Pernah bertemu seseorang yang terlihat "dingin", "kaku", atau "sulit ditebak"? Saat diajak bicara tentang perasaan, jawabannya selalu "biasa saja" atau "baik-baik saja”, meskipun situasi sedang berat. Atau pernahkah Anda sendiri kesulitan menemukan kata untuk menggambarkan apa yang sedang dirasakan? Mungkin bukan karena tidak peduli atau "sok kuat". Bisa jadi yang dialami adalah alexithymia, sebuah kondisi psikologis di mana seseorang kesulitan mengidentifikasi, memahami, dan mengungkap-kan emosi dirinya sendiri. Istilah ini diciptakan oleh psikiater Harvard, Peter Sifneos, pada tahun 1972. Dari bahasa Yunani: a (tidak) + lexis (kata) + thymos (emosi). Jadi secara harfiah berarti "tidak ada kata untuk emosi".
Di sisi lain, ada istilah yang mungkin lebih familier, yaitu emotional intelligence (EQ) atau “kecerdasan emosi.” Orang dengan EQ rendah juga kesulitan dengan emosi. Tapi bedanya, mereka bisa "melihat" emosi, hanya saja tidak tahu apa yang harus dilakukan dengannya. Jadi alexithymia adalah seperti “buta warna” emosional, saat tidak bisa melihat warna sama sekali. Sementara EQ rendah adalah seperti memiliki penglihatan warna yang buruk, saat bisa melihat warna, tapi tidak bisa membedakannya atau tidak tahu warna apa yang cocok untuk situasi tertentu. Keduanya sering tumpang tindih, dan penelitian menunjukkan bahwa alexithymia berkorelasi negatif dengan kecerdasan emosi. Semakin parah alexithymia, maka semakin rendah EQ seseorang.
Follow Dr. Indra on Instagram
RSS Feed