • Location
    • Adult Vaccination
  • Health Tips Video
  • Health Calculator
    • BMI Calculator
    • Advanced BMI Calculator
    • BMI Calculator for Children
    • Ideal Body Weight Calculator
    • Exercise Calorie Calculator
    • Daily Calorie Calculator
    • Liquid Calorie Calculator
  • Health Pictures
  • My Travel and Other Blog
  • ABN Group
  • References & Partners
  • Contact Me

Topik ke-556: Jenis-Jenis Gula dalam Makanan Kita

14/11/2025

0 Comments

 
Picture
Pendahuluan
Di Indonesia, kita hidup di tengah budaya kuliner yang manis. Dari teh manis, es kopi susu kekinian yang manis, martabak manis, hingga sambal botolan dan berbagai macam saus dan dressing. Gula ada di mana-mana. Kita bahkan menikmati gula tanpa sadar, karena banyak sekali makanan yang tidak terasa manis, tapi diam-diam mengandung gula tambahan. Di sisi lain, masalah kesehatan akibat konsumsi gula berlebih semakin meningkat, seperti diabetes, obesitas semakin umum, dan penyakit seperti fatty liver kini ditemukan bahkan pada orang yang tidak minum alkohol. Di tengah fenomena ini, muncul banyak kebingungan dan banyak pertanyaan tentang gula di dalam makanan kita.

Gula, Kawan Karib yang Sering Menjebak
Pertanyaan yang sering muncul seperti: Apakah fruktosa itu “gula buah yang sehat”? Apakah madu lebih baik dari gula pasir? Apa bedanya gula aren, gula merah, dan brown sugar? Bagaimana dengan pemanis rendah kalori seperti stevia atau sucralose? Dan mana yang sebenarnya lebih berbahaya untuk tubuh? Untuk menjawabnya maka harus dipahami dulu mengenai gula yang sangat banyak terdapat di dalam makanan keseharian kita, termasuk di Indonesia. Karena yang paling berbahaya adalah apa yang kita tidak tahu. Dan walaupun rasanya manis dan menenangkan, tapi kawan karib yang menemani kita sehari-hari ini sering menjadi jebakan kesehatan tubuh kita.

Mengenal Gula
Pada dasarnya, “gula” adalah bentuk karbohidrat sederhana yang menjadi salah satu sumber energi tubuh. Secara kimia, gula adalah monosakarida atau disakarida, Artinya bisa terdiri dari satu unit gula atau dua unit gula yang saling terikat. Setiap jenis gula memiliki cara penyerapan, perjalanan, dan dampak yang berbeda pada tubuh. Karena itu, penting memahami jenis-jenis gula, bukan hanya sekedar menghitung jumlahnya. Dari sumbernya, gula terbagi menjadi dua, yaitu gula alami (natural sugar) dan gula tambahan (added sugar).
1. Gula alami, yaitu gula yang secara alami terdapat dalam bahan makanan, seperti:
  • glukosa dalam hampir semua makanan yang mengandung karbohidrat,
  • fruktosa dalam buah,
  • laktosa dalam susu.
2. Non gula alami, yaitu gula yang ditambahkan selama proses pembuatan makanan, baik gula pasir, gula cair, sirup gula, maupun pemanis buatan. Masalah kesehatan masyarakat modern terutama berasal dari gula tambahan ini, karena jumlahnya yang berlebihan dan konsumsinya yang tidak disadari.

Jenis-Jenis Gula
Gula dari struktur kimianya terdiri dari monosakarida dan disakarida. Yang termasuk monosakarida adalah glukosa, fruktosa, dan galaktosa. Sementara maltosa, laktosa, dan sukrosa termasuk disakarida. Disakarida memiliki 2 molekul monosakarida yang dihubungkan oleh ikatan kovalen.

1. Glukosa. Adalah “gula utama” yang digunakan tubuh sebagai “bahan bakar”, yang langsung diserap ke dalam darah dan digunakan oleh sel-sel tubuh sebagai sumber energi. Sumber glukosa pada makanan contohnya nasi, roti, mie, kentang dan umbi-umbian, buah-buahan, dll.

2. Fruktosa
. Adalah jenis gula yang ditemukan pada buah-buahan, madu, dan sebagian sayuran. Fruktosa sering dianggap “sehat”, karena berasal dari buah. Padahal, secara metabolik fruktosa lebih memberatkan  kerja hati dibanding glukosa. Karena fruktosa hampir seluruhnya diproses oleh hati, dan bila terlalu banyak, dapat mencetus fatty liver. Sebenarnya fruktosa yang berasal dari buah utuh aman; karena jumlahnya tidak besar. Yang berbahaya adalah fruktosa tambahan di makanan kita yang biasa terdapat dalam bentuk:
  • High fructose corn syrup (HFCS),
  • Sirup glukosa-fruktosa,
  • Jus buah kemasan yang diproses,
  • Minuman manis yang memakai gula cair.

