Dr. Indra K. Muhtadi - "dokter plus"
  • Home
    • My Curriculum Vitae
    • Dr. Indra on Media
  • What's New
  • Dr. Indra's Books
    • Book: "SENIOR untuk HEBAT"
    • Book: "STRES untuk HEBAT"
    • Book: "SEHAT untuk HEBAT"
    • Book: "Revolusi Mental"
  • Blog: Medical Articles
    • Blog Index (A to Z)
    • Blog Index (by category)
    • Blog Articles: 2026
    • Blog Articles: 2025
    • Blog Articles: 2024
    • Blog Articles: 2023
    • Blog Articles: 2022
    • Blog Articles: 2021
    • Blog Articles: 2020
    • Blog Articles: 2019
    • Blog Articles: 2018
    • Blog Articles: 2017
    • Blog Articles: 2016
    • Blog Articles: 2015
    • Blog Articles: 2014
    • Blog Articles: 2013
    • Blog Articles: 2012
    • Blog Articles: 2011
    • Blog Articles: 2010
  • Health & Wellness Influencer & Motivator
    • Retirement Preparation from Health Point of View
    • Stres untuk Hebat
    • Health Topic Seminars
    • The Secret of Healthy Life Style
    • Company Health Management
    • Stop Smoking Course
    • Quality Service Excellent
    • Change Leadership Training and Self Improvement
    • Smile in Assertive Communication
    • Assertive Communication Skills
    • Employee Counseling for Productivity
    • Managerial Skills and Self Leadership Skills
    • Motivation and Job Satisfaction
  • Health Consultant (Praktek)
    • Adult Vaccination
  • Health Calculator
    • BMI Calculator
    • Advanced BMI Calculator
    • BMI Calculator for Children
    • Ideal Body Weight Calculator
    • Exercise Calorie Calculator
    • Daily Calorie Calculator
    • Liquid Calorie Calculator
  • Health Tips Video
  • Health Pictures
  • My Travel and Other Blog
  • ABN Group
  • References & Partners
  • Contact Me

Topik ke-573: Hantavirus, Ketika Tikus Jadi Bom Waktu Mematikan

8/5/2026

0 Comments

 
Picture
Pendahuluan
Pernah membersihkan gudang, lumbung, atau ruangan yang sudah lama tidak dibuka? Atau menyapu kotoran tikus di dapur dengan santainya? Hati-hati. Anda mungkin sedang mengaduk bom waktu. Pada 4 Mei 2026, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengeluarkan peringatan darurat tentang wabah Hantavirus di sebuah kapal pesiar yang berlayar dari Argentina melintasi Atlantik Selatan. Dari 147 orang di kapal, 7 terinfeksi (2 terkonfirmasi lab, 5 suspek), dan 3 di antaranya meninggal dunia. Satu orang lainnya masih kritis di ICU. Kejadian ini membuktikan bahwa Hantavirus tidak kenal tempat. Bisa di kapal pesiar mewah, bisa di gudang rumah kita. Yang mengerikan hampir separuh kasus infeksi berasal dari paparan di sekitar rumah sendiri. Bukan di hutan, bukan di alam liar.

Hantavirus, Bukan Sekadar "Penyakit Tikus"
Hantavirus adalah virus dari genus Orthohantavirus yang dibawa oleh hewan pengerat (Rodentia) seperti tikus, mencit (cecurut), dan vole (tikus sawah). Setiap jenis tikus membawa strain Hantavirus yang berbeda, dan tingkat keganasannya pun bervariasi. Virus ini disebarkan oleh tikus dan hewan pengerat melalui urine, feses, atau air liurnya. Begitu terhirup, virus bisa menyerang paru-paru (menyebabkan gagal napas) atau ginjal (menyebabkan gagal ginjal) dalam hitungan hari. Bahkan dalam kasus di kapal pesiar, seorang pria dewasa meninggal hanya 5 hari setelah gejala pertama muncul. Di Indonesia, kasus Hantavirus mungkin tidak sering dilaporkan. Tapi studi seroprevalensi melaporkan 1 dari setiap 10 orang di Indonesia pernah terpapar Hantavirus, terutama varian Seoul (SEOV). Membuat risikonya menjadi sangat nyata, setiap tempat yang ada tikus menjadi sumber penularan.

