Pernah bertemu seseorang yang terlihat "dingin", "kaku", atau "sulit ditebak"? Saat diajak bicara tentang perasaan, jawabannya selalu "biasa saja" atau "baik-baik saja”, meskipun situasi sedang berat. Atau pernahkah Anda sendiri kesulitan menemukan kata untuk menggambarkan apa yang sedang dirasakan? Mungkin bukan karena tidak peduli atau "sok kuat". Bisa jadi yang dialami adalah alexithymia, sebuah kondisi psikologis di mana seseorang kesulitan mengidentifikasi, memahami, dan mengungkap-kan emosi dirinya sendiri. Istilah ini diciptakan oleh psikiater Harvard, Peter Sifneos, pada tahun 1972. Dari bahasa Yunani: a (tidak) + lexis (kata) + thymos (emosi). Jadi secara harfiah berarti "tidak ada kata untuk emosi".
Di sisi lain, ada istilah yang mungkin lebih familier, yaitu emotional intelligence (EQ) atau “kecerdasan emosi.” Orang dengan EQ rendah juga kesulitan dengan emosi. Tapi bedanya, mereka bisa "melihat" emosi, hanya saja tidak tahu apa yang harus dilakukan dengannya. Jadi alexithymia adalah seperti “buta warna” emosional, saat tidak bisa melihat warna sama sekali. Sementara EQ rendah adalah seperti memiliki penglihatan warna yang buruk, saat bisa melihat warna, tapi tidak bisa membedakannya atau tidak tahu warna apa yang cocok untuk situasi tertentu. Keduanya sering tumpang tindih, dan penelitian menunjukkan bahwa alexithymia berkorelasi negatif dengan kecerdasan emosi. Semakin parah alexithymia, maka semakin rendah EQ seseorang.
Alexithymia bukanlah gangguan jiwa yang tercantum dalam DSM-5 . Ia adalah ciri kepribadian yang dimiliki sekitar 10-13% populasi umum, dengan prevalensi pada pria (9-17%) lebih tinggi daripada wanita (5-10%). Bayangkan hidup di dunia di mana orang lain berbicara dalam bahasa yang Anda tidak bisa mengerti, tapi bahasa itu adalah perasaan Anda sendiri. Di situlah seorang alexithymic (sebutan bagi penderitanya) berada. Bukan karena ia tidak punya emosi, tapi karena ia tidak punya akses ke emosi itu. Emosi datang seperti gelombang, tapi ia tidak bisa menamainya, membe-dakannya, atau mengkomunikasikan ke orang lain.
Empat Ciri Utama Alexithymia
- Kesulitan mengidentifikasi perasaan (DIF – difficulty identifying feelings). Ini adalah inti dari alexithymia. Seseorang merasa ada yang "tidak enak" atau "aneh", tapi tidak bisa menentukan apakah itu sedih, marah, cemas, atau kecewa. Saat ditanya bagaimana perasaan-nya, jawabannya sering "Saya tidak tahu," atau "Saya merasa aneh saja". Mereka bisa merasakan badai emosi di dalam, tapi tidak bisa menamai badai itu. Akibatnya, emosi yang tidak teridentifikasi sering muncul sebagai gejala fisik, seperti sakit kepala, nyeri perut, atau jantung berdebar.
- Kesulitan menggambarkan perasaan ke orang lain (DDF – difficulty describing feelings). Bukan hanya sulit mengenali, tapi juga sulit mengkomunikasikan. Ketika ditanya apa yang dirasakan, jawabannya mungkin hanya "Saya tidak enak badan" atau "Saya stres," tanpa detail lebih lanjut. Mereka tidak bisa mengatakan "Saya marah karena merasa tidak dihargai," atau "Saya sedih karena kehilangan." Kata-kata untuk emosi terasa asing di mulut mereka. Sebagai gantinya, mereka menggam-barkan gejala fisik atau perilaku "Perut saya sakit" atau "Saya ingin memukul sesuatu" .
