“Hari ini saya sudah capek sekali, Dok. Dari pagi bolak-balik, urus anak, belanja, kerja. Ya kan itu sudah olahraga?”
Kalimat itu seperti sudah sering saya dengar dari pasien, pendengar radio, atau teman sambil ngobrol. Terdengar logis memang karena tubuh bergerak, napas sesekali berat, keringat muncul. Tapi di ranah kesehatan, tidak semua gerak dapat disamakan dengan olahraga. Ada kategori yang berbeda antara aktivitas fisik harian dan olahraga, dan perbedaan itu penting karena efeknya ke kesehatan jangka panjang bisa sangat berbeda. Di Indonesia, kita menghadapi dua masalah yang saling terkait yaitu gaya hidup sedentary alias mager dan angka penyakit metabolisme seperti diabetes, hipertensi, penyakit jantung, dan obesitas yang tinggi. Untuk melawan tren itu, hanya bergerak saat beraktivitas harian tidak selalu cukup karena juga harus melakukan olahraga untuk saling melengkapi.
Aktivitas fisik harian adalah segala gerakan tubuh yang dilakukan sebagai bagian dari rutinitas, tanpa perencanaan khusus, tanpa tujuan kebugaran yang terukur. Contohnya berjalan dari rumah ke halte atau parkiran, naik turun tangga di kantor, membersihkan rumah (menyapu, mengepel, mencuci), kegiatan kerja yang berdiri/berjalan, menggendong anak, belanja ke pasar, dll. Aktivitas jenis ini penting karena jauh lebih baik daripada duduk terus-menerus dan dapat membantu sirkulasi darah, mencegah kekakuan sendi, dan membuat tubuh aktif.
- Ada durasi, misalnya 30 menit, 1 jam, dll.
- Dilakukan secara konsisten (mis. 3–5 kali per minggu)
- Memiliki tujuan seperti meningkatkan VO2 max, memperkuat otot, memperbaiki status kardio, dll.
- Ada intensitas yang bisa diukur (mis. jalan cepat)
- Mengukur denyut jantung/nadi selama beraktivitasnya.
Standar Internasional Berolahraga
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) merekomendasikan bagi orang dewasa usia 18–64 tahun minimal melakukan olahraga:
- 150 menit per minggu aktivitas aerobik intensitas sedang, atau
- 75 menit per minggu aktivitas aerobik intensitas tinggi, atau kombinasi setara; dan
- latihan penguatan otot yang melibatkan kelompok otot besar 2 kali per minggu.
Gambaran Situasi di Indonesia
Beberapa survei nasional menunjukkan tren yang perlu diwaspadai, dimana banyak orang di Indonesia bergerak, namun tidak cukup untuk mencegah penyakit metabolik dan kardiovaskular dalam jangka panjang.
- Hasil survei SKI (Survei Kesehatan Indonesia) 2023 melaporkan 37,4% penduduk umur 10 tahun ke atas mengalami insufficient physical activity (aktivitas fisik tidak cukup). Ini artinya lebih dari sepertiga populasi belum mencapai rekomendasi aktivitas minimal.
- Sebelumnya, Riskesdas 2018 melaporkan proporsi orang dewasa yang kurang aktivitas fisik meningkat dari 26,1% (2013) menjadi 33,5% (2018). Sebuah tren kenaikan yang mengkhawatirkan.
- Data Riskesdas 2018 juga menunjukkan angka obesitas (berdasarkan IMT) sekitar 21,8%. Juga sebuah kondisi yang erat kaitannya dengan pola makan dan rendahnya aktivitas fisik.
Aktivitas Harian Saja Tidak Memadai
Bergerak itu baik, tapi agar tubuh membuat adaptasi yang berarti (mis. peningkatan kapasitas jantung, pembentukan massa otot, perbaikan sensitivitas insulin), ada beberapa syarat yang harus tercapai:
- Intensitas perlu cukup. Jantung harus “dipaksa” bekerja lebih keras dari kondisi istirahat. Jalan santai 5 menit antar meja kerja tidak akan cukup.
