Dr. Indra K. Muhtadi - "dokter plus"
  • Home
    • My Curriculum Vitae
    • Dr. Indra on Media
  • What's New
  • Dr. Indra's Books
    • Book: "SENIOR untuk HEBAT"
    • Book: "STRES untuk HEBAT"
    • Book: "SEHAT untuk HEBAT"
    • Book: "Revolusi Mental"
  • Blog: Medical Articles
    • Blog Index (A to Z)
    • Blog Index (by category)
    • Blog Articles: 2026
    • Blog Articles: 2025
    • Blog Articles: 2024
    • Blog Articles: 2023
    • Blog Articles: 2022
    • Blog Articles: 2021
    • Blog Articles: 2020
    • Blog Articles: 2019
    • Blog Articles: 2018
    • Blog Articles: 2017
    • Blog Articles: 2016
    • Blog Articles: 2015
    • Blog Articles: 2014
    • Blog Articles: 2013
    • Blog Articles: 2012
    • Blog Articles: 2011
    • Blog Articles: 2010
  • Health & Wellness Influencer & Motivator
    • Retirement Preparation from Health Point of View
    • Stres untuk Hebat
    • Health Topic Seminars
    • The Secret of Healthy Life Style
    • Company Health Management
    • Stop Smoking Course
    • Quality Service Excellent
    • Change Leadership Training and Self Improvement
    • Smile in Assertive Communication
    • Assertive Communication Skills
    • Employee Counseling for Productivity
    • Managerial Skills and Self Leadership Skills
    • Motivation and Job Satisfaction
  • Health Consultant (Praktek)
    • Adult Vaccination
  • Health Calculator
    • BMI Calculator
    • Advanced BMI Calculator
    • BMI Calculator for Children
    • Ideal Body Weight Calculator
    • Exercise Calorie Calculator
    • Daily Calorie Calculator
    • Liquid Calorie Calculator
  • Health Tips Video
  • Health Pictures
  • My Travel and Other Blog
  • ABN Group
  • References & Partners
  • Contact Me

Topik ke-580: Kecanduan, Ketika Otak Kehilangan Kemampuan Bilang 'Cukup'

24/7/2026

0 Comments

 
Picture
Pendahuluan
Pernahkah Anda bertanya-tanya mengapa seseorang bisa terus menerus melakukan perilaku tertentu, atau tidak bisa lepas mengkonsumsi sesuatu, meskipun sudah jelas-jelas merusak kesehatan, keuangan, dan hubungan dengan orang-orang terdekat? Mengapa logika dan kemauan seolah "kalah" melawan dorongan yang tak terkendali? Jawabannya terletak pada pemahaman bahwa kecanduan (addiction) adalah penyakit otak kronis. Bukan sekadar kurangnya kemauan atau kelemahan karakter. Ini adalah gangguan pada sistem reward, motivasi, dan memori di otak yang mengubah cara seseorang merespons zat atau perilaku tertentu.

Definisi dan Konsep Dasar Kecanduan
Kecanduan didefinisikan sebagai gangguan kronis pada sistem otak yang melibatkan reward, motivasi, dan memori. Seseorang dengan kecanduan akan:
  • Kehilangan kendali, tidak mampu menjauh dari zat atau menghentikan perilaku adiktif.
  • Keinginan yang meningkat, hasrat yang kuat untuk menggunakan zat atau melakukan perilaku.
  • Mengabaikan konsekuensi, perilaku tetap berlanjut meskipun sudah menimbulkan masalah serius.
  • Kurang respons emosional, terhadap dampak negatif yang ditimbulkan.

Perbedaan Ketergantungan dan Kecanduan
Ketergantungan (dependence) dan kecanduan (addiction) adalah 2 hal yang mirip tapi berbeda, seperti berikut:
  • Dependence (ketergantungan): Tubuh menjadi terbiasa dengan zat atau perilaku dan mengalami gejala putus (withdrawal) saat dihentikan.
  • Addiction (kecanduan): Penggunaan zat atau mempraktikkan perilaku tertentu secara kompulsif meskipun ada konsekuensi negatif.
Banyak orang dengan kecanduan juga mengalami keter-gantungan, tapi tidak semua orang dengan keterganguntan mengalami kecanduan. Istilah "psychological addiction" merujuk pada komponen emosional dan mental, seperti hasrat yang kuat dan kesulitan memikirkan hal lain yang sering kali lebih sulit diatasi daripada ketergantungan fisik semata. Kecanduan berdasarkan jenisnya terbagi 2 seperti uraian selanjutnya.
 
