Dr. Indra K. Muhtadi - "dokter plus"
  • Home
    • My Curriculum Vitae
    • Dr. Indra on Media
  • What's New
  • Dr. Indra's Books
    • Book: "SENIOR untuk HEBAT"
    • Book: "STRES untuk HEBAT"
    • Book: "SEHAT untuk HEBAT"
    • Book: "Revolusi Mental"
  • Blog: Medical Articles
    • Blog Index (A to Z)
    • Blog Index (by category)
    • Blog Articles: 2026
    • Blog Articles: 2025
    • Blog Articles: 2024
    • Blog Articles: 2023
    • Blog Articles: 2022
    • Blog Articles: 2021
    • Blog Articles: 2020
    • Blog Articles: 2019
    • Blog Articles: 2018
    • Blog Articles: 2017
    • Blog Articles: 2016
    • Blog Articles: 2015
    • Blog Articles: 2014
    • Blog Articles: 2013
    • Blog Articles: 2012
    • Blog Articles: 2011
    • Blog Articles: 2010
  • Health & Wellness Influencer & Motivator
    • Retirement Preparation from Health Point of View
    • Stres untuk Hebat
    • Health Topic Seminars
    • The Secret of Healthy Life Style
    • Company Health Management
    • Stop Smoking Course
    • Quality Service Excellent
    • Change Leadership Training and Self Improvement
    • Smile in Assertive Communication
    • Assertive Communication Skills
    • Employee Counseling for Productivity
    • Managerial Skills and Self Leadership Skills
    • Motivation and Job Satisfaction
  • Health Consultant (Praktek)
    • Adult Vaccination
  • Health Calculator
    • BMI Calculator
    • Advanced BMI Calculator
    • BMI Calculator for Children
    • Ideal Body Weight Calculator
    • Exercise Calorie Calculator
    • Daily Calorie Calculator
    • Liquid Calorie Calculator
  • Health Tips Video
  • Health Pictures
  • My Travel and Other Blog
  • ABN Group
  • References & Partners
  • Contact Me

Topik ke-577: Mata Terjaga - Hati Tersiksa, Saat Begadang Jadi Bumerang Kesehatan

12/6/2026

0 Comments

 
Picture
Pendahuluan
Pernah merasa bangun tidur setelah begadang, mulut terasa pahit, badan berat seperti habis dihajar, dan bahkan mungkin mata mulai sedikit kekuningan? Itu bukan cuma pertanda kurang tidur, melainkan alarm biologis bahwa hati Anda sedang "berteriak" minta istirahat. Di era modern, apa lagi bagi generasi Y (milenial) dan Z, begadang sudah seperti gaya hidup. Deadline pekerjaan, tugas kuliah, drama Korea, atau sekadar scroll media sosial, semuanya "membenarkan" mata terjaga hingga larut malam. Ada yang bangga dengan gelar "kalong", ada yang merasa tidak masalah karena "nanti tidur siang" atau "akhir pekan bayar utang tidur." Esensi sebenarnya, begadang secara perlahan menjadi bumerang yang menghancurkan hati dan seluruh metabolisme tubuh. Namun ada cara untuk meminimalkan dampaknya, terutama bagi mereka yang terpaksa begadang karena pekerjaan shift malam, menjaga anggota keluarga yang sakit, atau alasan kuat lainnya.

Mengenal Enzim Hati
Sebelum membahas dampak begadang, kita harus paham dulu apa yang diukur di laboratorium. Hati (liver) memproduksi beberapa enzim yang kadarnya dalam darah menjadi cermin kesehatan organ hati. Empat enzim utama yang biasanya diperiksa dalam tes fungsi hati adalah:
  1. SGPT (Serum Glutamic Pyruvate Transaminase). Dikenal juga dengan nama ALT (Alanine Transaminase), adalah enzim yang paling spesifik untuk memeriksa fungsi hati. Nilai normalnya: 4-36 U/L.
  2. SGOT (Serum Glutamic Oxaloacetic Transaminase). Dinkel juga dengan AST (Aspartate Transaminase) walaupun ditemukan juga di jantung dan otot sehingga kurang spesifik, tapi tetap diperiksa. Normal: 5-30 U/L.
  3. ALP (Alkaline Phosphatase), adalah enzim yang terkait dengan saluran empedu. Normal: 30-120 U/L.
GGT (Gamma-Glutamyl Transferase). Enzim hati ini sensitif terhadap alkohol dan obat-obatan, sehingga bisa menilai fungsi hati akibat obat. Normal: 6-50 U/L.