- Durasi harus cukup. Seperti yang dijelaskan di atas.
- Frekuensi dan konsistensi. Karena adaptasi tubuh terbentuk karena pengulangan.
- Spesifisitas latihan. Untuk meningkatkan kekuatan otot atau fleksibilitas, diperlukan latihan yang memang menarget kelompok otot tertentu, bukan sekadar sesekali membungkuk atau mengangkat barang.
Mispersepsi Umum di Masyarakat Indonesia
Sangat penting untuk meluruskan mispersepsi yang beredar di masyarakat Indonesia karena tanpa pemahaman yang benar, orang mudah puas dengan status “sudah bergerak” padahal manfaat kesehatannya belum optimal.
Beberapa kesalahpahaman tersebut adalah:
Baca artikel lainnya di Blog Dr. Indra K. Muhtadi
- “Sudah capek kerja berarti sudah olahraga.” Capek karena kerja tidak sama dengan olahraga. Capek sering diakibatkan aktivitas repetitif tanpa peningkatan kapasitas kardio, pernafasan, ataupun kekuatan otot.
- “Olahraga itu mahal.” Padahal banyak olahraga efektif yang murah dan bisa dilakukan di rumah atau ruang terbuka seperti berjalan cepat, bersepeda, squat, push-up, skipping, dll.
- “Kalau saya sibuk, nggak sempat olahraga.” Waktu berolahraga bisa dibagi, misalnya dua sesi 15 menit yang lebih baik daripada tidak sama sekali. Tapi prinsipnya memang harus ada niat dan dijadwalkan.
- “Saya punya penyakit kronis jadi tidak aman berolahraga.” Penderita penyakit kronis tetap harus berolahraga, tapi harus disesuaikan dangan kondisinya dengan berkonsultasi ke dokter terlebih dahulu.
- “Olahraga akan membuat umur pendek karena terlalu capek.” Bukti ilmiah menunjukkan olahraga teratur justru menurunkan risiko kematian dini. Namun, memang penting melakukan latihan sesuai kapasitas dan kondisi medis yang dimiliki.
Olahraga Itu Harus Terukur, Bukan Sekadar Bergerak
Satu hal penting yang sering terlewat bahwa olahraga itu harus terukur, yang juga menjadi pembeda antara olahraga dan aktivitas fisik harian. Dalam olahraga denyut jantung perlu mencapai zona denyut nadi latihan (training heart rate) agar aktivitas tersebut benar-benar masuk kategori olahraga. Secara sederhana, saat berolahraga, denyut jantung sebaiknya naik hingga sekitar 60–75% dari denyut jantung maksimal untuk intensitas sedang, atau 75–85% untuk intensitas lebih tinggi. Tapi tidak boleh melewati denyut jantung maksimal yang secara kasar bisa diperkirakan dengan rumus sederhana 220 dikurangi usia. Bila melampaui denyut maksimal, justru berbahaya dan meningkatkan risiko cedera, gangguan jantung, bahkan kematian. Karena itulah, di era sekarang, setiap orang sangat dianjurkan memiliki fitness tracker atau smartwatch sederhana. Bukan untuk gaya, tapi untuk memastikan kita berolahraga di zona yang tepat.
Bukti Manfaat Olahraga yang Terukur
Manfaat-manfaat ini muncul ketika olahraga dilakukan dengan cukup intensitas, durasi, konsistensi dan terukur, bukan dari aktivitas harian yang sporadis.
- Menurunkan risiko penyakit jantung dan stroke, karena olahraga aerobik meningkatkan efisiensi jantung dan pembuluh darah.
- Meningkatkan sensitivitas insulin dan menurunkan risiko diabetes tipe 2 karena latihan aerobik dan latihan kekuatan membantu glukosa diserap otot.
