Maret 2026, dunia medis Indonesia dikejutkan oleh sebuah kabar duka. Seorang dokter muda berusia 25 tahun, seorang intern di Rumah Sakit Umum Daerah Pagelaran, Cianjur, meninggal dunia. Bukan karena kecelakaan atau penyakit kronis yang sudah lama diderita. Penyebabnya? Campak. Penyakit yang selama ini kita anggap "biasa" dan hanya menyerang anak-anak. Ternyata, campak pada dewasa bisa jauh lebih berbahaya, bahkan mematikan. Dokter muda itu diduga terpapar virus saat merawat pasien campak pada 8 Maret, terus bekerja meskipun sudah mulai merasakan demam pada 18 Maret. Gejalanya memburuk, ruam menyebar, kesadaran menurun, dan pada 26 Maret, ia dipanggil Yang Maha Kuasa. Kasus ini bukan sekadar berita sedih. Ini adalah alarm keras bagi kita semua bahwa campak tidak mengenal usia. Dan pada orang dewasa, komplikasinya bisa menghancurkan jantung dan otak.
Kita tumbuh dengan pemahaman bahwa campak adalah "penyakit masa kecil". Dulu, hampir semua anak mengalaminya, dan setelah sembuh, mereka kebal seumur hidup. Tapi pemahaman itu sudah tidak sepenuhnya relevan saat ini. Seorang dewasa bisa terkena campak jika:
- Tidak pernah mendapatkan vaksin campak saat kecil. Cakupan imunisasi di Indonesia pernah turun drastis, terutama setelah pandemi COVID-19. Data Kementerian Kesehatan menunjukkan, cakupan imunisasi campak rubella dosis kedua turun dari 86,6% (2023) menjadi 77,6% tahun lalu. Angka ini jauh di bawah standar WHO yang 95% untuk mencapai kekebalan kelompok (herd immunity).
- Belum pernah terpapar virus campak secara alami. Jika Anda selamat dari masa kecil tanpa terkena campak dan tanpa vaksin, maka Anda tidak memiliki antibodi.
Follow Dr. Indra on Instagram
RSS Feed