Dr. Indra K. Muhtadi - "dokter plus"
  • Home
    • My Curriculum Vitae
    • Dr. Indra on Media
  • What's New
  • Dr. Indra's Books
    • Book: "SENIOR untuk HEBAT"
    • Book: "STRES untuk HEBAT"
    • Book: "SEHAT untuk HEBAT"
    • Book: "Revolusi Mental"
  • Blog: Medical Articles
    • Blog Index (A to Z)
    • Blog Index (by category)
    • Blog Articles: 2026
    • Blog Articles: 2025
    • Blog Articles: 2024
    • Blog Articles: 2023
    • Blog Articles: 2022
    • Blog Articles: 2021
    • Blog Articles: 2020
    • Blog Articles: 2019
    • Blog Articles: 2018
    • Blog Articles: 2017
    • Blog Articles: 2016
    • Blog Articles: 2015
    • Blog Articles: 2014
    • Blog Articles: 2013
    • Blog Articles: 2012
    • Blog Articles: 2011
    • Blog Articles: 2010
  • Health & Wellness Influencer & Motivator
    • Retirement Preparation from Health Point of View
    • Stres untuk Hebat
    • Health Topic Seminars
    • The Secret of Healthy Life Style
    • Company Health Management
    • Stop Smoking Course
    • Quality Service Excellent
    • Change Leadership Training and Self Improvement
    • Smile in Assertive Communication
    • Assertive Communication Skills
    • Employee Counseling for Productivity
    • Managerial Skills and Self Leadership Skills
    • Motivation and Job Satisfaction
  • Health Consultant (Praktek)
    • Adult Vaccination
  • Health Calculator
    • BMI Calculator
    • Advanced BMI Calculator
    • BMI Calculator for Children
    • Ideal Body Weight Calculator
    • Exercise Calorie Calculator
    • Daily Calorie Calculator
    • Liquid Calorie Calculator
  • Health Tips Video
  • Health Pictures
  • My Travel and Other Blog
  • ABN Group
  • References & Partners
  • Contact Me

Topik ke-578: Buta Warna Emosional, Alexithymia dan Rendahnya Kecerdasan Emosi

26/6/2026

0 Comments

 
Picture
Pendahuluan
Pernah bertemu seseorang yang terlihat "dingin", "kaku", atau "sulit ditebak"? Saat diajak bicara tentang perasaan, jawabannya selalu "biasa saja" atau "baik-baik saja”, meskipun situasi sedang berat. Atau pernahkah Anda sendiri kesulitan menemukan kata untuk menggambarkan apa yang sedang dirasakan? Mungkin bukan karena tidak peduli atau "sok kuat". Bisa jadi yang dialami adalah alexithymia, sebuah kondisi psikologis di mana seseorang kesulitan mengidentifikasi, memahami, dan mengungkap-kan emosi dirinya sendiri. Istilah ini diciptakan oleh psikiater Harvard, Peter Sifneos, pada tahun 1972. Dari bahasa Yunani: a (tidak) + lexis (kata) + thymos (emosi). Jadi secara harfiah berarti "tidak ada kata untuk emosi".

Rendahnya Kecerdasan Emosi
Di sisi lain, ada istilah yang mungkin lebih familier, yaitu emotional intelligence (EQ) atau “kecerdasan emosi.” Orang dengan EQ rendah juga kesulitan dengan emosi. Tapi bedanya, mereka bisa "melihat" emosi, hanya saja tidak tahu apa yang harus dilakukan dengannya. Jadi alexithymia adalah seperti “buta warna” emosional, saat tidak bisa melihat warna sama sekali. Sementara EQ rendah adalah seperti memiliki penglihatan warna yang buruk, saat bisa melihat warna, tapi tidak bisa membedakannya atau tidak tahu warna apa yang cocok untuk situasi tertentu. Keduanya sering tumpang tindih, dan penelitian menunjukkan bahwa alexithymia berkorelasi negatif dengan kecerdasan emosi. Semakin parah alexithymia, maka semakin rendah EQ seseorang.  

Mengenal Alexithymia
Alexithymia bukanlah gangguan jiwa yang tercantum dalam DSM-5 . Ia adalah ciri kepribadian yang dimiliki sekitar 10-13% populasi umum, dengan prevalensi pada pria (9-17%) lebih tinggi daripada wanita (5-10%). Bayangkan hidup di dunia di mana orang lain berbicara dalam bahasa yang Anda tidak bisa mengerti, tapi bahasa itu adalah perasaan Anda sendiri. Di situlah seorang alexithymic (sebutan bagi penderitanya) berada. Bukan karena ia tidak punya emosi, tapi karena ia tidak punya akses ke emosi itu. Emosi datang seperti gelombang, tapi ia tidak bisa menamainya, membe-dakannya, atau mengkomunikasikan ke orang lain.
 