- Gaya berpikir berorientasi ke luar (EOT – externally oriented thinking). Ini yang membuat orang alexithymic tampak kaku dan pragmatis. Mereka lebih fokus pada fakta, detail, dan hal-hal eksternal daripada perasaan atau pengalaman batin. Seperti seseorang yang ketika melihat pemandangan indah, yang dipikirkannya bukan "Wow, ini membuat saya bahagia", tapi "Gunung ini tingginya berapa meter?" atau "Cuaca hari ini suhunya 27 derajat". Mereka cenderung kurang berimajinasi, jarang berfantasi atau bermimpi, dan jika bermimpi pun, isinya sangat logis dan konkret . Inilah yang disebut para peneliti sebagai pensée opératoire, cara berpikir operasional yang kering dan tanpa nuansa emosional .
- Imajinasi yang terbatas (constricted imaginary Capacity). Dunia batin mereka miskin. Mereka jarang berfantasi, bermimpi, atau berkhayal. Saat diminta membayangkan hal-hal yang abstrak, mereka kesulitan. Jika mereka berfantasi pun, itu biasanya tentang hal-hal nyata dan praktis, bukan tentang perasaan, hubungan, atau skenario emosional .
Mengenal EQ Rendah
Emotional intelligence (EQ) adalah kemampuan untuk:
- Memahami dan mengatur suasana hati/emosi sendiri
- Mengenali perasaan orang lain dan berempati
- Memecahkan masalah dan memenuhi kebutuhan
- Mempengaruhi orang lain
Baca artikel lainnya di Blog Dr. Indra K. Muhtadi
- Kesulitan memahami apa yang menyebabkan perasaan tertentu
- Ledakan emosi atau perubahan mood yang sering
- Kesulitan menyatakan pendapat atau mengambil kendali dalam situasi
- Kurang tertarik cari cara baru memecahkan masalah
- Sulit menerima kritik (konstruktif maupun tidak)
- Kesulitan mengekspresikan ide dengan jelas
- Kebiasaan mengatakan hal salah di waktu yang salah
- Kurang peka terhadap isyarat emosional orang lain
- Cenderung terpaku pada kesalahan dari pada belajar dan melanjutkan hidup
- Pesimisme dan kehilangan motivasi setelah kegagalan
- Kesulitan mempertahankan hubungan
- Kurangnya empati terhadap orang lain
Mekanisme di Dalam Otak
Neuroimaging (pencitraan otak) mengungkapkan bahwa alexithymia terkait dengan aktivitas yang berkurang di area limbik dan paralimbic, bagian otak yang bertanggung jawab atas pemrosesan emosi. Area otak yang terpengaruh:
- Amygdala, yaitu pusat emosi; volumenya lebih kecil dan kurang aktif pada orang dengan alexithymia.
- Insula dan ACC (Anterior Cingulate Cortex), yaitu area yang menghubungkan tubuh dan emosi. Aktivitasnya menurun saat melihat rangsangan emosional.
- Prefrontal cortex, yaitu area berpikir rasional; aktivitasnya menurun saat terlibat dalam tugas sosial.
Faktor Penyebab, Alam vs. Lingkungan
Alexithymia dan EQ rendah tidak muncul dari satu sebab tunggal. Ada kombinasi faktor genetik dan lingkungan.
Faktor Biologis (Alam):
- Genetika. Studi pada anak kembar menunjukkan bahwa alexithymia memiliki komponen herediter. Jika satu orang tua memiliki alexithymia, risiko anak lebih tinggi.
- Fungsi otak. Masalah pada komunikasi antara belahan otak kanan (emosi) dan kiri (bahasa/logika) dapat menyebabkan kesulitan menerjemahkan perasaan menjadi kata-kata.
- Gangguan serotonin. Ketidakseimbangan neurotrans-mitter yang memengaruhi kebahagiaan, pembelajaran, dan memori .
- Kerusakan otak. Terutama pada insula, bagian otak yang berperan dalam sosial, empati, dan emosi .