1. Chemical Addiction (Kecanduan Zat)
Istilah " addiction" sendiri sudah tidak digunakan secara resmi dalam DSM-5 (Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders) untuk kecanduan zat. Diagnosis resmi yang digunakan sekarang adalah Substance Use Disorder (SUD) atau Gangguan Penggunaan Zat, rentang dari ringan hingga berat, berdasarkan jumlah kriteria yang dipenuhi.
Kecanduan zat melibatkan penggunaan zat adiktif, termasuk namun tidak terbatas pada:
  • Nikotin: rokok, vape
  • Alkohol: dalam semua bahan yang mengandungnya
  • Opioid: heroin, morfin, oksikodon yang meningkat hampir dua kali lipat dalam prevalensi dan beban penyakit antara 1990 dan 2023 di seluruh dunia.
  • Kokain dan amfetamin (termasuk metamfetamin): Di Indonesia, penggunaan metamfetamin (shabu) mendominasi kasus narkoba, dengan 3.200–7.000 kasus terkait shabu di lima provinsi.
  • Kannabis (ganja): yang menjadi gangguan penggunaan zat yang paling umum secara global, dengan prevalensi 270,8 per 100.000 orang pada 2023.
  • Sedatif: obat penenang seperti benzodiazepin
  • Kafein: bila dikonsumsi dalam dosis tinggi
  • Inhalansia: lem, cat, aerosol
 
2. Behavioral Addiction (Kecanduan Perilaku)
Melibatkan perilaku kompulsif yang diulang terus meskipun merugikan dan/atau tidak memberikan manfaat nyata:
  • Perjudian (gambling): Behavioral addiction pertama yang diakui secara resmi dalam DSM-5
  • Internet Gaming Disorder: Behavioral addiction kedua yang diakui dalam DSM-5.
  • Belanja kompulsif
  • Kecanduan seks
  • Kecanduan kerja
  • Kecanduan media sosial
  • Kecanduan olahraga
  • Kecanduan makanan
 
Tahapan Kecanduan
Kecanduan berkembang melalui tahapan yang progresif:
  1. Eksperimen. Penggunaan atau keterlibatan yang sering diawali karena rasa ingin tahu atau penasaran.
  2. Penggunaan Sosial/Reguler. Menggunakan/melakukan dalam situasi sosial atau untuk alasan sosial.
  3. Penggunaan Berisiko. Menggunakan/melakukan dengan cara ekstrem yang mengabaikan konsekuensi.
  4. Ketergantungan. Menggunakan/melakukan setiap hari beberapa kali sehari, walau ada konsekuensi negatif.
 
Dalam model neurobiologis, kecanduan bergerak dari impulsivitas ke kompulsivitas melalui tiga tahap :
  1. Preoccupation/Anticipation, sibuk dan hanya fokus memikirkan zat atau perilaku pembuat kecanduan.
  2. Binge/Intoxication, penggunaan atau aktivitas yang berlebihan.
  3. Withdrawal/Negative Affect, gejala putus zat/perilaku dan emosi negatif saat akses dihentikan.

Baca artikel lainnya di Blog Dr. Indra K. Muhtadi
Picture
Ilmu di Balik Kecanduan
Bila membahas kecanduan, maka tidak akan terlepas dari peran dopamin dan sistem reward otak. Kecanduan mengganggu fungsi normal otak, terutama pada sistem reward. Saat melakukan sesuatu yang menyenangkan, sistem reward melepaskan neurotransmitter dopamin. Namun, perlu ditegaskan bahwa dopamin bukan "zat kesenangan”. Ia berperan untuk memperkuat asosiasi antara sesuatu dengan perasaan menyenangkan, mendorong yang bersangkutan untuk mencari hal itu lagi di masa depan. Berikut proses yang terjadi di dalam otak:
  1. Penggunaan zat berulang menyebabkan otak melepaskan dopamin dalam jumlah besar
  2. Otak beradaptasi dengan mengurangi produksi dopamin dan mengurangi reseptor dopamin
  3. Toleransi berkembang. Yang bersangkutan butuh lebih banyak zat untuk efek yang sama
  4. Hal-hal yang dulu menyenangkan menjadi tidak menarik karena otak tidak lagi melepaskan dopamin sebagai respons terhadap pemicu alami selain zat atau aktivitas candunya.
  5. Kecanduan berkembang,  kehilangan kendali, keinginan kuat, dan terus menggunakan meskipun ada konsekuensi negatif
 