Empat Ciri Utama Alexithymia
  1. Kesulitan mengidentifikasi perasaan (DIF – difficulty identifying feelings). Ini adalah inti dari alexithymia. Seseorang merasa ada yang "tidak enak" atau "aneh", tapi tidak bisa menentukan apakah itu sedih, marah, cemas, atau kecewa. Saat ditanya bagaimana perasaan-nya, jawabannya sering "Saya tidak tahu," atau "Saya merasa aneh saja". Mereka bisa merasakan badai emosi di dalam, tapi tidak bisa menamai badai itu. Akibatnya, emosi yang tidak teridentifikasi sering muncul sebagai gejala fisik, seperti sakit kepala, nyeri perut, atau jantung berdebar.
  2. Kesulitan menggambarkan perasaan ke orang lain (DDF – difficulty describing feelings). Bukan hanya sulit mengenali, tapi juga sulit mengkomunikasikan. Ketika ditanya apa yang dirasakan, jawabannya mungkin hanya "Saya tidak enak badan" atau "Saya stres," tanpa detail lebih lanjut. Mereka tidak bisa mengatakan "Saya marah karena merasa tidak dihargai," atau "Saya sedih karena kehilangan." Kata-kata untuk emosi terasa asing di mulut mereka. Sebagai gantinya, mereka menggam-barkan gejala fisik atau perilaku "Perut saya sakit" atau "Saya ingin memukul sesuatu" .
  3. Gaya berpikir berorientasi ke luar (EOT – externally oriented thinking). Ini yang membuat orang alexithymic tampak kaku dan pragmatis. Mereka lebih fokus pada fakta, detail, dan hal-hal eksternal daripada perasaan atau pengalaman batin. Seperti seseorang yang ketika melihat pemandangan indah, yang dipikirkannya bukan "Wow, ini membuat saya bahagia", tapi "Gunung ini tingginya berapa meter?" atau "Cuaca hari ini suhunya 27 derajat". Mereka cenderung kurang berimajinasi, jarang berfantasi atau bermimpi, dan jika bermimpi pun, isinya sangat logis dan konkret . Inilah yang disebut para peneliti sebagai pensée opératoire, cara berpikir operasional yang kering dan tanpa nuansa emosional .
  4. Imajinasi yang terbatas (constricted imaginary Capacity). Dunia batin mereka miskin. Mereka jarang berfantasi, bermimpi, atau berkhayal. Saat diminta membayangkan hal-hal yang abstrak, mereka kesulitan. Jika mereka berfantasi pun, itu biasanya tentang hal-hal nyata dan praktis, bukan tentang perasaan, hubungan, atau skenario emosional .
 
Mengenal EQ Rendah
Emotional intelligence (EQ) adalah kemampuan untuk:
  • Memahami dan mengatur suasana hati/emosi sendiri
  • Mengenali perasaan orang lain dan berempati
  • Memecahkan masalah dan memenuhi kebutuhan
  • Mempengaruhi orang lain
Orang dengan kecerdasan emosi yang rendah memiliki kesulitan di semua area ini. Tapi perlu diingat bahwa memiliki EQ rendah tidak membuat seseorang menjadi orang jahat. Karena itu hanya berarti ada keterampilan yang perlu dilatih

Baca artikel lainnya di Blog Dr. Indra K. Muhtadi
Picture
Tanda EQ Rendah dalam Kehidupan Sehari-hari
  1. Kesulitan memahami apa yang menyebabkan perasaan tertentu
  2. Ledakan emosi atau perubahan mood yang sering
  3. Kesulitan menyatakan pendapat atau mengambil kendali dalam situasi
  4. Kurang tertarik cari cara baru memecahkan masalah
  5. Sulit menerima kritik (konstruktif maupun tidak)
  6. Kesulitan mengekspresikan ide dengan jelas
  7. Kebiasaan mengatakan hal salah di waktu yang salah
  8. Kurang peka terhadap isyarat emosional orang lain
  9. Cenderung terpaku pada kesalahan dari pada belajar dan melanjutkan hidup
  10. Pesimisme dan kehilangan motivasi setelah kegagalan
  11. Kesulitan mempertahankan hubungan
  12. Kurangnya empati terhadap orang lain
 
