Pernah melihat seseorang dengan tangan yang gemetar tak terkendali, lalu Anda berpikir, "Oh, pasti Parkinson." Atau sebaliknya, Anda merasa lupa-lupa terus dan berkata, "Ah, wajar lah, mulai tua." Tapi bagaimana jika gemetar itu muncul di usia 30 tahun? Atau mudah lupa itu ternyata bukan karena stres, melainkan awal dari penyakit neurodegeneratif yang selama ini kita kaitkan dengan lansia? Hari Parkinson Sedunia baru saja diperingati pada 11 April 2026 lalu. Tapi di Indonesia, masih banyak yang belum paham bahwa Parkinson bukan hanya tentang tremor, dan yang lebih mengejutkan penyakit ini kini menyerang usia produktif, bahkan remaja.
Penyakit ini sebenarnya sudah dikenal ribuan tahun lalu. Dalam pengobatan Ayurveda kuno (~1000 SM), kondisi bernama Kampavata yang gejalanya sangat mirip Parkinson bahkan sudah diobati dengan tanaman Mucuna pruriens, yang belakangan diketahui secara alami mengandung levodopa, obat utama Parkinson hingga saat ini. Dokter Romawi kuno bernama Galenus (129–200 M) juga sudah membedakan tremor saat istirahat versus tremor saat bergerak. Namun, baru pada tahun 1817, seorang dokter sekaligus ahli geologi asal London bernama James Parkinson menerbitkan esai berjudul "An Essay on the Shaking Palsy" setebal 66 halaman. Uniknya, dari 6 kasus yang ia laporkan, 3 di antaranya ia amati hanya dari berjalan di jalanan London. Baru 60 tahun kemudian, Jean-Martin Charcot yang dijuluki "Bapak Neurologi Klinis" mengusulkan nama "La Maladie de Parkinson" untuk menghormati James Parkinson, sekaligus melengkapi gejala inti yang tidak disebut oleh James. Kini, bunga tulip merah-putih atau "James Parkinson Tulip" menjadi simbol Hari Parkinson Sedunia setiap 11 April, hari ulang tahun James Parkinson.
Parkinson adalah gangguan neurodegeneratif yang menyerang sistem saraf, terutama bagian otak yang mengatur gerakan tubuh. Secara sederhana, otak kehilangan kemampuan memproduksi dopamin, zat kimia yang bertugas mengirim sinyal dari otak ke otot untuk bergerak. Ketika dopamin menipis, sinyal menjadi kacau. Tubuh pun bergerak tidak sebagaimana mestinya. Yang sering luput dari perhatian adalah bahwa Parkinson bukan hanya penyakit motorik (gerak). Ada dimensi non-motorik yang sering muncul lebih dulu, bahkan bertahun-tahun sebelum tremor terlihat yang justru harus lebih diwaspadai.
Gejala Parkinson
Gejala parkinson terbagi dua antara gejala motorik dan gejala non-motorik:
A. Gejala motorik (gangguan gerak), yang paling dikenal dan inilah gejala yang membuat orang awam langsung menyebut "Parkinson":
- Tremor (gemetar) saat istirahat. Tangan gemetar ketika diam, misalnya diletakkan di pangkuan. Saat dipakai untuk mengambil gelas misalnya, gemetar justru berku-rang. Ini pembeda utama dengan tremor jenis lain.
- Bradikinesia (gerakan melambat). Aktivitas sederhana seperti mengancingkan baju, menulis, atau berbalik di tempat tidur terasa berat dan lambat. Tulisan tangan menjadi lebih kecil dari biasanya (micrographia), ini bisa menjadi tanda paling awal yang sering tidak disadari.
- Kekakuan otot (rigidity). Otot terasa kaku, seperti karet yang tidak bisa meregang. Penderita sering mengeluh bahu atau leher terasa tegang, dan kadang salah didiagnosis sebagai saraf kejepit.
- Gangguan keseimbangan (postural instability). Gejala yang muncul di tahap lanjut. Penderita mudah jatuh karena tubuh tidak bisa cepat menyesuaikan keseimbangan saat berdiri atau berbelok. Postur tubuh juga bisa menjadi membungkuk (stooped posture), seperti akan jatuh ke depan.
