Dr. Indra K. Muhtadi - "dokter plus"
  • Home
    • My Curriculum Vitae
    • Dr. Indra on Media
  • What's New
  • Health & Wellness Influencer & Motivator
    • Retirement Preparation from Health Point of View
    • Stres untuk Hebat
    • Health Topic Seminars
    • The Secret of Healthy Life Style
    • Company Health Management
    • Stop Smoking Course
    • Quality Service Excellent
    • Change Leadership Training and Self Improvement
    • Smile in Assertive Communication
    • Assertive Communication Skills
    • Employee Counseling for Productivity
    • Managerial Skills and Self Leadership Skills
    • Motivation and Job Satisfaction
  • Dr. Indra's Books
    • Book: "SENIOR untuk HEBAT"
    • Book: "STRES untuk HEBAT"
    • Book: "SEHAT untuk HEBAT"
    • Book: "Revolusi Mental"
  • Blog: Medical Articles
    • Blog Index (A to Z)
    • Blog Index (by category)
    • Blog Articles: 2026
    • Blog Articles: 2025
    • Blog Articles: 2024
    • Blog Articles: 2023
    • Blog Articles: 2022
    • Blog Articles: 2021
    • Blog Articles: 2020
    • Blog Articles: 2019
    • Blog Articles: 2018
    • Blog Articles: 2017
    • Blog Articles: 2016
    • Blog Articles: 2015
    • Blog Articles: 2014
    • Blog Articles: 2013
    • Blog Articles: 2012
    • Blog Articles: 2011
    • Blog Articles: 2010
  • Health Consultant (Praktek)
    • Adult Vaccination
  • Health Tips Video
  • Health Calculator
    • BMI Calculator
    • Advanced BMI Calculator
    • BMI Calculator for Children
    • Ideal Body Weight Calculator
    • Exercise Calorie Calculator
    • Daily Calorie Calculator
    • Liquid Calorie Calculator
  • Health Pictures
  • My Travel and Other Blog
  • ABN Group
  • References & Partners
  • Contact Me

Topik ke-569: Paradoks Tekanan Darah, Ketika Jantung Bisa Pusing Sendiri

13/3/2026

0 Comments

 
Picture
Pendahuluan
Pernah mengalami ini? Anda bangun dari tempat tidur, lalu tiba-tiba dunia serasa berputar. Atau setelah duduk lama di kantor, Anda berdiri dan pandangan terasa gelap beberapa detik. "Ah, biasa," pikir Anda. "Mungkin kurang minum, atau kecapekan." Tapi ternyata, pusing saat berdiri bisa jadi alarm tubuh yang tidak boleh diabaikan. Bukan sekadar dehidrasi biasa misalnya, tapi sinyal dari sistem kelistrikan tubuh Anda, yang disebut sistem saraf otonom, sedang bermasalah. Lebih menariknya lagi, beberapa orang justru mengalami kebalikannya. Tekanan darah mereka melonjak saat berdiri. Atau naik drastis saat berbaring tidur. Satu tubuh, tiga kondisi berbeda, semua bikin pusing. Inilah yang saya sebut paradoks tekanan darah, ketika jantung sendiri "pusing" mengatur ritmenya.

Pengenalan Konsep 3 Gejala Berbeda
Mari kita pahami dulu sistem canggih dalam tubuh. Setiap kali bergerak, dari berbaring ke duduk atau dari duduk ke berdiri, gravitasi langsung bekerja. Darah yang tadinya tersebar merata, tiba-tiba tertarik ke kaki. Dalam kondisi normal, tubuh langsung bereaksi dengan mengerutkan pembuluh darah di kaki, denyut jantung sedikit meningkat. Semua terjadi otomatis, tanpa disadari. Sutradaranya adalah sistem saraf otonom, sistem yang mengatur semua fungsi otomatis tubuh seperti tekanan darah, denyut jantung, pernapasan, pencernaan, bahkan keringat. Bekerja 24 jam tanpa libur, tanpa perlu diperintah. Tapi pada sebagian orang, sistem canggih ini mulai kacau. Respon terhadap perubahan posisi menjadi tidak tepat. Akibatnya, tekanan darah bisa bereaksi dengan tiga cara berbeda:
  1. Orthostatic hypotension, tensi turun saat berdiri
  2. Orthostatic hypertension, tensi naik saat berdiri
  3. Supine hypertension, tensi tinggi saat berbaring.
Kondisi 1: Orthostatic Hypotension
Inilah yang paling umum dikenal dan yang paling sering dikeluhkan, yaitu tekanan darah turun saat berdiri. Secara medis, orthostatic hypotension ditegakkan jika tekanan darah sistolik (angka atas) turun 20 mmHg atau lebih, atau diastolik (angka bawah) turun 10 mmHg atau lebih, dalam 0-3 menit setelah berdiri. Gejalanya klasik, yaitu pusing, pandangan berkunang-kunang, lemas, kadang sampai pingsan. Yang menarik, penelitian di Age and Ageing tahun 2021 menunjukkan bahwa sekitar 28% lansia mengalami kondisi ini. Tidak semua bergejala, tapi risikonya nyata seperti jatuh, patah tulang, dan cedera kepala. Penyebabnya beragam, dari mulai dehidrasi, efek samping obat (terutama obat hipertensi dan antidepresan), atau gangguan saraf seperti diabetes dan Parkinson. Kadang juga terjadi setelah makan besar, saat darah banyak mengalir ke pencernaan, membuat otak kekurangan pasokan.
 
