"Alhamdulillah, Dok, gula darah saya normal. Kemarin cek puasa cuma 95." Kalimat itu sering saya dengar dengan nada lega dari pasien. Tapi ketika saya tanya, "Kapan terakhir cek HbA1c?", wajah mereka berubah bingung. "Apa itu HbA1c, Dok?" Di situlah letak masalahnya. Banyak dari kita masih mengandalkan gula darah puasa atau gula darah sewaktu sebagai patokan apakah kita terkena diabetes atau tidak. Padahal, dua tes itu hanya memberi kita "foto" gula darah saat diperiksa saja. Sementara HbA1c memberi kita "album kenangan," gambaran atau jurnal rata-rata gula darah selama 3 bulan terakhir. Karena seseorang bisa memiliki gula darah sewaktu normal, tapi HbA1c-nya sudah masuk kategori prediabetes atau bahkan diabetes. Ini yang disebut dengan occult hyperglycemia, gula tinggi tersembunyi yang tidak terdeteksi oleh tes biasa.
HbA1c atau Hemoglobin A1c, juga disebut glycated hemoglobin adalah tes darah yang mengukur seberapa banyak gula yang menempel pada sel darah merah selama 3 bulan terakhir. Bayangkan sel darah merah seperti kapal kargo yang berkeliling di tubuh Anda selama 120 hari. Gula darah yang tinggi akan menempel pada "kapal" itu. Semakin tinggi gula darah Anda dalam 3 bulan terakhir, semakin banyak gula yang menempel. Inilah mengapa HbA1c sekarang menjadi gold standard (standar baku) untuk mendiagnosis prediabetes dan diabetes, termasuk yang direkomendasikan oleh organisasi kesehatan dunia WHO dan American Diabetes Association (ADA).
Follow Dr. Indra on Instagram
RSS Feed