B. Gejala Non-Motorik, yang sering lebih dulu muncul:
- Depresi dan kecemasan, muncul sebelum gejala moto-rik terlihat. Wanita dengan Parkinson cenderung lebih sering mengalami depresi dan nyeri dibandingkan pria.
- Gangguan tidur seperti REM Sleep Behavior Disorder (RBD), yaitu melakukan aktivitas mimpi (seperti berteriak, menendang, memukul) saat tidur. Kondisi ini lebih sering terjadi pada pria, lansia, dan mereka dengan gejala Parkinson yang lebih berat.
- Sering sembelit yang bisa muncul bahkan 10-20 tahun sebelum diagnosis.
- Gangguan penciuman seperti tidak bisa mencium bau yang aromanya kuat seperti pisang atau kopi.
- Kelelahan ekstrem tanpa sebab yang jelas.
- Perubahan suara dan kecepatan bicara menjadi lebih pelan, serak, atau tanpa intonasi. Penderita juga bisa berbicara sangat cepat tanpa disadari.
- Masking (wajah topeng). Ekspresi wajah menjadi kaku seperti topeng, jarang berkedip, terlihat serius meskipun sedang bercanda. Ini terjadi karena otot-otot wajah "membeku".
Baca artikel lainnya di Blog Dr. Indra K. Muhtadi
Selama ini kita diajari bahwa Parkinson adalah "penyakit orang tua." Mitos itu sudah gugur. Young-Onset Parkinson's Disease (YOPD) atau Parkinson usia muda adalah kondisi di mana gejala muncul sebelum usia 50 tahun, bahkan ada yang terdiagnosis di usia 20-30 tahun. Beberapa pemicu utama Parkinson usia muda dan yang juga menjadi faktor risiko terkena Parkinson adalah:
- Gaya hidup tidak sehat. Sering begadang (mengacaukan hormon, termasuk dopamin), konsumsi alkohol berlebihan, dan penyalahgunaan narkoba (langsung menurunkan fungsi otak).
- Trauma kepala. Pernah mengalami benturan keras di kepala, misalnya karena kecelakaan atau olahraga kontak. Gejala Parkinson akan muncul beberapa tahun kemudian, bukan langsung setelah kejadian.
- Paparan zat kimia industri. Pestisida, logam berat (terutama mangan), dan pelarut industri tertentu meningkatkan risiko. Air sumur daerah pertanian yang terkontaminasi pestisida juga menjadi faktor risiko.
- Faktor genetik. Sekitar 27% penderita Parkinson onset dini memiliki mutasi pada salah satu gen seperti GBA, LRRK2, atau PARK2. Memiliki gen ini tidak berarti pasti, namun meningkatkan risiko terkena Parkinson
- Jenis kelamin. Pria 1,5 kali lebih sering terkena Parkinson dibandingkan wanita. Diduga hormon estro-gen memiliki efek perlindungan terhadap penyakit ini.
Parkinson Berbeda antara Pria dan Wanita
Inilah yang jarang dibahas. Parkinson tidak selalu sama antara pria dan wanita:
- Usia onset. Wanita cenderung terkena 2 tahun lebih lambat daripada pria.
- Gejala awal. Pada wanita, tremor biasanya menjadi gejala dominan. Pada pria, masalah keseimbangan dan postur lebih sering muncul lebih dulu.
- Kualitas hidup. Wanita dengan Parkinson melaporkan kualitas hidup yang lebih rendah karena nyeri dan depresi yang lebih sering terjadi.
- Pengobatan. Wanita terpapar dosis levodopa (obat utama Parkinson) lebih tinggi dan lebih rentan terhadap efek samping seperti gerakan tak terkendali (dyskinesia). Wanita juga cenderung lebih lambat mencari pertolongan ke dokter spesialis dengan rata-rata 61% lebih lama dibanding pria.
- Terapi Deep Brain Stimulation (DBS). Wanita lebih jarang menjalani prosedur ini karena preferensi pribadi atau karena gejala dyskinesia yang lebih berat.
Mitos vs. Fakta Seputar Parkinson
Mitos: “Parkinson hanya menyebabkan gemetar.”
Fakta: Gemetar hanya satu dari banyak gejala. Parkinson juga menyebabkan kekakuan otot, gerakan melambat, gangguan keseimbangan, depresi, sembelit, gangguan tidur, perubahan suara, dan wajah topeng.
Mitos: “Parkinson hanya menyerang orang tua.”