3. Galaktosa
. Sebagian besar terdapat dalam laktosa (baca di bawah). Namun bentuk aslinya dalam jumlah sedikit (< 0.5 g per 100 g) pada makanan kita terdapat di dalam tomat, pisang, pepaya, apel, strawberry, dan blackberry.

4. Maltosa
. Terdiri dari dua molekul glukosa yang merupakan gula dari proses pemecahan pati (starch). Dalam makanan kita banyak ditemukan pada roti, sereal, minuman berenergi, atau bir (dalam proses fermentasi). Maltosa menaikkan gula darah lebih cepat dari pada glukosa.

5. Sukrosa
. Terdiri dari molekul glukosa dan fruktosa. Dalam tubuh, sukrosa dipecah menjadi dua molekul tersebut. Sumber sukrosa dalam keseharian makanan kita contohnya adalah gula pasir, gula aren, gula merah, gula tebu, atau gula kelapa.

6. Laktosa
. Terdiri dari molekul glukosa dan galaktosa. Dalam tubuh dipecah menjadi dua molekul tersebut. Laktosa adalah gula alami dalam susu. Sebagian orang dewasa mengalami intoleransi laktosa karena kekurangan enzim lactase, sehingga mengalami perut kembung, diare, atau mual setelah minum susu.

Baca artikel lainnya di Blog Dr. Indra K. Muhtadi
Picture
Cara Tubuh Memproses Gula
Cara tubuh metabolisme gula tergantung jenis gulanya, dan ini sangat menentukan dampaknya pada kesehatan.
  • Glukosa → langsung ke dalam darah → insulin bekerja (sumber energi utama tubuh), bila berlebih → disimpan dalam bentuk glikogen dan lemak sebagai cadangan energi.
  • Fruktosa → ke hati → diubah menjadi lemak. Fruktosa tidak memicu insulin, tapi membebani hati. Bila fruk-tosa banyak → hati memproduksi lemak → fatty liver.
  • Galaktosa → ke hati → menjalani 3 proses. (1) glikolisis menjadi energi, (2) dirubah menjadi glikogen sebagai cadangan energi, (3) digunakan untuk membentuk glikoprotein dan glikolipid.
  • Maltosa → terpecah menjadi 2 molekul glukosa, lalu dimetabolisme seperti metabolisme glukosa di atas.
  • Sukrosa → terpecah menjadi glukosa + fruktosa. Metabolisme dan efeknya adalah kombinasi 2 di atas.
  • Laktosa → terpecah menjadi glukosa + galaktosa. Metabolisme dan efeknya adalah kombinasi 2 di atas
 
Gula Tambahan
Yang dimaksud gula tambahan, adalah gula yang ditambah-kan selama proses pembuatan makanan. Merupakan sumber gula berlebih di kehidupan modern yang sering dikonsumsi tanpa disadari dan dapat membahayakan kesehatan karena konsumsinya sering dalam jumlah tinggi.

1. Gula pasir. Merupakan yang paling banyak di dalam makanan modern kita saat ini. Gula pasir paling umum ada dalam bentuk sukrosa. Cepat diserap tubuh dan meningkatkan gula darah dengan cepat. Masalah bukan pada gulanya saja, tapi jumlah penggunaannya yang terlalu besar dalam budaya makan kita.

2. Gula merah / gula aren / gula kelapa
, yang banyak dianggap “lebih sehat”. Memang benar bahwa indeks glikemiknya lebih rendah, tapi hanya sedikit saja bedanya dengan gula pasir. Dan memang mengandung mineral seperti kalium dan magnesium. Tetapi secara metabolik, tubuh tetap memperlakukan ini sebagai gula. Kandungan kalorinya tetap tinggi dan efeknya tetap menaikkan gula darah. Jadi lebih sehat kalau dikonsumsi sedikit, bukan lebih sehat secara signifikan.

3. Madu. Sama seperti gula aren yang dianggap lebih sehat karena “alami”. Madu memang punya sifat antibakteri dan antioksidan, tapi manfaatnya hilang jika dikonsumsi berlebihan. Karena faktanya:
  • 82% madu adalah gula (glukosa + fruktosa),
  • Indeks glikemiknya relatif tinggi,
  • Kalorinya lebih padat daripada gula pasir.