Read More
0 Comments

Topik ke-576: Marburg Virus, Kembalinya Virus Mematikan dari Keluarga Ebola

5/6/2026

0 Comments

 
Picture
Pendahuluan
Pernah mendengar virus Marburg? Mungkin namanya tidak sepopuler Ebola, padahal mereka berasal dari keluarga virus yang sama (Filoviridae) dan sama-sama mematikan. Kabar terbaru datang dari Afrika Timur. Pada Januari 2026, Ethiopia baru saja menyatakan wabah Marburg pertamanya berakhir setelah 19 kasus dengan tingkat kematian 64,3%. Sebelumnya, Rwanda juga mengalami wabah pada akhir 2024 dengan 66 kasus. Namun, ada kabar baik yang sangat penting, yaitu tingkat kematian di Rwanda hanya 22,7%, jauh lebih rendah dari rata-rata historis 24-88%. Rahasianya adalah deteksi dini, perawatan suportif yang agresif, dan penggunaan obat investigasional seperti Remdesivir serta terapi antibodi monoklonal. Ini membuktikan bahwa Marburg tidak selalu berarti kematian,  asalkan ditangani dengan cepat dan benar.

Sepupu Ebola yang Sama Mematikannya
Virus Marburg pertama kali diidentifikasi pada tahun 1967 setelah wabah di laboratorium di Marburg dan Frankfurt (Jerman) serta Beograd (Serbia). Saat itu, peneliti terpapar dari monyet hijau Afrika (Chlorocebus aethiops) yang diimpor dari Uganda. Sejak saat itu, wabah sporadis telah terjadi di berbagai negara Afrika, termasuk Angola, Republik Demokratik Kongo, Uganda, Ghana, Guinea Khatulistiwa, Tanzania, Kenya, Rwanda, dan terbaru Ethiopia. Virus Marburg adalah hemorrhagic fever virus (virus demam berdarah), sama seperti Ebola, Dengue, atau yellow fever. Artinya, virus ini dapat menyebabkan perdarahan di berbagai organ, kebocoran pembuluh darah, syok, hingga kegagalan multiorgan. Sumber alami (natural reservoir) virus ini adalah kelelawar buah (Egyptian rousette bat, Rousettus aegyptiacus). Kelelawar ini tidak sakit karena virus, tapi bisa menularkannya ke manusia melalui kontak dengan urine, feses, air liur, atau darah mereka. Manusia kemudian menularkan ke manusia lain melalui kontak langsung dengan darah, cairan tubuh, atau permukaan yang terkontaminasi.


Read More
0 Comments

Topik ke-575: Godzilla Heat Waves Melanda, Siapkah Tubuh Anda Bertahan

22/5/2026

0 Comments

 
Picture
Pendahuluan
Pada tanggal 15 Mei 2026 yang lalu, para ilmuwan dari Ingris dan NASA mengeluarkan peringatan keras: "Godzilla El Nino sedang terbentuk di Samudra Pasifik”. Suhu permukaan laut telah naik dengan cepat dalam beberapa minggu terakhir, melampaui ambang batas yang digunakan untuk mengidentifikasi awal kondisi El Nino. El Nino super ini bisa memicu lebih banyak kebakaran hutan dan memperparah kabut asap (haze) di seluruh Asia Tenggara. Malaysia dan Thailand sudah mulai merasakan gelombang panas ekstrem. Malaysia bahkan melakukan operasi hujan buatan (cloud seeding) untuk mengatasi kekeringan di wilayah penghasil beras mereka. Seperti yang dikatakan Profesor Chris Brierley dari University College London, "apakah ini disebut 'Godzilla' El Nino atau tidak, itu tidak penting bagi mereka yang sedang menderita dampaknya."

