Pernah membersihkan gudang, lumbung, atau ruangan yang sudah lama tidak dibuka? Atau menyapu kotoran tikus di dapur dengan santainya? Hati-hati. Anda mungkin sedang mengaduk bom waktu. Pada 4 Mei 2026, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengeluarkan peringatan darurat tentang wabah Hantavirus di sebuah kapal pesiar yang berlayar dari Argentina melintasi Atlantik Selatan. Dari 147 orang di kapal, 7 terinfeksi (2 terkonfirmasi lab, 5 suspek), dan 3 di antaranya meninggal dunia. Satu orang lainnya masih kritis di ICU. Kejadian ini membuktikan bahwa Hantavirus tidak kenal tempat. Bisa di kapal pesiar mewah, bisa di gudang rumah kita. Yang mengerikan hampir separuh kasus infeksi berasal dari paparan di sekitar rumah sendiri. Bukan di hutan, bukan di alam liar.
Hantavirus adalah virus dari genus Orthohantavirus yang dibawa oleh hewan pengerat (Rodentia) seperti tikus, mencit (cecurut), dan vole (tikus sawah). Setiap jenis tikus membawa strain Hantavirus yang berbeda, dan tingkat keganasannya pun bervariasi. Virus ini disebarkan oleh tikus dan hewan pengerat melalui urine, feses, atau air liurnya. Begitu terhirup, virus bisa menyerang paru-paru (menyebabkan gagal napas) atau ginjal (menyebabkan gagal ginjal) dalam hitungan hari. Bahkan dalam kasus di kapal pesiar, seorang pria dewasa meninggal hanya 5 hari setelah gejala pertama muncul. Di Indonesia, kasus Hantavirus mungkin tidak sering dilaporkan. Tapi studi seroprevalensi melaporkan 1 dari setiap 10 orang di Indonesia pernah terpapar Hantavirus, terutama varian Seoul (SEOV). Membuat risikonya menjadi sangat nyata, setiap tempat yang ada tikus menjadi sumber penularan.
Inilah yang paling tidak banyak diketahui orang. Hantavirus termasuk virus airborne. Artinya, seseorang tertular dengan menghirup udara yang terkontaminasi. Ketika kotoran tikus (urine, feses, air liur, atau sarang) kering dan kemudian terkena gerakan, seperti disapu, atau ditiup angin, partikel virus yang sudah mengering akan terbang ke udara dan masuk ke hidung atau mulut. Memang ada jalur penularan lainnya tapi lebih jarang seperti menyentuh benda yang terkontaminasi lalu menyentuh hidung/mulut atau makan makanan yang terkontaminasi kotoran tikus. Penting juga untuk diketahui, bahwa Hantavirus yang beredar di Amerika Utara, Eropa, dan Asia tidak menular antarmanusia. Satu-satunya strain yang diketahui bisa menular antara manusia adalah varian Andes (di Amerika Selatan). Namun, peristiwa di kapal pesiar baru-baru ini menunjukkan bahwa dua kasus pertama (pria dan wanita) adalah kontak dekat, mengingatkan kita bahwa potensi penularan antarmanusia tetap ada untuk strain tertentu.
Faktor Risiko Hantavirus
Seseorang berisiko lebih tinggi terkena Hantavirus jika:
- Usia 70 tahun ke atas, risiko kematian lebih tinggi
- Pria lebih sering terinfeksi (karena lebih sering terlibat dalam aktivitas berisiko seperti membersihkan gudang, berkebun, pekerjaan konstruksi, dll.)
- Orang dengan sistem imun lemah.
- Tinggal di daerah pedesaan dengan sawah, ladang, atau di sekitar habitat alami tikus.
- Memiliki gudang, lumbung, garasi, atau ruang bawah tanah yang jarang dibersihkan lalu menjadi sarang tikus.
- Ada keberadaan tikus di dalam rumah (kotoran terlihat, ada suara tikus di malam hari).