Fakta: Parkinson usia muda (YOPD) semakin umum ditemukan, bahkan pada usia 20-30 tahun.
Mitos: “Parkinson adalah penyakit kutukan atau kesurupan.”
Fakta: Ini adalah penyakit medis yang jelas penyebabnya: kerusakan sel saraf penghasil dopamin di otak. Bisa diobati, meski belum bisa disembuhkan total.
Mitos: “Orang dengan Parkinson tidak bisa bekerja.”
Fakta: Banyak penderita YOPD yang tetap produktif dengan pengobatan dan terapi yang tepat. Satu kasus di Indonesia, ia tetap bisa menjadi trainer meskipun didiagnosis Parkinson di usia 33 tahun.
Mitos: “Jika tangan gemetar, pasti terkena Parkinson.”
Fakta: Belum tentu. Ada kondisi lain yang bisa meniru Parkinson, seperti essential tremor, drug-induced parkinsonism (akibat efek samping obat), hingga multiple system atrophy. Bahkan depresi berat pun bisa menyebabkan gerakan melambat yang mirip Parkinson.
Jika Terdiagnosis Parkinson
- Jangan panik, Parkinson bukan akhir segalanya. Dengan pengobatan yang tepat, banyak penderita tetap hidup produktif hingga 20-30 tahun setelah diagnosis.
- Konsultasi ke dokter spesialis saraf. Idealnya ke Movement Disorder Center yang menawarkan layanan multidisiplin termasuk terapi obat, rehabilitasi, hingga prosedur canggih Deep Brain Stimulation (DBS).
- Patuhi jadwal minum obat. Obat Parkinson (seperti levodopa) harus diminum tepat waktu. Keterlambatan sedikit saja bisa membuat gejala muncul tiba-tiba.
- Ikuti fisioterapi dan terapi okupasi. Latihan rutin membantu mempertahankan kemampuan gerak dan kemandirian dalam hidup keseharian.
- Jangan isolasi diri. Bergabunglah dengan komunitas seperti Parkinson Indonesia atau Bali Parkinson Warriors (BAPARWA) yang aktif memberikan edukasi dan dukungan.
- Diskusikan dengan dokter jika Anda wanita. Karena wanita cenderung memiliki respons berbeda terhadap obat dan lebih berisiko efek samping, jangan ragu meminta penyesuaian dosis.
Pencegahan Parkinson
- Jaga gaya hidup sehat sejak muda. Hindari kebiasaan begadang, konsumsi alkohol, dan penggunaan narkoba. Olahraga rutin minimal 180 menit per minggu.
- Lindungi kepala Anda. Gunakan helm saat naik motor, dan hindari olahraga dengan risiko benturan kepala berulang tanpa perlindungan.
- Perhatikan gejala awal. Jika Anda atau keluarga mengalami tremor ringan, gerakan terasa melambat, sembelit kronis, kehilangan kemampuan mencium bau, atau perubahan suara bicara menjadi lebih pelan, segera konsultasikan ke dokter saraf.
- Perhatikan tulisan tangan. Jika tulisan tangan Anda tiba-tiba menjadi lebih kecil dan sesak dari biasanya (micrographia), ini bisa menjadi tanda awal yang sering diabaikan.
Penutup: Lebih dari 1 Juta Saudara Kita Berjuang
Data Kementerian Kesehatan memperkirakan jumlah penderita Parkinson di Indonesia telah melampaui 1,1 juta orang pada tahun 2025, dengan sekitar 80.000 kasus baru setiap tahunnya. Bayangkan, satu kota sebesar Yogyakarta penuh dengan penderita Parkinson. Mereka adalah kakek, nenek, ibu, bapak, bahkan anak muda yang masih produktif karena Parkinson bukan hanya milik lansia. Ini adalah penyakit neurologis nyata yang perlu dipahami. Jika diri sendiri atau anggota keluarga dekat dan teman ada yang mengalami tanda awal di atas jangan tunggu sampai jatuh. Segera konsultasi. Karena deteksi dini adalah kunci untuk memperlambat perjalanan penyakit dan menjaga kualitas hidup. Ingat, otak kita adalah satu-satunya organ yang belum bisa diganti. Jaga ia dengan baik.
©IKM 2026-04
Follow Dr. Indra on Instagram
RSS Feed