Pernah mendengar virus Marburg? Mungkin namanya tidak sepopuler Ebola, padahal mereka berasal dari keluarga virus yang sama (Filoviridae) dan sama-sama mematikan. Kabar terbaru datang dari Afrika Timur. Pada Januari 2026, Ethiopia baru saja menyatakan wabah Marburg pertamanya berakhir setelah 19 kasus dengan tingkat kematian 64,3%. Sebelumnya, Rwanda juga mengalami wabah pada akhir 2024 dengan 66 kasus. Namun, ada kabar baik yang sangat penting, yaitu tingkat kematian di Rwanda hanya 22,7%, jauh lebih rendah dari rata-rata historis 24-88%. Rahasianya adalah deteksi dini, perawatan suportif yang agresif, dan penggunaan obat investigasional seperti Remdesivir serta terapi antibodi monoklonal. Ini membuktikan bahwa Marburg tidak selalu berarti kematian, asalkan ditangani dengan cepat dan benar.
Virus Marburg pertama kali diidentifikasi pada tahun 1967 setelah wabah di laboratorium di Marburg dan Frankfurt (Jerman) serta Beograd (Serbia). Saat itu, peneliti terpapar dari monyet hijau Afrika (Chlorocebus aethiops) yang diimpor dari Uganda. Sejak saat itu, wabah sporadis telah terjadi di berbagai negara Afrika, termasuk Angola, Republik Demokratik Kongo, Uganda, Ghana, Guinea Khatulistiwa, Tanzania, Kenya, Rwanda, dan terbaru Ethiopia. Virus Marburg adalah hemorrhagic fever virus (virus demam berdarah), sama seperti Ebola, Dengue, atau yellow fever. Artinya, virus ini dapat menyebabkan perdarahan di berbagai organ, kebocoran pembuluh darah, syok, hingga kegagalan multiorgan. Sumber alami (natural reservoir) virus ini adalah kelelawar buah (Egyptian rousette bat, Rousettus aegyptiacus). Kelelawar ini tidak sakit karena virus, tapi bisa menularkannya ke manusia melalui kontak dengan urine, feses, air liur, atau darah mereka. Manusia kemudian menularkan ke manusia lain melalui kontak langsung dengan darah, cairan tubuh, atau permukaan yang terkontaminasi.
Follow Dr. Indra on Instagram
RSS Feed