Faktor-faktor yang Mempengaruhi Risiko Kecanduan
Faktor Biologis:
  • Genetika. Sekitar 40–60% risiko kecanduan berasal dari faktor genetik.
  • Riwayat kesehatan mental. Memiliki kondisi seperti depresi, kecemasan, atau skizofrenia yang dapat meningkatkan risiko.
  • Perkembangan otak. Penggunaan zat pada masa remaja sangat berisiko karena otak masih berkembang.
 
Faktor Lingkungan (terutama pada anak dan remaja):
  • Lingkungan. Tinggal dengan atau dekat orang yang menyalahgunakan zat memiliki perilaku kecanduan.
  • Pengaruh sosial. Memiliki teman yang menggunakan zat atau memiliki perilaku kecanduan.
  • Kesulitan di sekolah. Masalah sosial atau akademik dapat meningkatkan risiko.
  • Trauma masa kecil. Pengalaman traumatik di masa kecil sangat terkait dengan risiko gangguan penggunaan zat dan prilaku kecanduan di kemudian hari.
 
Mengenali Tanda-tanda Kecanduan
Mengenali kecanduan pada diri sendiri atau orang lain bisa jadi sulit, terutama di tahap awal. Tanda-tanda umum kecanduan dapat meliputi:
Perubahan Perilaku:
  • Kehilangan minat pada hobi atau aktivitas yang dulu penting atau diminati.
  • Mengabaikan tanggung jawab (pekerjaan, sekolah, rumah tangga).
  • Meningkatnya kerahasiaan dan sering berbohong tentang penggunaan atau waktu yang dihabiskan.
  • Mencari situasi dan kesempatan yang mendorong penggunaan zat/perilaku kecanduan.
  • Mengabaikan risiko (misalnya berbagi jarum suntik), menghabiskan uang, keselamatan diri, dll.
 
Perubahan Mental dan Emosional:
  • Perubahan suasana hati mendadak
  • Perilaku agresif
  • Iritabilitas
  • Depresi
  • Apatis
  • Pikiran untuk bunuh diri
 
Komplikasi Jangka Panjang
Kecanduan yang tidak ditangani dapat menyebabkan konsekuensi jangka panjang yang serius:
  • Fisik (untuk narkoba): Penyakit jantung, HIV/AIDS, hepatitis (terutama pada pengguna jarum suntik), kerusakan neurologis permanen, over dosis yang fatal
  • Psikologis dan emosional: Kecemasan dan depresi kronis, gangguan kontrol impuls, isolasi sosial.
  • Sosial: Hubungan rusak, kehilangan pekerjaan, rumah, atau hak asuh anak, masalah hukum dan penjara
  • Ekonomis: Utang, kebangkrutan
 
Pengobatan dan Pemulihan
Kecanduan dapat diobati. Pendekatan terbaik adalah komprehensif dan individual:
  1. Detoksifikasi medis & rehabilitasi (untuk zat). Langkah pertama untuk beberapa jenis kecanduan (alkohol, benzodiazepin, opioid) yang melibatkan pengawasan medis untuk mengelola gejala putus zat dengan aman. Dalam beberapa kasus, ini bisa mengancam jiwa.
  2. Medikasi. Dapat membantu mengurangi keinginan dan gejala putus zat untuk kecanduan alkohol, nikotin, dan opioid.
  3. Psikoterapi dan konseling
  • Cognitive Behavioral Therapy (CBT). Membantu mengidentifikasi dan mengubah pola pikir dan perilaku yang memicu kecanduan.
  • Konseling individual. Mengatasi faktor-faktor yang mendasari (trauma, depresi, kecemasan).
  • Terapi kelompok. Dukungan dari sesama yang sedang dalam pemulihan.
  1. Dukungan Sosial. Dukungan dari keluarga, teman, dan komunitas sangat penting selama pemulihan. Bangun lingkungan yang bebas pemicu dan dorong orang yang dicintai untuk tetap berada di jalur pemulihan.
 
