Jika kita perhatikan, keluhan tentang kelelahan selama Ramadan hampir selalu muncul dalam percakapan sehari-hari. Ada yang bilang bangun sahur terasa sangat berat. Ada pula yang mengeluh siang hari mengantuk tak tertahankan, sore lemas, tapi malam setelah tarawih malah sulit tidur. Siklus ini sering dianggap sebagai konsekuensi wajar bulan puasa. Kita maklum, karena jadwal berubah, pola makan bergeser, dan waktu tidur berkurang. Padahal, di balik semua keluhan itu, ada satu faktor kunci yang sering kita lupakan: tidur. Bukan sekadar tidur, tetapi tidur yang berkualitas. Ramadan seharusnya dijalani dengan semangat, dengan tubuh yang bugar, agar ibadah terasa ringan dan bermakna. Bukan dengan tubuh yang terus-terusan lelah, sehingga Ramadan hanya lewat begitu saja.
Selama ini, tidur sering dianggap "waktu mati", saat tubuh berhenti beraktivitas, tidak ada yang terjadi. Anggapan ini keliru. Justru saat kita tidur, otak dan tubuh sedang bekerja keras. Secara ilmiah, tidur adalah proses aktif di mana otak melakukan konsolidasi memori, memilah informasi yang penting dan membuang yang tidak perlu. Di saat yang sama, tubuh melakukan perbaikan sel-sel yang rusak, memperkuat sistem imun, dan membersihkan racun dari otak melalui mekanisme yang disebut glymphatic system. Tidur yang cukup ibarat mengisi ulang baterai tubuh. Tidur yang berkualitas adalah memastikan proses "isi ulang" itu berjalan optimal. Sayangnya, selama Ramadan, tantangan untuk mendapatkan tidur berkualitas justru meningkat.
Follow Dr. Indra on Instagram
RSS Feed