Mekanisme di Dalam Otak
Neuroimaging (pencitraan otak) mengungkapkan bahwa alexithymia terkait dengan aktivitas yang berkurang di area limbik dan paralimbic, bagian otak yang bertanggung jawab atas pemrosesan emosi. Area otak yang terpengaruh:
  • Amygdala, yaitu pusat emosi; volumenya lebih kecil dan kurang aktif pada orang dengan alexithymia.
  • Insula dan ACC (Anterior Cingulate Cortex), yaitu area yang menghubungkan tubuh dan emosi. Aktivitasnya menurun saat melihat rangsangan emosional.
  • Prefrontal cortex, yaitu area berpikir rasional; aktivitasnya menurun saat terlibat dalam tugas sosial.
Ada penemuan menarik, bahwa ada perbedaan antara respons terhadap stimulus eksternal (seperti melihat wajah marah) dan stimulus internal (seperti membayangkan situasi emosional). Pada orang dengan alexithymia, aktivitas di area emosional otak menurun saat melihat rangsangan dari luar, tapi meningkat di area sensorimotor (yang berhubungan dengan sensasi fisik). Artinya, otak mereka memang memproses emosi, tapi melalui jalur yang salah, Bukan melalui kesadaran emosional, tapi melalui sensasi fisik dan perilaku. Mereka "merasakan" emosi di tubuh, tapi tidak "mengerti" emosi di hati.
 
Faktor Penyebab, Alam vs. Lingkungan
Alexithymia dan EQ rendah tidak muncul dari satu sebab tunggal. Ada kombinasi faktor genetik dan lingkungan.
Faktor Biologis (Alam):
  • Genetika. Studi pada anak kembar menunjukkan bahwa alexithymia memiliki komponen herediter. Jika satu orang tua memiliki alexithymia, risiko anak lebih tinggi.
  • Fungsi otak. Masalah pada komunikasi antara belahan otak kanan (emosi) dan kiri (bahasa/logika) dapat menyebabkan kesulitan menerjemahkan perasaan menjadi kata-kata.
  • Gangguan serotonin. Ketidakseimbangan neurotrans-mitter yang memengaruhi kebahagiaan, pembelajaran, dan memori .
  • Kerusakan otak. Terutama pada insula, bagian otak yang berperan dalam sosial, empati, dan emosi .
 
Faktor Lingkungan (Lingkungan):
  • Trauma masa kecil. Pelecehan fisik atau emosional, pengabaian, atau kurangnya pelatihan emosional di masa kanak-kanak dapat menghambat perkembangan kesadaran emosional.
  • Gaya pengasuhan. Anak-anak yang orang tuanya menunjukkan kehangatan dan mendukung ekspresi emosi cenderung memiliki EQ lebih tinggi. Sebaliknya, pengasuhan yang terlalu mengontrol, disiplin yang keras dan tidak konsisten, atau pengabaian emosi anak dapat menyebabkan EQ rendah .
  • Stress berat. Trauma berat (PTSD) atau penyakit kronis dapat memicu alexithymia sekunder.

Hubungan dengan Kondisi Kesehatan Lain

Alexithymia dan EQ rendah jarang datang sendirian. Mereka sering ditemukan bersamaan dengan berbagai kondisi kesehatan:
  • Depresi. Sekitar 32-51% penderita depresi memiliki alexithymia.
  • Gangguan kecemasan seperti panik disorder, OCD, social anxiety
  • PTSD. Sekitar 41% veteran perang dengan PTSD menunjukkan tanda-tanda alexithymia
  • Gangguan makan, seperti anoreksia, bulimia
  • Alkohol dan narkoba. Ada kaitan antara ketergantungan alkohol dan gangguan penggunaan zat lainnya dengan EQ rendah.
  • Autism Spectrum Disorder (ASD). Hingga 50% penyandang autisme juga mengalami alexithymia. Banyak yang menganggap autisme menyebabkan kurangnya empati, tapi sebenarnya alexithymia-lah yang menyebabkan kurangnya empati.
 
Penanganan Alexithymia dan EQ Rendah
Langkah pertama adalah berhenti menghakimi, baik diri sendiri maupun orang lain. Ini bukan kesalahan, melainkan cara otak memproses emosi yang berbeda.
  • Mulailah dengan membuat jurnal. Tulis setiap hari sensasi fisik dan coba hubungkan dengan label emosi ("perut tegang, mungkin cemas").
  • Perkaya kosa kata emosi, mulai dari emosi dasar (sedih, senang, marah, takut) lalu ke nuansa yang lebih halus.
  • Terapkan metode RULER: Recognize (akui perasaan), Understand (cari pemicunya), Label (beri nama), Express (ungkapkan lewat bicara, jurnal, atau seni), dan Regulate (kelola dengan relaksasi, olahraga, atau bicara dengan orang terpercaya).
  • Saat berinteraksi dengan orang yang memiliki kecenderungan ini, jangan ambil hati. Mereka tidak "dingin" untuk menyakiti Anda, tapi memang tidak punya akses ke bahasa emosi. Gunakan pertanyaan tertutup "Apakah kamu marah?" dari pada pertanyaan terbuka "Bagaimana perasaanmu?". Fokus pada perilaku "Saya lihat kamu diam" dari pada perasaan "Kamu tampak sedih", dan berikan contoh "Saya sedih karena..." untuk memberi model. Tetap pada logika, jelaskan situasi secara jelas dan langsung tanpa terlalu banyak nuansa emosional. Tawarkan penerimaan, bukan kritik, berlatih mendengarkan aktif dengan fokus penuh serta refleksikan apa yang mereka katakan.
  • Bersabarlah. Perubahan bisa memakan waktu bertahun-tahun, dan konseling bersama dapat membantu komunikasi menjadi lebih efektif.
 