4. Sirup jagung
atau dalam bahasa teknologi makanan disebut sebagai high fructose corn syrup (HFCS). Ini adalah “biang kerok” dalam epidemi obesitas di Amerika, dan kini masuk ke banyak produk di Indonesia. Sirup jagung pada label makanan sering ditulis sebagai: HFCS-55, HFCS-42, fructose syrup, dan glucose-fructose syrup. HFCS lebih murah dan lebih manis daripada gula, sehingga banyak digunakan memproduksi minuman kemasan, boba, minuman berenergi, saus botolan, es krim pabrikan, roti kemasan, dan lain sebagainya. Masalah paling besar dari produk ini adalah mengan-dung fruktosa tinggi sehingga sangat membebani hati, akhirnya meningkatkan produksi lemak dan menyebabkan fatty liver dan resistensi insulin.

5. Sirup glukosa
. Pada makanan kita berasal dari hidrolisis pati, biasanya dari jagung atau tapioka. Banyak digunakan pada industri makanan untuk memberikan tekstur lembut pada kue, permen, pancake topping, dan saus. Gula ini sangat cepat menaikkan gula darah.

6. Molase
. Hasil sampingan pembuatan gula tebu. Teksturnya kental dan warnanya gelap. Kandungan mineralnya lebih banyak dari gula putih, tapi tetap gula.

Pemanis Rendah Kalori dan Pemanis Buatan
Keduanya sering dianggap sebagai solusi pengganti gula, tapi tetap harus dipahami sifat dan batas amannya.
  1. Aspartame. Ditemukan dalam banyak produk “diet” atau “zero sugar”. Aspartame kalorinya sangat rendah, rasa manisnya 200 kali lebih kuat dari gula, dan aman dalam batas ADI (Acceptable Daily Intake): 40 mg/kg BB/hari. Namun tidak untuk penderita fenilketonuria.
  2. Sucralose. Rasa manis 600 kali lebih kuat dari gula, dan stabil pada suhu tinggi sehingga banyak dipakai untuk baking (membuat kueh/roti). Relatif aman, tapi beberapa studi menunjukkan bahwa terlalu banyak sucralose dapat sedikit mengganggu mikrobiota usus. ADI-nya maksimal 15 mg per kg BB/hari.
  3. Acesulfame-K. Stabil, kuat, dan sering dikombinasikan dengan pemanis lain. Aman dalam batas ADI di maksimal 15 mg per kg BB/hari.
  4. Stevia. Diambil dari daun stevia, dianggap paling “alami” di antara pemanis rendah kalori. Memiliki keunggulan tidak menaikkan gula darah, sehingga baik untuk penderita diabetes, dan aman untuk jangka panjang. Kelemahannya memiliki sedikit rasa pahit di aftertaste jika kualitasnya rendah. ADI 4 mg/kg BB/hari.
  5. Erythritol. Termasuk golongan gula alkohol. Tidak menaikkan gula darah dan nyaris tanpa kalori. Aman, tapi bila diminum berlebihan bisa menyebabkan perut kembung. ADI-nya rendah yaitu 0,5 mg/kg BB/hari.
  6. Xylitol. Juga golongan gula alkohol. Memiliki keunggul-an aman untuk penderita diabetes, dan baik untuk kesehatan gigi karena menghambat bakteri mulut. Kekurangannya menyebabkan diare bila berlebihan. ADI 30-40 mg/kg BB/hari.
 
Gula Mana yang Paling Berbahaya?
Ini bukan soal mana yang paling jahat, tapi mana yang paling mungkin dikonsumsi berlebihan tanpa kita sadar. Peringkat bahaya, bila diurutkan sebagai berikut:
  1. Gula cair/HFCS karena memiliki fruktosa tinggi yang dapat membebani hati.
  2. Minuman manis karena sangat cepat diserap yang dapat membuat insulin melonjak.
  3. Gula pasir dan sirup glukosa
  4. Gula merah / gula aren / kelapa / madu. Tetap merupakan gula, hanya sedikit lebih “baik”.
  5. Gula alami dari buah utuh, aman karena jumlahnya tidak sebanyak gula tambahan.
Menurut WHO batas aman konsumsi gula maksimum 25 gr/ hari atau setara dengan ± 6 sendok teh gula. Tapi orang Indonesia rata-rata mengonsumsi 3–4x lipat dari jumlah ini.
 
Penutup
Gula bukan musuh. Ia bagian dari makanan kita sejak dulu. Masalahnya adalah kebiasaan kita mengonsumsi gula berlebihan, terutama dalam bentuk cair dan olahan. Dengan memahami jenis gula, cara tubuh memprosesnya, serta mana yang aman dan perlu diwaspadai, kita bisa mulai membuat langkah kecil untuk kesehatan jangka panjang. Tubuh kita punya batas, kalau tidak dijaga, akan muncul penyakit. Kalau kita tidak mengatur apa yang kita makan, maka apa yang kita makan akan mengatur hidup kita.