Tips untuk Keluarga dan Orang Terdekat

Jika Anda memiliki orang terdekat dengan kecanduan:
  1. Jangan mengambilnya secara pribadi. Kecanduan adalah penyakit, bukan cerminan dari hubungan Anda.
  2. Tetap aman. Tetapkan aturan dan batasan yang jelas; jika keamanan menjadi masalah.
  3. Dorong pengobatan. Bicarakan tentang program rehabilitasi; siapkan informasi yang bisa mereka baca.
  4. Batasi akses ke uang. Mereka mungkin melakukan apa saja untuk mendapatkan uang guna memenuhi hasrat kecanduannya.
  5. Pahami bahwa pemulihan adalah proses jangka panjang. Kekambuhan (relapse) adalah bagian dari perjalanan pulih, bukan kegagalan total.

©IKM 2026-07
0 Comments



Leave a Reply.

    Home >> Medical Articles >> 2026

    Medical Articles 2026

    Picture
    Lihat daftar artikel lainnya, click pada gambar

    Picture
    Panduan komprehensif untuk mereka yang menuju atau telah memasuki masa purna bakti.

    Bila Anda suka dengan blog ini, silakan "like" artikelnya di bagian bawah setiap artikel dan silakan menikmati artikel lainnya pada blog tahun 2023. Click di sini.

    Picture

    Author

    Dr. Indra K. Muhtadi adalah seorang Health Influencer dan konsultan pada berbagai professional training di Indonesia.

    Sebagai dokter, ia sangat piawai memberikan konsultasi kesehatan dengan bahasa ringan sehingga membuat masalah medis menjadi sesuatu yang mudah untuk dipahami.

    Click di sini untuk berkonsultasi dengan Dr. Indra

    These Blogs are written in Bahasa Indonesia. I hope these blogs can help those who search the information about the topic discussed in the radio.  Feel free to give comments and if you need an English version of the content from these blogs, please don't hesitate to contact me.


    Instagram Follow Dr. Indra on Instagram
    Follow @indrakm

    Archives

    July 2026
    June 2026
    May 2026
    April 2026
    March 2026
    February 2026
    January 2026

    Categories

    All
    Alexithymia & Rendahnya EQ
    Ancaman Untuk DIpahami
    Begadang Jadi Bumerang
    Buta Warna Emosional
    Campak Pada Dewasa
    Cognitive Walking
    Dari Dandang Ke Rice Cooker
    Flu Biasa Yang Tidak Biasa
    Godzilla Heat Waves Melanda
    Hantavirus
    HbA1c
    Hormon-Hormon Bahagia
    Jurnal Perjalanan Gula Darah
    Kecanduan
    Lebih Mematikan
    Marburg Virus
    Mata Terjaga - Hati Tersiksa
    Mengenal Glutamat Dengan Bijak
    Paradoks Tekanan Darah
    Parkinson Tak Kenal Usia
    Pembohong Patologis
    Probiotik Dan Prebiotik
    Puasa Saat Tubuh Tidak Baik-Baik Saja
    Ramadan Tanpa Lelah
    Sama Penting Tapi Tidak Sama
    Senior Untuk Hebat
    Super Flu
    Tikus Jadi Bom Waktu Mematikan
    Virus Mematikan Dari Keluarga Ebola
    Virus Nipah


    Saya tidak mencantumkan rujukan atau sumber dari artikel yang saya tulis, karena akan menambah panjang body dari posting-an blog-nya.
    Bila ada yang memerlukan silakan hubungi saya di contac me. Saya dengan senang hati akan menginfokannya.


    Disclaimer

    All data and statements in all articles in these blogs on this website were true at the time of writing. Some update may be required.

    The Content is not intended to be a substitute for professional medical advice, diagnosis, or treatment. Always seek the advice of your physician or other qualified health provider with any questions you may have regarding a medical condition.

    Picture
    Terima kasih untuk mendukung usaha saya dan berbagi informasi
    Thank you for supporting my effort and sharing my knowledge


    Picture

    Infographic
    of the week
    Picture
    Pembohong Patologis, Ketika Dusta Menjadi Kebiasaan

    Navigation:
    Back to Blog Main Page
    Back to Blog Index

    RSS Feed

Proudly powered by Weebly