Pernahkah Anda bertanya-tanya mengapa seseorang bisa terus menerus melakukan perilaku tertentu, atau tidak bisa lepas mengkonsumsi sesuatu, meskipun sudah jelas-jelas merusak kesehatan, keuangan, dan hubungan dengan orang-orang terdekat? Mengapa logika dan kemauan seolah "kalah" melawan dorongan yang tak terkendali? Jawabannya terletak pada pemahaman bahwa kecanduan (addiction) adalah penyakit otak kronis. Bukan sekadar kurangnya kemauan atau kelemahan karakter. Ini adalah gangguan pada sistem reward, motivasi, dan memori di otak yang mengubah cara seseorang merespons zat atau perilaku tertentu.
Kecanduan didefinisikan sebagai gangguan kronis pada sistem otak yang melibatkan reward, motivasi, dan memori. Seseorang dengan kecanduan akan:
- Kehilangan kendali, tidak mampu menjauh dari zat atau menghentikan perilaku adiktif.
- Keinginan yang meningkat, hasrat yang kuat untuk menggunakan zat atau melakukan perilaku.
- Mengabaikan konsekuensi, perilaku tetap berlanjut meskipun sudah menimbulkan masalah serius.
- Kurang respons emosional, terhadap dampak negatif yang ditimbulkan.
Ketergantungan (dependence) dan kecanduan (addiction) adalah 2 hal yang mirip tapi berbeda, seperti berikut:
- Dependence (ketergantungan): Tubuh menjadi terbiasa dengan zat atau perilaku dan mengalami gejala putus (withdrawal) saat dihentikan.
- Addiction (kecanduan): Penggunaan zat atau mempraktikkan perilaku tertentu secara kompulsif meskipun ada konsekuensi negatif.
1. Chemical Addiction (Kecanduan Zat)
Istilah " addiction" sendiri sudah tidak digunakan secara resmi dalam DSM-5 (Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders) untuk kecanduan zat. Diagnosis resmi yang digunakan sekarang adalah Substance Use Disorder (SUD) atau Gangguan Penggunaan Zat, rentang dari ringan hingga berat, berdasarkan jumlah kriteria yang dipenuhi.
Kecanduan zat melibatkan penggunaan zat adiktif, termasuk namun tidak terbatas pada:
- Nikotin: rokok, vape
- Alkohol: dalam semua bahan yang mengandungnya
- Opioid: heroin, morfin, oksikodon yang meningkat hampir dua kali lipat dalam prevalensi dan beban penyakit antara 1990 dan 2023 di seluruh dunia.
- Kokain dan amfetamin (termasuk metamfetamin): Di Indonesia, penggunaan metamfetamin (shabu) mendominasi kasus narkoba, dengan 3.200–7.000 kasus terkait shabu di lima provinsi.
- Kannabis (ganja): yang menjadi gangguan penggunaan zat yang paling umum secara global, dengan prevalensi 270,8 per 100.000 orang pada 2023.
- Sedatif: obat penenang seperti benzodiazepin
- Kafein: bila dikonsumsi dalam dosis tinggi
- Inhalansia: lem, cat, aerosol
2. Behavioral Addiction (Kecanduan Perilaku)
Melibatkan perilaku kompulsif yang diulang terus meskipun merugikan dan/atau tidak memberikan manfaat nyata:
- Perjudian (gambling): Behavioral addiction pertama yang diakui secara resmi dalam DSM-5
- Internet Gaming Disorder: Behavioral addiction kedua yang diakui dalam DSM-5.
- Belanja kompulsif
- Kecanduan seks
- Kecanduan kerja
- Kecanduan media sosial
- Kecanduan olahraga
- Kecanduan makanan
Tahapan Kecanduan
Kecanduan berkembang melalui tahapan yang progresif:
- Eksperimen. Penggunaan atau keterlibatan yang sering diawali karena rasa ingin tahu atau penasaran.
- Penggunaan Sosial/Reguler. Menggunakan/melakukan dalam situasi sosial atau untuk alasan sosial.
- Penggunaan Berisiko. Menggunakan/melakukan dengan cara ekstrem yang mengabaikan konsekuensi.
- Ketergantungan. Menggunakan/melakukan setiap hari beberapa kali sehari, walau ada konsekuensi negatif.
Dalam model neurobiologis, kecanduan bergerak dari impulsivitas ke kompulsivitas melalui tiga tahap :
- Preoccupation/Anticipation, sibuk dan hanya fokus memikirkan zat atau perilaku pembuat kecanduan.
- Binge/Intoxication, penggunaan atau aktivitas yang berlebihan.
- Withdrawal/Negative Affect, gejala putus zat/perilaku dan emosi negatif saat akses dihentikan.
Baca artikel lainnya di Blog Dr. Indra K. Muhtadi
Bila membahas kecanduan, maka tidak akan terlepas dari peran dopamin dan sistem reward otak. Kecanduan mengganggu fungsi normal otak, terutama pada sistem reward. Saat melakukan sesuatu yang menyenangkan, sistem reward melepaskan neurotransmitter dopamin. Namun, perlu ditegaskan bahwa dopamin bukan "zat kesenangan”. Ia berperan untuk memperkuat asosiasi antara sesuatu dengan perasaan menyenangkan, mendorong yang bersangkutan untuk mencari hal itu lagi di masa depan. Berikut proses yang terjadi di dalam otak:
- Penggunaan zat berulang menyebabkan otak melepaskan dopamin dalam jumlah besar
- Otak beradaptasi dengan mengurangi produksi dopamin dan mengurangi reseptor dopamin
- Toleransi berkembang. Yang bersangkutan butuh lebih banyak zat untuk efek yang sama
- Hal-hal yang dulu menyenangkan menjadi tidak menarik karena otak tidak lagi melepaskan dopamin sebagai respons terhadap pemicu alami selain zat atau aktivitas candunya.