Penutup
Alexithymia dan low EQ, bukan karena tak peduli, tapi karena tak punya akses ke bahasa hati. Kabar baiknya, keduanya bisa dipahami dan dikelola. Dengan latihan kecil setiap hari, kita bisa lebih sabar pada diri sendiri dan orang lain yang tampak "kaku". Karena setiap orang punya dunia batin berbeda, dan tugas kita adalah saling memahami.

©IKM 2026-06
0 Comments



Leave a Reply.

    Home >> Medical Articles >> 2026

    Medical Articles 2026

    Picture
    Lihat daftar artikel lainnya, click pada gambar

    Picture
    Panduan komprehensif untuk mereka yang menuju atau telah memasuki masa purna bakti.

    Bila Anda suka dengan blog ini, silakan "like" artikelnya di bagian bawah setiap artikel dan silakan menikmati artikel lainnya pada blog tahun 2023. Click di sini.

    Picture

    Author

    Dr. Indra K. Muhtadi adalah seorang Health Influencer dan konsultan pada berbagai professional training di Indonesia.

    Sebagai dokter, ia sangat piawai memberikan konsultasi kesehatan dengan bahasa ringan sehingga membuat masalah medis menjadi sesuatu yang mudah untuk dipahami.

    Click di sini untuk berkonsultasi dengan Dr. Indra

    These Blogs are written in Bahasa Indonesia. I hope these blogs can help those who search the information about the topic discussed in the radio.  Feel free to give comments and if you need an English version of the content from these blogs, please don't hesitate to contact me.


    Instagram Follow Dr. Indra on Instagram
    Follow @indrakm

    Archives

    October 2026
    September 2026
    August 2026
    July 2026
    June 2026
    May 2026
    April 2026
    March 2026
    February 2026
    January 2026

    Categories

    All
    Alexithymia & Rendahnya EQ
    Ancaman Untuk DIpahami
    Begadang Jadi Bumerang
    BPH Vs. Kanker Prostat
    Buta Warna Emosional
    Campak Pada Dewasa
    Cognitive Walking
    Dari Dandang Ke Rice Cooker
    Flu Biasa Yang Tidak Biasa
    Godzilla Heat Waves Melanda
    Hantavirus
    HbA1c
    Heat Acne
    Hormon-Hormon Bahagia
    Jerawat Di Musim Kemarau
    Jurnal Perjalanan Gula Darah
    Kecanduan
    Kenya Penyakit Jantung
    Kolesterol Normal
    Lebih Mematikan
    Marburg Virus
    Mata Terjaga - Hati Tersiksa
    Mengenal Glutamat Dengan Bijak
    Papilloma Dan Kutil
    Paradoks Tekanan Darah
    Parkinson Tak Kenal Usia
    Pembohong Patologis
    Penyakit Pes & Misteri Kematian Pekerja Lab Siberia
    Probiotik Dan Prebiotik
    Puasa Saat Tubuh Tidak Baik-Baik Saja
    Ramadan Tanpa Lelah
    Sama Penting Tapi Tidak Sama
    Satu Virus Banyak Wajah
    Senior Untuk Hebat
    Super Flu
    Tikus Jadi Bom Waktu Mematikan
    Virus Mematikan Dari Keluarga Ebola
    Virus Nipah


    Saya tidak mencantumkan rujukan atau sumber dari artikel yang saya tulis, karena akan menambah panjang body dari posting-an blog-nya.
    Bila ada yang memerlukan silakan hubungi saya di contac me. Saya dengan senang hati akan menginfokannya.


    Disclaimer

    All data and statements in all articles in these blogs on this website were true at the time of writing. Some update may be required.

    The Content is not intended to be a substitute for professional medical advice, diagnosis, or treatment. Always seek the advice of your physician or other qualified health provider with any questions you may have regarding a medical condition.

    Picture
    Terima kasih untuk mendukung usaha saya dan berbagi informasi
    Thank you for supporting my effort and sharing my knowledge


    Picture

    Infographic
    of the week
    Picture
    Penyakit Pes dan Misteri Kematian Pekerja Lab di Siberia

    Navigation:
    Back to Blog Main Page
    Back to Blog Index

    RSS Feed

Proudly powered by Weebly