Kondisi 2: Orthostatic Hypertension
Sekarang bayangkan kebalikannya, yang sama saja berbahayanya. Ketika penderita berdiri, tensi bukannya turun, tapi malah melonjak naik. Menurut proposal konsensus di American Autonomic Society tahun 2023, kondisi ini didefinisikan sebagai kenaikan sistolik ≥20 mmHg saat berdiri. Ironisnya, gejalanya hampir mirip, yaitu pusing, jantung berdebar, atau mual. Bedanya, penderita juga bisa merasakan tegang di kepala atau keringat dingin. Pingsan lebih jarang, tapi risikonya tetap ada. Orthostatic hypertension sering tidak terdeteksi. Pasien datang dengan keluhan pusing, dokter mengukur tekanan darah dalam posisi duduk yang tentu saja hasilnya normal. Padahal masalahnya muncul saat pasien berdiri. Ini yang membuat kondisi ini disebut "hipertensi siluman.” Yang mengkhawatirkan, penelitian tahun 2019 di Journal of Clinical Hypertension menemukan bahwa remaja dan dewasa muda dengan kenaikan tekanan darah saat berdiri (bahkan hanya 5 mmHg) berisiko lebih tinggi mengembangkan hipertensi menetap di kemudian hari.
 
Kondisi 3: Supine Hypertension
Kondisi ketiga ini mungkin paling tidak terpikirkan, saat tekanan darah justru naik saat berbaring. Definisi medisnya yaitu saat tekanan sistolik ≥140 mmHg atau diastolik ≥90 mmHg setelah 0-5 menit berbaring. Uniknya, 50% pasien dengan neurogenic orthostatic hypotension (hipotensi akibat gangguan saraf) juga mengalami supine hypertension. Inilah paradoks yang membingungkan dokter karena sekalipun pasien bisa pusing saat berdiri, tapi tekanan darahnya melonjak saat tidur malam. Penyebab utamanya adalah disfungsi sistem saraf otonom, sering terkait penyakit Parkinson atau multiple system atrophy (MSA). Pada penderita Parkinson, supine hypertension ditemukan pada 46% pasien, sementara pada MSA angkanya mencapai 37%. Yang berbahaya, pasien sering tidak tahu. Gejalanya minimal dan kadang hanya sakit kepala pagi atau sering bangun malam untuk buang air kecil akibat ginjal yang "kebanjiran" tekanan. Tapi dampak jangka panjangnya serius, seperti risiko stroke, kerusakan ginjal, dan gangguan kognitif meningkat.

Baca artikel lainnya di Blog dr. Indra K. Muhtadi
Picture
Relevansinya Di Indonesia
Indonesia memiliki tantangan unik terhadap paradoks tekanan darah ini.
  • Pertama, populasi lansia Indonesia terus bertambah. Badan Pusat Statistik mencatat, persentase lansia mencapai 10,8% di tahun 2022. Dan seperti kita tahu, gangguan regulasi tekanan darah meningkat seiring usia. Semakin banyak lansia, semakin banyak kasus pusing berdiri yang tidak terdiagnosis.
  • Kedua, budaya "langsung bangun" tanpa adaptasi. Banyak dari kita terbiasa bangun tidur lalu langsung berdiri karena takut kesiangan sholat subuh, ke kamar mandi, atau ke dapur, tanpa jeda. Padahal memberikan waktu 1-2 menit duduk di tepi tempat tidur bisa mencegah episode pusing yang berisiko jatuh.
  • Ketiga, kebiasaan minum obat tanpa informasi detil mengenai waktu minum obatnya. Pasien hipertensi sering minum obat malam hari sebelum tidur. Tapi jika ia juga punya kecenderungan orthostatic hypotension, obat malam justru bisa memperparah pusing saat bangun pagi. Waktu minum obat menjadi krusial.
  • Keempat, tantangan diagnosis. Di banyak fasilitas kesehatan, tekanan darah hanya diukur dalam posisi duduk. Padahal untuk mendeteksi masalah ini, pengukuran harus dilakukan dalam tiga posisi: berbaring, duduk, dan berdiri. Standar ini belum menjadi praktik rutin di banyak tempat.
 