Godzilla El Nino
"Godzilla El Nino" bukan sekadar istilah keren untuk cuaca panas biasa. Ini adalah fenomena iklim yang terjadi hanya dua hingga tiga kali dalam satu dekade, ditandai dengan pemanasan suhu permukaan laut di Pasifik tengah yang ekstrem. Dampaknya pada Asia Tenggara akan lebih panas, dan lebih kering. Tapi ironisnya, panas yang sama juga bisa memicu hujan lebat mendadak dan banjir lokal. Ini yang disebut para ilmuwan sebagai perfect storm. Kekeringan berkepanjangan mengeringkan lahan dan hutan, meningkatkan risiko kebakaran dan kabut asap. Ketika hujan akhirnya turun, tanah yang keras dan kering tidak bisa menyerap air dengan cepat, menyebabkan banjir bandang. Pola ini sudah terjadi berulang kali, yaitu pada 1997, 2015, dan 2016; yang selalu diikuti oleh lonjakan kasus penyakit pernapasan (akibat kabut asap), dehidrasi, gagal ginjal, hingga heatstroke.


Read More
0 Comments

Topik ke-574: HbA1c, Jurnal Perjalanan Gula Darah yang Tidak Boleh Dilewatkan

15/5/2026

0 Comments

 
Picture
Pendahuluan
"Alhamdulillah, Dok, gula darah saya normal. Kemarin cek puasa cuma 95." Kalimat itu sering saya dengar dengan nada lega dari pasien. Tapi ketika saya tanya, "Kapan terakhir cek HbA1c?", wajah mereka berubah bingung. "Apa itu HbA1c, Dok?" Di situlah letak masalahnya. Banyak dari kita masih mengandalkan gula darah puasa atau gula darah sewaktu sebagai patokan apakah kita terkena diabetes atau tidak. Padahal, dua tes itu hanya memberi kita "foto" gula darah saat diperiksa saja. Sementara HbA1c memberi kita "album kenangan," gambaran atau jurnal rata-rata gula darah selama 3 bulan terakhir. Karena seseorang bisa memiliki gula darah sewaktu normal, tapi HbA1c-nya sudah masuk kategori prediabetes atau bahkan diabetes. Ini yang disebut dengan occult hyperglycemia, gula tinggi tersembunyi yang tidak terdeteksi oleh tes biasa.

Mengenal HbA1c
HbA1c atau Hemoglobin A1c, juga disebut glycated hemoglobin adalah tes darah yang mengukur seberapa banyak gula yang menempel pada sel darah merah selama 3 bulan terakhir. Bayangkan sel darah merah seperti kapal kargo yang berkeliling di tubuh Anda selama 120 hari. Gula darah yang tinggi akan menempel pada "kapal" itu. Semakin tinggi gula darah Anda dalam 3 bulan terakhir, semakin banyak gula yang menempel. Inilah mengapa HbA1c sekarang menjadi gold standard (standar baku) untuk mendiagnosis prediabetes dan diabetes, termasuk yang direkomendasikan oleh organisasi kesehatan dunia WHO dan American Diabetes Association (ADA).


Read More
0 Comments

Topik ke-573: Hantavirus, Ketika Tikus Jadi Bom Waktu Mematikan

8/5/2026

0 Comments

 
Picture
Pendahuluan
Pernah membersihkan gudang, lumbung, atau ruangan yang sudah lama tidak dibuka? Atau menyapu kotoran tikus di dapur dengan santainya? Hati-hati. Anda mungkin sedang mengaduk bom waktu. Pada 4 Mei 2026, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengeluarkan peringatan darurat tentang wabah Hantavirus di sebuah kapal pesiar yang berlayar dari Argentina melintasi Atlantik Selatan. Dari 147 orang di kapal, 7 terinfeksi (2 terkonfirmasi lab, 5 suspek), dan 3 di antaranya meninggal dunia. Satu orang lainnya masih kritis di ICU. Kejadian ini membuktikan bahwa Hantavirus tidak kenal tempat. Bisa di kapal pesiar mewah, bisa di gudang rumah kita. Yang mengerikan hampir separuh kasus infeksi berasal dari paparan di sekitar rumah sendiri. Bukan di hutan, bukan di alam liar.