©IKM 2025-11
0 Comments



Leave a Reply.

    Home >> Medical Articles >> 2025

    Medical Articles 2025

    Picture
    Lihat daftar artikel lainnya, click pada gambar

    Picture
    Maknai stres, untuk membuat hidup menjadi lebih hebat. Baca di sini.

    Bila Anda suka dengan blog ini, silakan "like" artikelnya di bagian bawah setiap artikel dan silakan menikmati artikel lainnya pada blog tahun 2023. Click di sini.

    Picture

    Author

    Dr. Indra K. Muhtadi adalah seorang Health Influencer dan konsultan pada berbagai professional training di Indonesia.

    Sebagai dokter, ia sangat piawai memberikan konsultasi kesehatan dengan bahasa ringan sehingga membuat masalah medis menjadi sesuatu yang mudah untuk dipahami.

    Click di sini untuk berkonsultasi dengan Dr. Indra

    These Blogs are written in Bahasa Indonesia. I hope these blogs can help those who search the information about the topic discussed in the radio.  Feel free to give comments and if you need an English version of the content from these blogs, please don't hesitate to contact me.

    Instagram Follow Dr. Indra on Instagram
    Follow @indrakm

    Archives

    December 2025
    November 2025
    October 2025
    September 2025
    August 2025
    July 2025
    June 2025
    May 2025
    April 2025
    March 2025
    February 2025
    January 2025

    Categories

    All
    10000 Langkah Per Hari
    Agnosia
    Air Panas Vs. Air Dingin
    Ancaman Tersembunyi Kesehatan Reproduksi Wanita
    Aneurisma Otak
    Antara Kebaikan Sosial & Manfaat Kesehatan
    Berat Badan Normal Tapi Kolesterol Tinggi
    Brain Rot
    Diet Menurunkan Trigliserida
    Donor Darah
    Emotional Eating
    Endometriosis
    Filosofi Sehat & Sakit Dalam Perspektif Medis & Islam
    Gangguan Kepribadian Narsistik (NPD)
    Glaucoma
    Harapan Baru Melawan Penyakit Lama
    Healthy Scam
    Human Metapneumovirus
    Insulin & Resistensi Insulin
    Jenis-Jenis Gula Dalam Makanan Kita
    Kedokteran Integratif
    Keropos Tulang Pada Wanita Menyusui
    Ketika Otak Tak Mengenali Dunia Di Sekitarnya
    Kolesterol Gak Ikut Party
    Lebaran Happy
    Lebih Dari Sekedar Minuman Hijau Kekinian
    Leptospirosis
    Makan Malam Bikin Gemuk
    Matcha
    Mengungkap Kekuatan Jahe
    Mitos Dan Fakta Cemilan Sehat
    Mitos Vs. Fakta
    MMPI
    Musuh Di Dalam Tubuh
    Myelodysplastic Syndrome
    Ngemil Cerdas
    Penyakit Jantung Bawaan
    PID
    Rahasia Di Balik Nasi Panas & Nasi Dingin
    Rahasia Hubungan Perut Dan Suasana Hati
    Robek Ligamen Lutut - ACL (Anterior Cruciate Ligament) Tear
    Saay Nyeri Haid BUkan Sekedar Nyeri Biasa
    Science Of Hype
    Siluman Pencuri Penglihatan
    Skinny Fat
    Stem Cell Untuk Kecantikan
    Stres Oksidatif
    Terapi Regeneratif Sendi
    Tes Kejiwaan Pembuka Peta Kepribadian & Gangguan Mental
    Vaksin TBC Dewasa
    Wabah "Kencing Tikus"
    Waspada 'Hidden Sugar' Di Makanan Kita


    Saya tidak mencantumkan rujukan atau sumber dari artikel yang saya tulis, karena akan menambah panjang body dari posting-an blog-nya.
    Bila ada yang memerlukan silakan hubungi saya di contac me. Saya dengan senang hati akan menginfokannya.


    Disclaimer
    All data and statements in all articles in these blogs on this website were true at the time of writing. Some update may be required.

    The Content is not intended to be a substitute for professional medical advice, diagnosis, or treatment. Always seek the advice of your physician or other qualified health provider with any questions you may have regarding a medical condition.

    Picture
    Terima kasih untuk mendukung usaha saya dan berbagi informasi
    Thank you for supporting my effort and sharing my knowledge

    Picture

    Infographic
    of the week

    Picture
    Healthy Scam, Makanan yang Membuat Kita Tertipu

    Navigation:
    Back to Blog Main Page
    Back to Blog Index

Proudly powered by Weebly