Pernahkah Anda melihat seorang kakek berusia 75 tahun masih bersepeda keliling komplek dengan badan bugar, sementara teman sebayanya yang lain sudah duduk di kursi roda dan lupa siapa nama cucu sendiri? Apa perbedaannya? Bukan keberuntungan atau genetik semata. Tapi pilihan. Selama ini kita terlalu sibuk mengejar life span (panjang umur). Kita bangga kalau ada yang hidup sampai 90 tahun. Tapi jarang bertanya, 90 tahun itu dalam keadaan bagaimana, apakah masih bisa jalan, masih bisa tertawa, masih bisa menggendong cucu; atau 30 tahun terakhir hanya dihabiskan bolak-balik rumah sakit.
Berdasarkan data BPS dan Kemenkes, harapan hidup saat lahir di Indonesia saat ini sekitar 71,7 tahun. Tapi Healthy Life Expectancy (HALE) atau “harapan hidup dalam kondisi sehat,” hanya sekitar 62,5 tahun. Artinya, rata-rata ada 9,2 tahun ketika seseorang mungkin masih hidup, tetapi sudah kehilangan sebagian atau seluruh kemandiriannya karena penyakit kronis, disabilitas, atau penurunan fungsi tubuh. Sembilan tahun lebih itu bukan sekadar angka statistik. Itu adalah potensi tahun-tahun yang seharusnya dapat diisi dengan berkumpul bersama keluarga, menikmati hobi, atau tetap berkontribusi. Tapi justru terampas oleh keterbatas-an kesehatan. Dan kabar baiknya, bahwa ini bukan takdir. Ini adalah akumulasi pilihan. Penyebab utama kesenjangan itu adalah gaya hidup yang dijalani selama ini yang men-jelma menjadi penyakit-penyakit yang sebenarnya dapat dikelola atau dicegah. Kondisi yang tidak datang tiba-tiba, tetapi merayap pelan selama 20-30 tahun sebelumnya.
Follow Dr. Indra on Instagram
RSS Feed