Hantavirus, Bukan Sekadar "Penyakit Tikus"
Hantavirus adalah virus dari genus Orthohantavirus yang dibawa oleh hewan pengerat (Rodentia) seperti tikus, mencit (cecurut), dan vole (tikus sawah). Setiap jenis tikus membawa strain Hantavirus yang berbeda, dan tingkat keganasannya pun bervariasi. Virus ini disebarkan oleh tikus dan hewan pengerat melalui urine, feses, atau air liurnya. Begitu terhirup, virus bisa menyerang paru-paru (menyebabkan gagal napas) atau ginjal (menyebabkan gagal ginjal) dalam hitungan hari. Bahkan dalam kasus di kapal pesiar, seorang pria dewasa meninggal hanya 5 hari setelah gejala pertama muncul. Di Indonesia, kasus Hantavirus mungkin tidak sering dilaporkan. Tapi studi seroprevalensi melaporkan 1 dari setiap 10 orang di Indonesia pernah terpapar Hantavirus, terutama varian Seoul (SEOV). Membuat risikonya menjadi sangat nyata, setiap tempat yang ada tikus menjadi sumber penularan.


Read More
0 Comments

Topik ke-572: Senior untuk Hebat, Bukan Sekadar Panjang Umur Tapi Berkualitas Sampai Akhir

24/4/2026

0 Comments

 
Picture
Pendahuluan
Pernahkah Anda melihat seorang kakek berusia 75 tahun masih bersepeda keliling komplek dengan badan bugar, sementara teman sebayanya yang lain sudah duduk di kursi roda dan lupa siapa nama cucu sendiri? Apa perbedaannya? Bukan keberuntungan atau genetik semata. Tapi pilihan. Selama ini kita terlalu sibuk mengejar life span (panjang umur). Kita bangga kalau ada yang hidup sampai 90 tahun. Tapi jarang bertanya, 90 tahun itu dalam keadaan bagaimana, apakah masih bisa jalan, masih bisa tertawa, masih bisa menggendong cucu; atau 30 tahun terakhir hanya dihabiskan bolak-balik rumah sakit.

Kesenjangan yang Tidak Boleh Diabaikan
Berdasarkan data BPS dan Kemenkes, harapan hidup saat lahir di Indonesia saat ini sekitar 71,7 tahun. Tapi Healthy Life Expectancy (HALE) atau “harapan hidup dalam kondisi sehat,” hanya sekitar 62,5 tahun. Artinya, rata-rata ada 9,2 tahun ketika seseorang mungkin masih hidup, tetapi sudah kehilangan sebagian atau seluruh kemandiriannya karena penyakit kronis, disabilitas, atau penurunan fungsi tubuh. Sembilan tahun lebih itu bukan sekadar angka statistik. Itu adalah potensi tahun-tahun yang seharusnya dapat diisi dengan berkumpul bersama keluarga, menikmati hobi, atau tetap berkontribusi. Tapi justru terampas oleh keterbatas-an kesehatan. Dan kabar baiknya, bahwa ini bukan takdir. Ini adalah akumulasi pilihan. Penyebab utama kesenjangan itu adalah gaya hidup yang dijalani selama ini yang men-jelma menjadi penyakit-penyakit yang sebenarnya dapat dikelola atau dicegah. Kondisi yang tidak datang tiba-tiba, tetapi merayap pelan selama 20-30 tahun sebelumnya.


