Nama sebuah virus kembali muncul di berita internasional. Bandara di beberapa negara mulai meningkatkan kewas-padaan. Otoritas kesehatan mengeluarkan pernyataan. Media sosial mulai ramai dengan potongan informasi yang sebagian benar, sebagian setengah benar, sebagian lagi sama sekali keliru. Virus itu bernama Nipah. Dan seperti yang sering terjadi, ketika sebuah penyakit menular baru atau jarang terdengar muncul ke permukaan, dua reaksi ekstrim biasanya muncul bersamaan; kepanikan berlebihan atau penyangkalan yang meremehkan. Padahal, dalam kesehatan masyarakat, sikap yang paling sehat bukanlah panik atau meremehkan, melainkan memahami secara utuh, tenang, dan proporsional.
Virus Nipah, disingkat NiV (Nipah Virus) bukan merupakan virus baru, tapi bukan juga virus biasa. Virus ini termasuk dalam genus Henipavirus, yang berada di bawah famili Paramyxoviridae dan ordo Mononegavirales. Virus RNA beruntai negatif ini adalah virus zoonotic, yaitu virus yang berpindah dari hewan ke manusia. Dalam dunia penyakit infeksi, ini bukan hal baru. Penyakit seperti Flu burung, SARS, MERS, Ebola, hingga COVID-19 semuanya memiliki akar yang sama, yaitu interaksi manusia dengan hewan dan lingkungan. Yang membedakan Nipah dari banyak virus lain adalah karakteristik bahayanya. WHO bahkan menempati-kan Virus Nipah dalam daftar priority pathogens (penyebab penyakit prioritas) bukan karena sedang terjadi pandemi, tetapi karena potensi bahayanya jika suatu hari sistem kesehatan lengah.
Follow Dr. Indra on Instagram
RSS Feed