Mitos yang Perlu Diluruskan
  • Mitos 1: "Pusing berdiri itu biasa, kurang minum saja."
Tidak selalu. Dehidrasi memang bisa menyebabkan pusing berdiri, tapi jika terjadi berulang, apalagi sampai hampir pingsan, bisa jadi itu sinyal gangguan saraf otonom. Jangan hanya mengandalkan minum air, periksakan diri ke dokter.
  • Mitos 2: "Yang penting tekanan darah normal saat duduk."
    Belum tentu. Pasien dengan orthostatic hypertension bisa punya tekanan duduk normal, tapi saat berdiri melonjak. Sebaliknya, pasien supine hypertension bisa punya tekanan normal siang hari, tapi tinggi saat tidur malam. Pengukuran yang komprehensif sangat penting.
  • Mitos 3: "Kalau tekanan darah naik saat berdiri, berarti sehat."
    Salah besar. Kenaikan tekanan darah saat berdiri bukan tanda kebugaran, tapi bisa jadi indikasi sistem saraf yang bekerja terlalu keras. Dalam jangka panjang, ini bisa memicu hipertensi menetap dan komplikasi kardiovaskular.
 
Faktor Resiko Paradoks Tekanan Darah
  1. Lansia (65+ tahun) berada di urutan pertama. Proses penuaan alami membuat refleks baroreseptor yaitu sensor tekanan darah di pembuluh darah, bekerja lebih lambat. Akibatnya, respon terhadap perubahan posisi tidak secepat dulu, ketika di usia muda.
  2. Penderita diabetes juga rentan. Neuropati diabetik bisa merusak saraf otonom, mengganggu kemampuan tubuh mengatur tekanan darah. Pasien diabetes dengan keluhan pusing berdiri perlu dievaluasi lebih teliti.
  3. Pasien Parkinson dan gangguan saraf lainnya menghadapi risiko tertinggi. Kombinasi orthostatic hypotension dan supine hypertension sering terjadi pada mereka, menciptakan dilema tata laksana yang kompleks, karena kondisi tekanan darah tinggi dan rendah ada terjadi pada penderita yang sama.
  4. Mengonsumsi obat-obatan tertentu, seperti diuretik, antidepresan, obat hipertensi, dan obat Parkinson. Interaksi obat bisa memicu atau memperburuk kondisi paradoks tekanan darah ini.
 
Tantangan Tata laksana Bagi Dokter
Di sinilah letak keahlian sejati para dokter. Membayangkan pasien yang pusing saat berdiri tapi tekanan darahnya melonjak saat tidur. Seperti bermain timbangan, memberikan obat untuk tekanan darah rendah bisa membuat tekanan darah saat berbaring naik berbahaya. Sebaliknya, obat untuk menurunkan tekanan darah saat tidur bisa membuat pasien semakin pusing saat bangun. Dokter harus cermat memilih jenis obat, dosis tepat, dan yang paling krusial yaitu mengatur waktu pemberian dengan presisi. Ada yang diberi obat tekanan darah dosis sangat rendah hanya saat mau tidur. Ada pula yang diatur jadwal minum obat hipotensinya 3-4 jam sebelum berbaring. Inilah seni kedokteran. Membaca tubuh pasien, memahami ritme hariannya, dan meracik solusi personal. Tidak ada resep seragam, karena setiap pasien adalah teka-teki yang berbeda.
 
Kesiapsiagaan, Yang Bisa Dilakukan
Untuk masyarakat umum:
  1. Berdiri secara bertahap. Setelah bangun tidur, duduk dulu 1-2 menit di tepi tempat tidur, baru berdiri perlahan.
  2. Hidrasi cukup. Minum air putih minimal 2 liter sehari, dan ditingkatkan jika cuaca panas atau banyak beraktivitas.
  3. Perhatikan waktu minum obat. Jika minum obat hipertensi dan sering pusing saat berdiri, diskusikan dengan dokter kemungkinan penyesuaian jadwal minum obatnya.
 