- Sering melakukan aktivitas yang mengaduk debu kotoran tikus seperti menyapu atau mengepel area yang ada kotoran tikus, menggunakan blower atau vacuum cleaner di gudang tua, berkebun di area yang mungkin dihuni tikus.
- Membuka bangunan yang sudah lama tidak digunakan (gudang, rumah kosong, lumbung padi).
- Pekerja konstruksi, utilitas, atau pengendali hama yang sering masuk ke area sempit yang menjadi sarang tikus.
- Sering berkemah atau hiking, menggunakan pondok perlindungan di hutan yang mungkin dihuni tikus.
Gejala, Waktu Inkubasi, dan Komplikasi Hantavirus
Yang juga membuat Hantavirus berbahaya adalah karena gejalanya sangat mirip flu biasa di awal, sehingga sering diabaikan. Lalu ada dua jenis komplikasi mematikan yang disebabkan oleh Hantavirus:
1. Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS) yang menyerang paru-paru, dengan tingkat kematian sekitar 38%. Artinya dari 10 orang yang terinfeksi berat, hampir 4 orang meninggal.
2. Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS) yang menyerang ginjal, dengan tingkat kematian hingga 15%. Gejalanya mirip dengan demam berdarah Dengue.
Sementara waktu inkubasi sejak terpapar hingga terjadi sakit penyakit ini sangat pajang. Penderita bisa terpapar hari ini, dan lupa sama sekali, lalu sebulan kemudian tiba-tiba sesak napas dan masuk ICU. Untuk HPS masa inkubasinya 1-8 minggu, dan untuk HFRS 2-4 minggu.
Perjalanan gejalanya sbb.:
Tahap 1: Gejala awal (mirip flu) – Hari ke 1-10
- Demam tinggi
- Pegal-pegal seluruh tubuh (otot terasa remuk)
- Kelelahan ekstrem
- Sakit kepala
- Menggigil
- Mual, muntah, diare
- Sakit perut
Pada tahap ini, hampir tidak mungkin membedakan Hantavirus dari flu, COVID-19, atau demam berdarah Dengue.
Baca artikel lainnya di Blog Dr. Indra K. Muhtadi
- Untuk HPS (manivestasi di paru-paru):
- Batuk kering
- Sesak napas (seperti orang kehabisan udara, padahal sudah tarik napas dalam)
- Paru-paru terisi cairan (pemeriksaan X-ray akan terlihat "kabut putih")
B. Untuk HFRS (manivestasi di ginjal):
- Setelah fase flu, tekanan darah turun drastis (syok)
- Kebocoran pembuluh darah
- Retensi cairan (kaki bengkak, sesak)
- Penurunan produksi urine (tanda gagal ginjal)
- Perdarahan karena trombosit rendah
Hantavirus adalah Masalah Lingkungan
Berbeda dengan penyakit infeksi lain, kunci mengendalikan Hantavirus sebenarnya jauh lebih sederhana yaitu, atasi tikusnya, bersihkan lingkungannya, dan edukasi masyarakat sekitarnya. Dalam pedoman Kemenkes, pendekatan yang dianjurkan mulai dari pengendalian tikus secara terpadu, perbaikan sanitasi lingkungan (karena tikus suka tempat kotor dan lembab), sampai komunikasi risiko yang mudah dipahami orang awam. Ini semua menunjukkan bahwa Hantavirus adalah contoh nyata dan sempurna dari pendekatan One Health, karena kesehatan manusia, kesehatan hewan (dalam hal ini tikus sebagai reservoir), dan kesehatan lingkungan jelas tidak bisa dipisahkan satu sama lain. Kalau salah satu terlantar, yang lain juga terkena.
Mitigasi dan Pencegahan
Jangan pernah menyapu atau menggunakan vacuum cleaner saat membersihkan kotoran tikus. Karena akan membuat partikel virus yang sudah mengering terbang ke udara dan berisiko terhirup. Yang harus dilakukan jika menemukan kotoran tikus:
- Ventilasi ruangan, buka jendela dan pintu selama minimal 30 menit sebelum mulai membersihkan, biarkan udara bersirkulasi dan partikel mengendap.
