Pernah merasa bangun tidur setelah begadang, mulut terasa pahit, badan berat seperti habis dihajar, dan bahkan mungkin mata mulai sedikit kekuningan? Itu bukan cuma pertanda kurang tidur, melainkan alarm biologis bahwa hati Anda sedang "berteriak" minta istirahat. Di era modern, apa lagi bagi generasi Y (milenial) dan Z, begadang sudah seperti gaya hidup. Deadline pekerjaan, tugas kuliah, drama Korea, atau sekadar scroll media sosial, semuanya "membenarkan" mata terjaga hingga larut malam. Ada yang bangga dengan gelar "kalong", ada yang merasa tidak masalah karena "nanti tidur siang" atau "akhir pekan bayar utang tidur." Esensi sebenarnya, begadang secara perlahan menjadi bumerang yang menghancurkan hati dan seluruh metabolisme tubuh. Namun ada cara untuk meminimalkan dampaknya, terutama bagi mereka yang terpaksa begadang karena pekerjaan shift malam, menjaga anggota keluarga yang sakit, atau alasan kuat lainnya.
Sebelum membahas dampak begadang, kita harus paham dulu apa yang diukur di laboratorium. Hati (liver) memproduksi beberapa enzim yang kadarnya dalam darah menjadi cermin kesehatan organ hati. Empat enzim utama yang biasanya diperiksa dalam tes fungsi hati adalah:
- SGPT (Serum Glutamic Pyruvate Transaminase). Dikenal juga dengan nama ALT (Alanine Transaminase), adalah enzim yang paling spesifik untuk memeriksa fungsi hati. Nilai normalnya: 4-36 U/L.
- SGOT (Serum Glutamic Oxaloacetic Transaminase). Dinkel juga dengan AST (Aspartate Transaminase) walaupun ditemukan juga di jantung dan otot sehingga kurang spesifik, tapi tetap diperiksa. Normal: 5-30 U/L.
- ALP (Alkaline Phosphatase), adalah enzim yang terkait dengan saluran empedu. Normal: 30-120 U/L.
Follow Dr. Indra on Instagram
RSS Feed