Untuk mereka yang sudah terdiagnosis:
  1. Lakukan monitoring mandiri. Ukur tekanan darah dalam tiga posisi, yaitu berbaring, duduk, dan berdiri. Catat dan laporkan ke dokter.
  2. Kenali faktor pencetus. Apakah terjadi setelah makan besar, saat pagi hari, saat cuaca panas, dll. Hindari atau antisipasi situasi tersebut.
  3. Pertimbangkan kompresi. Stoking elastis atau stoking kompresi bisa membantu mencegah darah terkumpul di kaki.
 
Khusus untuk pasien dengan supine hypertension:
  1. Tidur dengan posisi kepala lebih tinggi. Ganjal tempat tidur atau gunakan bantal tambahan hingga elevasi 30 derajat (sekitar 15-20 cm).
  2. Cemilan sebelum tidur. Makanan tinggi karbohidrat ringan sebelum tidur bisa membantu menurunkan tekanan darah dengan mengalirkan darah ke sistem pencernaan. Hati-hati bila sudah memiliki penyakit kencing manis, karena mengemil sebelum tidur juga akan meningkatkan gula darah.
 
Penutup
Tubuh kita adalah sistem yang luar biasa kompleks. Tekanan darah yang naik turun mengikuti perubahan posisi adalah hal normal, selama dalam batas wajar. Tapi ketika responsnya berlebihan, terlalu rendah atau terlalu tinggi, itu alarm yang perlu didengar. Jangan anggap remeh pusing saat berdiri. Jangan puas hanya karena tekanan darah duduk normal. Kenali tubuh kita, pahami sinyalnya, dan jangan ragu berkonsultasi dengan dokter. Karena dalam banyak kasus, deteksi dini bisa mencegah komplikasi serius di kemudian hari. Ingat, jantung kita bekerja keras setiap detik. Jangan biarkan ia "pusing" sendirian.

©IKM 2026-03
0 Comments



Leave a Reply.

    Home >> Medical Articles >> 2026

    Medical Articles 2026

    Picture
    Lihat daftar artikel lainnya, click pada gambar

    Picture
    Panduan komprehensif untuk mereka yang menuju atau telah memasuki masa purna bakti.

    Bila Anda suka dengan blog ini, silakan "like" artikelnya di bagian bawah setiap artikel dan silakan menikmati artikel lainnya pada blog tahun 2023. Click di sini.

    Picture

    Author

    Dr. Indra K. Muhtadi adalah seorang Health Influencer dan konsultan pada berbagai professional training di Indonesia.

    Sebagai dokter, ia sangat piawai memberikan konsultasi kesehatan dengan bahasa ringan sehingga membuat masalah medis menjadi sesuatu yang mudah untuk dipahami.

    Click di sini untuk berkonsultasi dengan Dr. Indra

    These Blogs are written in Bahasa Indonesia. I hope these blogs can help those who search the information about the topic discussed in the radio.  Feel free to give comments and if you need an English version of the content from these blogs, please don't hesitate to contact me.


    Instagram Follow Dr. Indra on Instagram
    Follow @indrakm

    Archives

    April 2026
    March 2026
    February 2026
    January 2026

    Categories

    All
    Ancaman Untuk DIpahami
    Campak Pada Dewasa
    Dari Dandang Ke Rice Cooker
    Flu Biasa Yang Tidak Biasa
    Hormon-Hormon Bahagia
    Lebih Mematikan
    Mengenal Glutamat Dengan Bijak
    Paradoks Tekanan Darah
    Parkinson Tak Kenal Usia
    Probiotik Dan Prebiotik
    Puasa Saat Tubuh Tidak Baik-Baik Saja
    Ramadan Tanpa Lelah
    Sama Penting Tapi Tidak Sama
    Super Flu
    Virus Nipah


    Saya tidak mencantumkan rujukan atau sumber dari artikel yang saya tulis, karena akan menambah panjang body dari posting-an blog-nya.
    Bila ada yang memerlukan silakan hubungi saya di contac me. Saya dengan senang hati akan menginfokannya.


    Disclaimer

    All data and statements in all articles in these blogs on this website were true at the time of writing. Some update may be required.

    The Content is not intended to be a substitute for professional medical advice, diagnosis, or treatment. Always seek the advice of your physician or other qualified health provider with any questions you may have regarding a medical condition.

    Picture
    Terima kasih untuk mendukung usaha saya dan berbagi informasi
    Thank you for supporting my effort and sharing my knowledge


    Picture

    Infographic
    of the week
    Picture
    Campak pada Dewasa, Ketika Penyakit "Anak-Anak" Lebih Mematikan

    Navigation:
    Back to Blog Main Page
    Back to Blog Index

    RSS Feed

Proudly powered by Weebly