- Kenakan alat pelindung diri (APD):
- Masker N95 (bukan masker kain biasa, karena virus bisa lolos)
- Sarung tangan (karet atau latex)
- Kacamata pelindung (jika ada risiko percikan)
- Semprot area dengan larutan disinfektan atau surface disinfectant, biarkan basah selama 5-10 menit untuk menonaktifkan virus.
- Gunakan kain atau tisu basah untuk memungut kotoran yang sudah basah. Lalu masukkan ke dalam kantong plastik, ikat rapat, buang ke tempat sampah tertutup.
- Setelah selesai:
- Lepas sarung tangan (balikkan saat melepas).
- Cuci tangan dengan sabun dan air mengalir dengan cara yang benar.
- Bersihkan sepatu yang mungkin terkontaminasi.
Cara mencegah tikus masuk ke rumah:
- Tutup semua lubang di dinding, pintu, dan ventilasi yang bisa menjadi jalur tikus (lubang sekecil 1 cm cukup untuk tikus kecil masuk).
- Pasang perangkap tikus atau hubungi pengendali hama profesional jika ada tanda-tanda keberadaan tikus.
- Jaga kebersihan dapur. Simpan makanan dalam wadah kedap udara, jangan biarkan sisa makanan terbuka
- Buang sampah secara teratur dan pastikan tempat sampah tertutup rapat.
- Pelihara kucing, karena tikus takut dan menjauh bila ada bau atau mengetahui keberadaan kucing.
Yang Dilakukan jika Curiga Terpapar
- Langkah 1: Jangan panik. Tidak semua paparan menyebabkan infeksi. Virus harus masuk ke tubuh (biasanya lewat hirupan) dengan dosis yang cukup.
- Langkah 2: Perhatikan gejala selama 2 bulan ke depan. Jika dalam 1–8 minggu setelah paparan (terutama 2–6 minggu) seperti uraian di atas.
- Langkah 3: Segera ke dokter dan ingatkan dokter tentang paparan tikus. Ini sangat penting karena dokter mungkin langsung mengira flu atau demam berdarah.
- Langkah 4: Dokter dapat melakukan pemeriksaan lab untuk mendeteksi antibodi Hantavirus, X-ray dada, dan pemeriksaan darah. Semakin cepat terdiagnosis, semakin besar peluang selamat.
Pengobatan dan Vaksin Hantavirus
Saat ini, belum ada obat antivirus untuk mengobati Hantavirus secara spesifik. Dan juga belum ada vaksin untuk Hantavirus yang tersedia. Pengobatan yang diberikan adalah perawatan suportif membantu tubuh bertahan sampai sistem imunnya sendiri mengalahkan virus. Namun ada obat antivirus yang sedang diteliti seperti :
- Ribavirin yang menunjukkan hasil positif untuk varian virus Hantaan dan Andes, tetapi hanya efektif jika diberikan sebelum gejala berat muncul, tapi juga memiliki efek samping signifikan.
- Chloroquine yang terbukti efektif pada hewan (tikus), tapi belum ada uji coba manusia.
- Monoclonal antibodies yang merupakan penelitian terbaru (2022) menunjukkan potensi mencegah infeksi, tapi masih dalam tahap awal.
Penutup – Tikus Kecil, Dampak Besar
Hantavirus mengingatkan kita bahwa bahaya sering datang dari hal sepele. Kabar baiknya, pencegahannya dapat sangat sederhana. Satu langkah kecil bisa menyelamatkan nyawa Anda dan keluarga. Jangan anggap remeh tikus di rumah. Bukan karena gigitannya, tapi karena bom waktu tak terlihat yang ditinggalkannya.
©IKM 2026-05
Follow Dr. Indra on Instagram
RSS Feed