- Kecanduan berkembang, kehilangan kendali, keinginan kuat, dan terus menggunakan meskipun ada konsekuensi negatif
Faktor-faktor yang Mempengaruhi Risiko Kecanduan
Faktor Biologis:
- Genetika. Sekitar 40–60% risiko kecanduan berasal dari faktor genetik.
- Riwayat kesehatan mental. Memiliki kondisi seperti depresi, kecemasan, atau skizofrenia yang dapat meningkatkan risiko.
- Perkembangan otak. Penggunaan zat pada masa remaja sangat berisiko karena otak masih berkembang.
Faktor Lingkungan (terutama pada anak dan remaja):
- Lingkungan. Tinggal dengan atau dekat orang yang menyalahgunakan zat memiliki perilaku kecanduan.
- Pengaruh sosial. Memiliki teman yang menggunakan zat atau memiliki perilaku kecanduan.
- Kesulitan di sekolah. Masalah sosial atau akademik dapat meningkatkan risiko.
- Trauma masa kecil. Pengalaman traumatik di masa kecil sangat terkait dengan risiko gangguan penggunaan zat dan prilaku kecanduan di kemudian hari.
Mengenali Tanda-tanda Kecanduan
Mengenali kecanduan pada diri sendiri atau orang lain bisa jadi sulit, terutama di tahap awal. Tanda-tanda umum kecanduan dapat meliputi:
Perubahan Perilaku:
- Kehilangan minat pada hobi atau aktivitas yang dulu penting atau diminati.
- Mengabaikan tanggung jawab (pekerjaan, sekolah, rumah tangga).
- Meningkatnya kerahasiaan dan sering berbohong tentang penggunaan atau waktu yang dihabiskan.
- Mencari situasi dan kesempatan yang mendorong penggunaan zat/perilaku kecanduan.
- Mengabaikan risiko (misalnya berbagi jarum suntik), menghabiskan uang, keselamatan diri, dll.
Perubahan Mental dan Emosional:
- Perubahan suasana hati mendadak
- Perilaku agresif
- Iritabilitas
- Depresi
- Apatis
- Pikiran untuk bunuh diri
Komplikasi Jangka Panjang
Kecanduan yang tidak ditangani dapat menyebabkan konsekuensi jangka panjang yang serius:
- Fisik (untuk narkoba): Penyakit jantung, HIV/AIDS, hepatitis (terutama pada pengguna jarum suntik), kerusakan neurologis permanen, over dosis yang fatal
- Psikologis dan emosional: Kecemasan dan depresi kronis, gangguan kontrol impuls, isolasi sosial.
- Sosial: Hubungan rusak, kehilangan pekerjaan, rumah, atau hak asuh anak, masalah hukum dan penjara
- Ekonomis: Utang, kebangkrutan
Pengobatan dan Pemulihan
Kecanduan dapat diobati. Pendekatan terbaik adalah komprehensif dan individual:
- Detoksifikasi medis & rehabilitasi (untuk zat). Langkah pertama untuk beberapa jenis kecanduan (alkohol, benzodiazepin, opioid) yang melibatkan pengawasan medis untuk mengelola gejala putus zat dengan aman. Dalam beberapa kasus, ini bisa mengancam jiwa.
- Medikasi. Dapat membantu mengurangi keinginan dan gejala putus zat untuk kecanduan alkohol, nikotin, dan opioid.
- Psikoterapi dan konseling
- Cognitive Behavioral Therapy (CBT). Membantu mengidentifikasi dan mengubah pola pikir dan perilaku yang memicu kecanduan.
- Konseling individual. Mengatasi faktor-faktor yang mendasari (trauma, depresi, kecemasan).
- Terapi kelompok. Dukungan dari sesama yang sedang dalam pemulihan.
- Dukungan Sosial. Dukungan dari keluarga, teman, dan komunitas sangat penting selama pemulihan. Bangun lingkungan yang bebas pemicu dan dorong orang yang dicintai untuk tetap berada di jalur pemulihan.
Tips untuk Keluarga dan Orang Terdekat
Jika Anda memiliki orang terdekat dengan kecanduan:
- Jangan mengambilnya secara pribadi. Kecanduan adalah penyakit, bukan cerminan dari hubungan Anda.
- Tetap aman. Tetapkan aturan dan batasan yang jelas; jika keamanan menjadi masalah.
- Dorong pengobatan. Bicarakan tentang program rehabilitasi; siapkan informasi yang bisa mereka baca.
- Batasi akses ke uang. Mereka mungkin melakukan apa saja untuk mendapatkan uang guna memenuhi hasrat kecanduannya.
- Pahami bahwa pemulihan adalah proses jangka panjang. Kekambuhan (relapse) adalah bagian dari perjalanan pulih, bukan kegagalan total.
©IKM 2026-07
Follow Dr. Indra on Instagram
RSS Feed