Bukan Digigit atau Tersentuh, Tapi Terhirup
Inilah yang paling tidak banyak diketahui orang. Hantavirus termasuk virus airborne. Artinya, seseorang tertular dengan menghirup udara yang terkontaminasi. Ketika kotoran tikus (urine, feses, air liur, atau sarang) kering dan kemudian terkena gerakan, seperti disapu, atau ditiup angin, partikel virus yang sudah mengering akan terbang ke udara dan masuk ke hidung atau mulut. Memang ada jalur penularan lainnya tapi lebih jarang seperti menyentuh benda yang terkontaminasi lalu menyentuh hidung/mulut atau makan makanan yang terkontaminasi kotoran tikus. Penting juga untuk diketahui, bahwa Hantavirus yang beredar di Amerika Utara, Eropa, dan Asia tidak menular antarmanusia. Satu-satunya strain yang diketahui bisa menular antara manusia adalah varian Andes (di Amerika Selatan). Namun, peristiwa di kapal pesiar baru-baru ini menunjukkan bahwa dua kasus pertama (pria dan wanita) adalah kontak dekat, mengingatkan kita bahwa potensi penularan antarmanusia tetap ada untuk strain tertentu.

Faktor Risiko Hantavirus
Seseorang berisiko lebih tinggi terkena Hantavirus jika:
  1. Usia 70 tahun ke atas, risiko kematian lebih tinggi
  2. Pria lebih sering terinfeksi (karena lebih sering terlibat dalam aktivitas berisiko seperti membersihkan gudang, berkebun, pekerjaan konstruksi, dll.)
  3. Orang dengan sistem imun lemah.
  4. Tinggal di daerah pedesaan dengan sawah, ladang, atau di sekitar habitat alami tikus.
  5. Memiliki gudang, lumbung, garasi, atau ruang bawah tanah yang jarang dibersihkan lalu menjadi sarang tikus.
  6. Ada keberadaan tikus di dalam rumah (kotoran terlihat, ada suara tikus di malam hari).
  7. Sering melakukan aktivitas yang mengaduk debu kotoran tikus seperti menyapu atau mengepel area yang ada kotoran tikus, menggunakan blower atau vacuum cleaner di gudang tua, berkebun di area yang mungkin dihuni tikus.
  8. Membuka bangunan yang sudah lama tidak digunakan (gudang, rumah kosong, lumbung padi).
  9. Pekerja konstruksi, utilitas, atau pengendali hama yang sering masuk ke area sempit yang menjadi sarang tikus.
  10. Sering berkemah atau hiking, menggunakan pondok perlindungan di hutan yang mungkin dihuni tikus.
 
Gejala, Waktu Inkubasi, dan Komplikasi Hantavirus
Yang juga membuat Hantavirus berbahaya adalah karena gejalanya sangat mirip flu biasa di awal, sehingga sering diabaikan. Lalu ada dua jenis komplikasi mematikan yang disebabkan oleh Hantavirus:
1.    Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS) yang menyerang paru-paru, dengan tingkat kematian sekitar 38%. Artinya dari 10 orang yang terinfeksi berat, hampir 4 orang meninggal.
2.    Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS) yang menyerang ginjal, dengan tingkat kematian hingga 15%. Gejalanya mirip dengan demam berdarah Dengue.
Sementara waktu inkubasi sejak terpapar hingga terjadi sakit penyakit ini sangat pajang. Penderita bisa terpapar hari ini, dan lupa sama sekali, lalu sebulan kemudian tiba-tiba sesak napas dan masuk ICU. Untuk HPS masa inkubasinya 1-8 minggu, dan untuk HFRS 2-4 minggu.
 
Perjalanan gejalanya sbb.:
Tahap 1: Gejala awal (mirip flu) – Hari ke 1-10
  • Demam tinggi
  • Pegal-pegal seluruh tubuh (otot terasa remuk)
  • Kelelahan ekstrem
  • Sakit kepala
  • Menggigil
  • Mual, muntah, diare
  • Sakit perut

Pada tahap ini, hampir tidak mungkin membedakan Hantavirus dari flu, COVID-19, atau demam berdarah Dengue.

Baca artikel lainnya di Blog Dr. Indra K. Muhtadi
Picture
Tahap 2: Gejala lanjutan – Hari ke 4–10 setelah gejala awal
  1. Untuk HPS (manivestasi di paru-paru):
  • Batuk kering
  • Sesak napas (seperti orang kehabisan udara, padahal sudah tarik napas dalam)
  • Paru-paru terisi cairan (pemeriksaan X-ray akan terlihat "kabut putih")
Kondisi ini bisa berkembang menjadi respiratory failure (gagal napas) dalam hitungan jam. Seperti yang terjadi pada kasus wabah kapal pesiar, seorang pria dewasa (Kasus 1) mengalami gejala awal pada 6 April (demam, sakit kepala, diare ringan), lalu pada 11 April (hanya 5 hari kemudian) mengalami sesak napas berat dan meninggal di kapal pada hari yang sama. Sekitar 40% pasien yang masuk rumah sakit dengan Hantavirus membutuhkan ventilator.
 