Read More
0 Comments

Topik ke-571: Parkinson Tak Kenal Usia, Waspadai Gaya Hidup Sejak Muda

17/4/2026

0 Comments

 
Picture
Pendahuluan
Pernah melihat seseorang dengan tangan yang gemetar tak terkendali, lalu Anda berpikir, "Oh, pasti Parkinson." Atau sebaliknya, Anda merasa lupa-lupa terus dan berkata, "Ah, wajar lah, mulai tua." Tapi bagaimana jika gemetar itu muncul di usia 30 tahun? Atau mudah lupa itu ternyata bukan karena stres, melainkan awal dari penyakit neurodegeneratif yang selama ini kita kaitkan dengan lansia? Hari Parkinson Sedunia baru saja diperingati pada 11 April 2026 lalu. Tapi di Indonesia, masih banyak yang belum paham bahwa Parkinson bukan hanya tentang tremor, dan yang lebih mengejutkan penyakit ini kini menyerang usia produktif, bahkan remaja.

Fakta Sejarah Menarik Parkinson
Penyakit ini sebenarnya sudah dikenal ribuan tahun lalu. Dalam pengobatan Ayurveda kuno (~1000 SM), kondisi bernama Kampavata yang gejalanya sangat mirip Parkinson bahkan sudah diobati dengan tanaman Mucuna pruriens, yang belakangan diketahui secara alami mengandung levodopa, obat utama Parkinson hingga saat ini. Dokter Romawi kuno bernama Galenus (129–200 M) juga sudah membedakan tremor saat istirahat versus tremor saat bergerak. Namun, baru pada tahun 1817, seorang dokter sekaligus ahli geologi asal London bernama James Parkinson menerbitkan esai berjudul "An Essay on the Shaking Palsy" setebal 66 halaman. Uniknya, dari 6 kasus yang ia laporkan, 3 di antaranya ia amati hanya dari berjalan di jalanan London. Baru 60 tahun kemudian, Jean-Martin Charcot yang dijuluki "Bapak Neurologi Klinis" mengusulkan nama "La Maladie de Parkinson" untuk menghormati James Parkinson, sekaligus melengkapi gejala inti yang tidak disebut oleh James. Kini, bunga tulip merah-putih atau "James Parkinson Tulip" menjadi simbol Hari Parkinson Sedunia setiap 11 April, hari ulang tahun James Parkinson.


Read More
0 Comments

Topik ke-570: Campak pada Dewasa, Ketika Penyakit “Anak-Anak” Lebih Mematikan

3/4/2026

0 Comments

 
Picture
Pendahuluan
Maret 2026, dunia medis Indonesia dikejutkan oleh sebuah kabar duka. Seorang dokter muda berusia 25 tahun, seorang intern di Rumah Sakit Umum Daerah Pagelaran, Cianjur, meninggal dunia. Bukan karena kecelakaan atau penyakit kronis yang sudah lama diderita. Penyebabnya? Campak.  Penyakit yang selama ini kita anggap "biasa" dan hanya menyerang anak-anak. Ternyata, campak pada dewasa bisa jauh lebih berbahaya, bahkan mematikan. Dokter muda itu diduga terpapar virus saat merawat pasien campak pada 8 Maret, terus bekerja meskipun sudah mulai merasakan demam pada 18 Maret. Gejalanya memburuk, ruam menyebar, kesadaran menurun, dan pada 26 Maret, ia dipanggil Yang Maha Kuasa. Kasus ini bukan sekadar berita sedih. Ini adalah alarm keras bagi kita semua bahwa campak tidak mengenal usia. Dan pada orang dewasa, komplikasinya bisa menghancurkan jantung dan otak.

Campak pada Dewasa Lebih Berbahaya
Kita tumbuh dengan pemahaman bahwa campak adalah "penyakit masa kecil". Dulu, hampir semua anak mengalaminya, dan setelah sembuh, mereka kebal seumur hidup. Tapi pemahaman itu sudah tidak sepenuhnya relevan saat ini. Seorang dewasa bisa terkena campak jika:
  1. Tidak pernah mendapatkan vaksin campak saat kecil. Cakupan imunisasi di Indonesia pernah turun drastis, terutama setelah pandemi COVID-19. Data Kementerian Kesehatan menunjukkan, cakupan imunisasi campak rubella dosis kedua turun dari 86,6% (2023) menjadi 77,6% tahun lalu. Angka ini jauh di bawah standar WHO yang 95% untuk mencapai kekebalan kelompok (herd immunity).
  2. Belum pernah terpapar virus campak secara alami. Jika Anda selamat dari masa kecil tanpa terkena campak dan tanpa vaksin, maka Anda tidak memiliki antibodi.