- Mengurangi berat badan dan lemak viseral, kombinasi diet dan olahraga lebih efektif dibanding diet saja.
- Meningkatkan kekuatan dan fungsi otot, yang semakin penting saat usia semakin menua.
- Menurunkan gejala depresi dan kecemasan
- Meningkatkan kualitas tidur.
Tips Aktivitas Harian dan Olahraga
Berikut strategi yang relevan untuk kehidupan urban dan semi-urban di Indonesia:
Prinsip 80/20
- Jadikan aktivitas harian (naik tangga, jalan ke warung) sebagai fondasi (80%).
- Tambahkan olahraga terencana minimal 3 kali per minggu seperti 30 menit jalan cepat atau 20 menit high intensity interval training (HIIT) (20%).
- Senin: jalan cepat 30 menit (pagi atau sore)
- Selasa: 10 menit latihan kekuatan (bodyweight: squat, push-up, plank)
- Rabu: istirahat tapi aktif (jalan santai, peregangan)
- Kamis: jalan cepat 30 menit atau bersepeda 30 menit
- Jumat: latihan kekuatan 20–30 menit (2 set variasi)
- Sabtu: aktivitas keluarga (bersepeda bersama, jalan taman)
- Minggu: istirahat/peregangan
- Latihan beban membantu mempertahankan massa otot yang berkurang seiring usia, dan penting untuk metabolisme glukosa.
- Contoh: squat, lunges, plank, push-up, atau menggunakan band karet. Lakukan minimal 2 kali seminggu.
Sehat Bukan Target Olahraga, Melainkan Bugar
Sehat bukanlah target olahraga. Justru sebaliknya, kita harus sehat dulu agar bisa berolahraga dengan aman. Olahraga bukan alat untuk menjadi sehat dari nol, melainkan sarana untuk membawa tubuh ke tingkat yang lebih tinggi, yaitu kebugaran. Sehat berarti tidak sakit dan fungsi tubuh berjalan normal; sementara bugar berarti tubuh mampu bekerja lebih keras, lebih lama, dan lebih efisien tanpa cepat lelah. Dalam hirarki kondisi tubuh, bugar berada di atas sehat. Itulah sebabnya tujuan utama olahraga bukan sekadar lolos dari penyakit, tetapi membangun cadangan daya tahan, kekuatan, dan efisiensi tubuh agar kita siap menghadapi tuntutan hidup sehari-hari yang dapat dijalani dengan rasa tubuh yang nyaman jauh dari keluhan sakit atau rasa tidak enak.
Call to Action
Bagi Anda yang membaca ini, mulailah minggu ini dengan satu keputusan kecil:
- Tentukan 2 hari dan jam (mis. Senin 06.30–07.00 & Kamis 18.00–18.30) untuk berjalan cepat; atau
- Lakukan 10 menit latihan kekuatan sebelum mandi pagi selama 4 minggu.
Penutup
Bergerak itu baik, ini merupakan pesan yang tidak boleh hilang. Jadikan aktivitas fisik rutin harian sebagai fondasi untuk tidak terjerumus ke dalam gaya hidup sedentary yang mager. Lalu lakukan olahraga karena olahraga terencana dan terukur adalah investasi jangka panjang. Aktivitas fisik harian dan olahraga akan dapat saling melengkapi. Jangan tertipu oleh rasa lelah saja. Targetkan pada diri sendiri, agar tubuh mendapat tantangan yang cukup untuk membuatnya lebih kuat, lebih tahan, lebih sehat, dan lebih bugar. Mulailah dari keputusan kecil hari ini. Bukan janji besar, tapi kebiasaan kecil yang diulang. Sehat bukan sekadar bekerja keras atau sibuk seharian. Sehat adalah hasil dari gerakan yang terarah, konsisten, yang cerdas dan terukur.
©IKM 2025-12
Follow Dr. Indra on Instagram