Pernahkah Anda merasakan kulit wajah tiba-tiba "berontak" saat musim kemarau tiba? Jerawat muncul entah dari mana, padahal Anda sudah rajin mencuci muka dan tidak banyak beraktivitas di luar ruangan? Anda tidak sendirian. Banyak orang mengalami hal yang sama dan bertanya-tanya apakah cuaca panas benar-benar bisa menyebabkan jerawat, atau ini hanya mitos belaka. Cuaca panas dan lembap memang memiliki hubungan erat dengan munculnya jerawat, dan penelitian ilmiah modern telah membuktikannya. Di negara beriklim tropis seperti Indonesia, prevalensi jerawat (acne vulgaris) memang ter-catat lebih tinggi dibandingkan negara dengan iklim sedang. Bahkan, sebuah penelitian terhadap 452 pasien jerawat di kawasan tropis menemukan bahwa 56,33% dari mereka mengeluhkan jerawat yang memburuk di musim kemarau.
Selama ini kita mengenal Propionibacterium acnes (sekarang disebut Cutibacterium acnes) sebagai bakteri utama penyebab jerawat. Namun, sebuah studi sistematis dan meta-analisis yang menganalisis 16 penelitian di Indonesia dari tahun 2001 hingga Juli 2022 menemukan bahwa jerawat di Indonesia tidak hanya disebabkan oleh satu jenis bakteri saja. Penelitian yang melibatkan 733 pasien jerawat ini mengungkap tiga mikroba utama yang paling sering ditemukan pada lesi jerawat, yaitu Cutibacterium acnes, Staphylococcus epidermidis, dan Staphylococcus aureus. Ketiga bakteri ini berperan penting dalam proses peradangan yang menyebabkan timbulnya jerawat. Temuan ini penting karena menunjukkan bahwa jerawat bukanlah masalah yang sederhana, melainkan hasil interaksi kompleks antara berbagai mikroba di kulit.
Follow Dr. Indra on Instagram
RSS Feed