Read More
0 Comments

Topik ke-569: Paradoks Tekanan Darah, Ketika Jantung Bisa Pusing Sendiri

13/3/2026

0 Comments

 
Picture
Pendahuluan
Pernah mengalami ini? Anda bangun dari tempat tidur, lalu tiba-tiba dunia serasa berputar. Atau setelah duduk lama di kantor, Anda berdiri dan pandangan terasa gelap beberapa detik. "Ah, biasa," pikir Anda. "Mungkin kurang minum, atau kecapekan." Tapi ternyata, pusing saat berdiri bisa jadi alarm tubuh yang tidak boleh diabaikan. Bukan sekadar dehidrasi biasa misalnya, tapi sinyal dari sistem kelistrikan tubuh Anda, yang disebut sistem saraf otonom, sedang bermasalah. Lebih menariknya lagi, beberapa orang justru mengalami kebalikannya. Tekanan darah mereka melonjak saat berdiri. Atau naik drastis saat berbaring tidur. Satu tubuh, tiga kondisi berbeda, semua bikin pusing. Inilah yang saya sebut paradoks tekanan darah, ketika jantung sendiri "pusing" mengatur ritmenya.

Pengenalan Konsep 3 Gejala Berbeda
Mari kita pahami dulu sistem canggih dalam tubuh. Setiap kali bergerak, dari berbaring ke duduk atau dari duduk ke berdiri, gravitasi langsung bekerja. Darah yang tadinya tersebar merata, tiba-tiba tertarik ke kaki. Dalam kondisi normal, tubuh langsung bereaksi dengan mengerutkan pembuluh darah di kaki, denyut jantung sedikit meningkat. Semua terjadi otomatis, tanpa disadari. Sutradaranya adalah sistem saraf otonom, sistem yang mengatur semua fungsi otomatis tubuh seperti tekanan darah, denyut jantung, pernapasan, pencernaan, bahkan keringat. Bekerja 24 jam tanpa libur, tanpa perlu diperintah. Tapi pada sebagian orang, sistem canggih ini mulai kacau. Respon terhadap perubahan posisi menjadi tidak tepat. Akibatnya, tekanan darah bisa bereaksi dengan tiga cara berbeda:
  1. Orthostatic hypotension, tensi turun saat berdiri
  2. Orthostatic hypertension, tensi naik saat berdiri
  3. Supine hypertension, tensi tinggi saat berbaring.

Read More
0 Comments

Topik ke-568: Ramadan Tanpa Lelah, Pentingnya Tidur Berkualitas

6/3/2026

0 Comments

 
Picture
Pendahuluan
Jika kita perhatikan, keluhan tentang kelelahan selama Ramadan hampir selalu muncul dalam percakapan sehari-hari. Ada yang bilang bangun sahur terasa sangat berat. Ada pula yang mengeluh siang hari mengantuk tak tertahankan, sore lemas, tapi malam setelah tarawih malah sulit tidur. Siklus ini sering dianggap sebagai konsekuensi wajar bulan puasa. Kita maklum, karena jadwal berubah, pola makan bergeser, dan waktu tidur berkurang. Padahal, di balik semua keluhan itu, ada satu faktor kunci yang sering kita lupakan: tidur. Bukan sekadar tidur, tetapi tidur yang berkualitas. Ramadan seharusnya dijalani dengan semangat, dengan tubuh yang bugar, agar ibadah terasa ringan dan bermakna. Bukan dengan tubuh yang terus-terusan lelah, sehingga Ramadan hanya lewat begitu saja.