Faktor Lingkungan (Lingkungan):
- Trauma masa kecil. Pelecehan fisik atau emosional, pengabaian, atau kurangnya pelatihan emosional di masa kanak-kanak dapat menghambat perkembangan kesadaran emosional.
- Gaya pengasuhan. Anak-anak yang orang tuanya menunjukkan kehangatan dan mendukung ekspresi emosi cenderung memiliki EQ lebih tinggi. Sebaliknya, pengasuhan yang terlalu mengontrol, disiplin yang keras dan tidak konsisten, atau pengabaian emosi anak dapat menyebabkan EQ rendah .
- Stress berat. Trauma berat (PTSD) atau penyakit kronis dapat memicu alexithymia sekunder.
Hubungan dengan Kondisi Kesehatan Lain
Alexithymia dan EQ rendah jarang datang sendirian. Mereka sering ditemukan bersamaan dengan berbagai kondisi kesehatan:
- Depresi. Sekitar 32-51% penderita depresi memiliki alexithymia.
- Gangguan kecemasan seperti panik disorder, OCD, social anxiety
- PTSD. Sekitar 41% veteran perang dengan PTSD menunjukkan tanda-tanda alexithymia
- Gangguan makan, seperti anoreksia, bulimia
- Alkohol dan narkoba. Ada kaitan antara ketergantungan alkohol dan gangguan penggunaan zat lainnya dengan EQ rendah.
- Autism Spectrum Disorder (ASD). Hingga 50% penyandang autisme juga mengalami alexithymia. Banyak yang menganggap autisme menyebabkan kurangnya empati, tapi sebenarnya alexithymia-lah yang menyebabkan kurangnya empati.
Penanganan Alexithymia dan EQ Rendah
Langkah pertama adalah berhenti menghakimi, baik diri sendiri maupun orang lain. Ini bukan kesalahan, melainkan cara otak memproses emosi yang berbeda.
- Mulailah dengan membuat jurnal. Tulis setiap hari sensasi fisik dan coba hubungkan dengan label emosi ("perut tegang, mungkin cemas").
- Perkaya kosa kata emosi, mulai dari emosi dasar (sedih, senang, marah, takut) lalu ke nuansa yang lebih halus.
- Terapkan metode RULER: Recognize (akui perasaan), Understand (cari pemicunya), Label (beri nama), Express (ungkapkan lewat bicara, jurnal, atau seni), dan Regulate (kelola dengan relaksasi, olahraga, atau bicara dengan orang terpercaya).
- Saat berinteraksi dengan orang yang memiliki kecenderungan ini, jangan ambil hati. Mereka tidak "dingin" untuk menyakiti Anda, tapi memang tidak punya akses ke bahasa emosi. Gunakan pertanyaan tertutup "Apakah kamu marah?" dari pada pertanyaan terbuka "Bagaimana perasaanmu?". Fokus pada perilaku "Saya lihat kamu diam" dari pada perasaan "Kamu tampak sedih", dan berikan contoh "Saya sedih karena..." untuk memberi model. Tetap pada logika, jelaskan situasi secara jelas dan langsung tanpa terlalu banyak nuansa emosional. Tawarkan penerimaan, bukan kritik, berlatih mendengarkan aktif dengan fokus penuh serta refleksikan apa yang mereka katakan.
- Bersabarlah. Perubahan bisa memakan waktu bertahun-tahun, dan konseling bersama dapat membantu komunikasi menjadi lebih efektif.
Penutup
Alexithymia dan low EQ, bukan karena tak peduli, tapi karena tak punya akses ke bahasa hati. Kabar baiknya, keduanya bisa dipahami dan dikelola. Dengan latihan kecil setiap hari, kita bisa lebih sabar pada diri sendiri dan orang lain yang tampak "kaku". Karena setiap orang punya dunia batin berbeda, dan tugas kita adalah saling memahami.
©IKM 2026-06
Follow Dr. Indra on Instagram
RSS Feed