B. Untuk HFRS (manivestasi di ginjal):
  • Setelah fase flu, tekanan darah turun drastis (syok)
  • Kebocoran pembuluh darah
  • Retensi cairan (kaki bengkak, sesak)
  • Penurunan produksi urine (tanda gagal ginjal)
  • Perdarahan karena trombosit rendah
Bahkan setelah sembuh dari gejala berat, gejala ringan bisa bertahan 3-6 bulan, bahkan sampai 1 tahun pada sebagian penderitanya.
 
Hantavirus adalah Masalah Lingkungan
Berbeda dengan penyakit infeksi lain, kunci mengendalikan Hantavirus sebenarnya jauh lebih sederhana yaitu, atasi tikusnya, bersihkan lingkungannya, dan edukasi masyarakat sekitarnya. Dalam pedoman Kemenkes, pendekatan yang dianjurkan mulai dari pengendalian tikus secara terpadu, perbaikan sanitasi lingkungan (karena tikus suka tempat kotor dan lembab), sampai komunikasi risiko yang mudah dipahami orang awam. Ini semua menunjukkan bahwa Hantavirus adalah contoh nyata dan sempurna dari pendekatan One Health, karena kesehatan manusia, kesehatan hewan (dalam hal ini tikus sebagai reservoir), dan kesehatan lingkungan jelas tidak bisa dipisahkan satu sama lain. Kalau salah satu terlantar, yang lain juga terkena.
 
Mitigasi dan Pencegahan
Jangan pernah menyapu atau menggunakan vacuum cleaner saat membersihkan kotoran tikus. Karena akan membuat partikel virus yang sudah mengering terbang ke udara dan berisiko terhirup. Yang harus dilakukan jika menemukan kotoran tikus:
  1. Ventilasi ruangan, buka jendela dan pintu selama minimal 30 menit sebelum mulai membersihkan, biarkan udara bersirkulasi dan partikel mengendap.
  2. Kenakan alat pelindung diri (APD):
  • Masker N95 (bukan masker kain biasa, karena virus bisa lolos)
  • Sarung tangan (karet atau latex)
  • Kacamata pelindung (jika ada risiko percikan)
  1. Semprot area dengan larutan disinfektan atau surface disinfectant, biarkan basah selama 5-10 menit untuk menonaktifkan virus.
  2. Gunakan kain atau tisu basah untuk memungut kotoran yang sudah basah. Lalu masukkan ke dalam kantong plastik, ikat rapat, buang ke tempat sampah tertutup.
  3. Setelah selesai:
  • Lepas sarung tangan (balikkan saat melepas).
  • Cuci tangan dengan sabun dan air mengalir dengan cara yang benar.
  • Bersihkan sepatu yang mungkin terkontaminasi.
 
Cara mencegah tikus masuk ke rumah:
  • Tutup semua lubang di dinding, pintu, dan ventilasi yang bisa menjadi jalur tikus (lubang sekecil 1 cm cukup untuk tikus kecil masuk).
  • Pasang perangkap tikus atau hubungi pengendali hama profesional jika ada tanda-tanda keberadaan tikus.
  • Jaga kebersihan dapur. Simpan makanan dalam wadah kedap udara, jangan biarkan sisa makanan terbuka
  • Buang sampah secara teratur dan pastikan tempat sampah tertutup rapat.
  • Pelihara kucing, karena tikus takut dan menjauh bila ada bau atau mengetahui keberadaan kucing.
 
Yang  Dilakukan jika Curiga Terpapar
  1. Langkah 1: Jangan panik. Tidak semua paparan menyebabkan infeksi. Virus harus masuk ke tubuh (biasanya lewat hirupan) dengan dosis yang cukup.
  2. Langkah 2: Perhatikan gejala selama 2 bulan ke depan. Jika dalam 1–8 minggu setelah paparan (terutama 2–6 minggu) seperti uraian di atas.
  3. Langkah 3: Segera ke dokter dan ingatkan dokter tentang paparan tikus. Ini sangat penting karena dokter mungkin langsung mengira flu atau demam berdarah.
  4. Langkah 4: Dokter dapat melakukan pemeriksaan lab untuk mendeteksi antibodi Hantavirus, X-ray dada, dan pemeriksaan darah. Semakin cepat terdiagnosis, semakin besar peluang selamat.
 