Tidur Bukan Sekadar Istirahat
Selama ini, tidur sering dianggap "waktu mati", saat tubuh berhenti beraktivitas, tidak ada yang terjadi. Anggapan ini keliru. Justru saat kita tidur, otak dan tubuh sedang bekerja keras. Secara ilmiah, tidur adalah proses aktif di mana otak melakukan konsolidasi memori, memilah informasi yang penting dan membuang yang tidak perlu. Di saat yang sama, tubuh melakukan perbaikan sel-sel yang rusak, memperkuat sistem imun, dan membersihkan racun dari otak melalui mekanisme yang disebut glymphatic system. Tidur yang cukup ibarat mengisi ulang baterai tubuh. Tidur yang berkualitas adalah memastikan proses "isi ulang" itu berjalan optimal. Sayangnya, selama Ramadan, tantangan untuk mendapatkan tidur berkualitas justru meningkat.


Read More
0 Comments
<<Previous
    Home >> Medical Articles >> 2026

    Medical Articles 2026

    Picture
    Lihat daftar artikel lainnya, click pada gambar

    Picture
    Panduan komprehensif untuk mereka yang menuju atau telah memasuki masa purna bakti.

    Bila Anda suka dengan blog ini, silakan "like" artikelnya di bagian bawah setiap artikel dan silakan menikmati artikel lainnya pada blog tahun 2023. Click di sini.

    Picture

    Author

    Dr. Indra K. Muhtadi adalah seorang Health Influencer dan konsultan pada berbagai professional training di Indonesia.

    Sebagai dokter, ia sangat piawai memberikan konsultasi kesehatan dengan bahasa ringan sehingga membuat masalah medis menjadi sesuatu yang mudah untuk dipahami.

    Click di sini untuk berkonsultasi dengan Dr. Indra

    These Blogs are written in Bahasa Indonesia. I hope these blogs can help those who search the information about the topic discussed in the radio.  Feel free to give comments and if you need an English version of the content from these blogs, please don't hesitate to contact me.


    Instagram Follow Dr. Indra on Instagram
    Follow @indrakm

    Archives

    June 2026
    May 2026
    April 2026
    March 2026
    February 2026
    January 2026

    Categories

    All
    Ancaman Untuk DIpahami
    Begadang Jadi Bumerang
    Campak Pada Dewasa
    Dari Dandang Ke Rice Cooker
    Flu Biasa Yang Tidak Biasa
    Godzilla Heat Waves Melanda
    Hantavirus
    HbA1c
    Hormon-Hormon Bahagia
    Jurnal Perjalanan Gula Darah
    Lebih Mematikan
    Marburg Virus
    Mata Terjaga - Hati Tersiksa
    Mengenal Glutamat Dengan Bijak
    Paradoks Tekanan Darah
    Parkinson Tak Kenal Usia
    Probiotik Dan Prebiotik
    Puasa Saat Tubuh Tidak Baik-Baik Saja
    Ramadan Tanpa Lelah
    Sama Penting Tapi Tidak Sama
    Senior Untuk Hebat
    Super Flu
    Tikus Jadi Bom Waktu Mematikan
    Virus Mematikan Dari Keluarga Ebola
    Virus Nipah


    Saya tidak mencantumkan rujukan atau sumber dari artikel yang saya tulis, karena akan menambah panjang body dari posting-an blog-nya.
    Bila ada yang memerlukan silakan hubungi saya di contac me. Saya dengan senang hati akan menginfokannya.


    Disclaimer

    All data and statements in all articles in these blogs on this website were true at the time of writing. Some update may be required.

    The Content is not intended to be a substitute for professional medical advice, diagnosis, or treatment. Always seek the advice of your physician or other qualified health provider with any questions you may have regarding a medical condition.

    Picture
    Terima kasih untuk mendukung usaha saya dan berbagi informasi
    Thank you for supporting my effort and sharing my knowledge


    Picture

    Infographic
    of the week
    Picture
    Mata Terjaga - Hati Tersiksa, Saat Begadang Jadi Bumerang Kesehatan

    Navigation:
    Back to Blog Main Page
    Back to Blog Index

    RSS Feed

Proudly powered by Weebly