Pengobatan dan Vaksin Hantavirus
Saat ini, belum ada obat antivirus untuk mengobati Hantavirus secara spesifik. Dan juga belum ada vaksin untuk Hantavirus yang tersedia. Pengobatan yang diberikan adalah perawatan suportif membantu tubuh bertahan sampai sistem imunnya sendiri mengalahkan virus. Namun ada obat antivirus yang sedang diteliti seperti :
  • Ribavirin yang menunjukkan hasil positif untuk varian virus Hantaan dan Andes, tetapi hanya efektif jika diberikan sebelum gejala berat muncul, tapi juga memiliki efek samping signifikan.
  • Chloroquine yang terbukti efektif pada hewan (tikus), tapi belum ada uji coba manusia.
  • Monoclonal antibodies yang merupakan penelitian terbaru (2022) menunjukkan potensi mencegah infeksi, tapi masih dalam tahap awal.
 
Penutup – Tikus Kecil, Dampak Besar
Hantavirus mengingatkan kita bahwa bahaya sering datang dari hal sepele. Kabar baiknya, pencegahannya dapat  sangat sederhana. Satu langkah kecil bisa menyelamatkan nyawa Anda dan keluarga. Jangan anggap remeh tikus di rumah. Bukan karena gigitannya, tapi karena bom waktu tak terlihat yang ditinggalkannya.

©IKM 2026-05
0 Comments



Leave a Reply.

    Home >> Medical Articles >> 2026

    Medical Articles 2026

    Picture
    Lihat daftar artikel lainnya, click pada gambar

    Picture
    Panduan komprehensif untuk mereka yang menuju atau telah memasuki masa purna bakti.

    Bila Anda suka dengan blog ini, silakan "like" artikelnya di bagian bawah setiap artikel dan silakan menikmati artikel lainnya pada blog tahun 2023. Click di sini.

    Picture

    Author

    Dr. Indra K. Muhtadi adalah seorang Health Influencer dan konsultan pada berbagai professional training di Indonesia.

    Sebagai dokter, ia sangat piawai memberikan konsultasi kesehatan dengan bahasa ringan sehingga membuat masalah medis menjadi sesuatu yang mudah untuk dipahami.

    Click di sini untuk berkonsultasi dengan Dr. Indra

    These Blogs are written in Bahasa Indonesia. I hope these blogs can help those who search the information about the topic discussed in the radio.  Feel free to give comments and if you need an English version of the content from these blogs, please don't hesitate to contact me.


    Instagram Follow Dr. Indra on Instagram
    Follow @indrakm

    Archives

    June 2026
    May 2026
    April 2026
    March 2026
    February 2026
    January 2026

    Categories

    All
    Ancaman Untuk DIpahami
    Campak Pada Dewasa
    Dari Dandang Ke Rice Cooker
    Flu Biasa Yang Tidak Biasa
    Godzilla Heat Waves Melanda
    Hantavirus
    HbA1c
    Hormon-Hormon Bahagia
    Jurnal Perjalanan Gula Darah
    Lebih Mematikan
    Marburg Virus
    Mengenal Glutamat Dengan Bijak
    Paradoks Tekanan Darah
    Parkinson Tak Kenal Usia
    Probiotik Dan Prebiotik
    Puasa Saat Tubuh Tidak Baik-Baik Saja
    Ramadan Tanpa Lelah
    Sama Penting Tapi Tidak Sama
    Senior Untuk Hebat
    Super Flu
    Tikus Jadi Bom Waktu Mematikan
    Virus Mematikan Dari Keluarga Ebola
    Virus Nipah


    Saya tidak mencantumkan rujukan atau sumber dari artikel yang saya tulis, karena akan menambah panjang body dari posting-an blog-nya.
    Bila ada yang memerlukan silakan hubungi saya di contac me. Saya dengan senang hati akan menginfokannya.


    Disclaimer

    All data and statements in all articles in these blogs on this website were true at the time of writing. Some update may be required.

    The Content is not intended to be a substitute for professional medical advice, diagnosis, or treatment. Always seek the advice of your physician or other qualified health provider with any questions you may have regarding a medical condition.

    Picture
    Terima kasih untuk mendukung usaha saya dan berbagi informasi
    Thank you for supporting my effort and sharing my knowledge


    Picture

    Infographic
    of the week
    Picture
    Marburg Virus, Kembalinya Virus Mematikan dari Keluarga Ebola

    Navigation:
    Back to Blog Main Page
    Back to Blog Index

    RSS Feed

Proudly powered by Weebly