Pendahuluan
Mungkin kita semua pernah berbohong. Entah itu white lie untuk tidak menyakiti perasaan orang lain, atau alasan kecil agar tidak terlambat masuk kerja misalnya. Penelitian bahkan menunjukkan rata-rata orang dewasa berbohong sekitar 1,65 kali sehari! Tapi bagaimana jika seseorang berbohong setiap hari, berulang kali, tanpa tujuan yang jelas, bahkan saat tidak ada keuntungan yang bisa didapat? Itulah yang disebut pathological lying (berbohong patologis) atau pseudologia fantastica, sebuah kondisi di mana dusta menjadi kebiasaan yang tidak terkendali. Siapa yang pernah bertemu dengan orang seperti ini? Mungkin rekan kerja yang selalu punya cerita heroik, atau anggota keluarga yang terus-menerus mengaku sakit padahal tidak. Mereka bukan "pembohong biasa", mereka mungkin sedang bergulat dengan kondisi yang tidak mereka sadari.
Istilah ini pertama kali dicetuskan oleh psikiater Jerman Anton Delbrück pada tahun 1891 untuk menggambarkan perilaku orang yang berbohong secara berlebihan hingga dianggap patologis. Meskipun sudah dikenal lebih dari satu abad, pathological lying hingga kini belum diakui sebagai diagnosis resmi dalam Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM-5). Namun, penelitian terbaru menunjukkan bahwa kondisi ini nyata, berdampak serius pada kehidupan penderitanya, dan mungkin layak diakui sebagai entitas diagnostik tersendiri. Pathological lying berbeda dengan confabulation (pembuatan cerita palsu tanpa sadar, sering terjadi pada demensia atau cedera otak), dan berbeda juga dengan malingering (berbohong untuk keuntungan yang jelas, seperti klaim asuransi palsu.
Pathological lying, yang juga disebut mythomania atau pseudologia fantastica, adalah perilaku berbohong yang kronis, berlebihan, dan kompulsif. Berbeda dengan dusta biasa yang biasanya memiliki tujuan tertentu (menghindari hukuman, mendapat keuntungan, atau melindungi perasaan orang lain), pathological liar berbohong tanpa alasan yang jelas. Berikut Kriterianya:
- Frekuensi: Secara terus-menerus, sering kali 5 kali/lebih dalam 24 jam, melakukannya setiap hari.
- Durasi: Berlangsung lebih dari 6 bulan.
- Fungsi: Dusta tidak memiliki tujuan eksternal yang jelas, bukan untuk keuntungan materi, bukan untuk menghindari hukuman.
- Distres: Perilaku ini menyebabkan penderitaan yang signifikan bagi pelaku, atau mengganggu fungsi sosial, pekerjaan, dan kehidupan sehari-hari.
- Risiko: Dapat membahayakan diri sendiri atau orang lain (misalnya: membuat keputusan berbahaya berdasarkan informasi palsu, atau memicu konflik).
Data dan Statistik Pembohong Patologis
Penelitian tentang pathological lying masih terbatas, tetapi sebuah studi tahun 2020 yang diterbitkan dalam Psychiatric Research and Clinical Practice melibatkan 623 partisipan, menemukan bahwa 13% dari mereka mengidentifikasi diri atau diidentifikasi oleh orang lain sebagai pathological liar. Dari jumlah itu, 8% menyatakan telah didiagnosis secara formal oleh profesional kesehatan mental. Penelitian lain memperkirakan prevalensi pathological lying berkisar antara 5% hingga 13% dari populasi umum. Penelitian pada remaja menunjukkan bahwa 15% pria dan 26% wanita di antara 1.000 remaja yang berhadapan dengan hukum menunjukkan perilaku berbohong yang berlebihan. Semen-tara itu, penelitian lain menemukan bahwa sekitar 5% dari populasi adalah prolific liars atau pembohong produktif yang menyumbang sebagian besar dusta dalam populasi.
Sebuah tinjauan sistematis yang dipublikasikan pada Mei 2026 di Annals of Medicine & Surgery, menganalisis 55 kasus pathological lying dari berbagai laporan di seluruh dunia. Temuan menarik dari studi ini:
- 72,7% kasus adalah pria, dengan usia rata-rata sekitar 35 tahun (rentang 14–68 tahun).
- 49% kasus muncul pada usia 20–40 tahun.
- Motif utama:
- 38,2% untuk self-aggrandizement (membesar-besarkan diri sendiri).
- 36,4% untuk mencari perhatian.
- 29,1% untuk mengasumsikan peran sakit (sick-role assumption), berpura-pura sakit untuk mendapatkan simpati atau perhatian.
- Tema dusta yang paling umum:
- 67,3% berkaitan dengan kesehatan atau penggunaan obat-obatan. Misalnya, mengaku memiliki penyakit serius yang tidak ada.
- 43,6% berkaitan dengan pekerjaan atau pendidikan. Misalnya, mengklaim memiliki gelar atau posisi yang sebenarnya tidak dimiliki.
Baca artikel lainnya di Blog Dr. Indra K. Muhtadi
Berdasarkan penelitian, berikut ciri-ciri utama :
- Dusta tanpa tujuan jelas: Mereka berbohong bahkan saat tidak ada keuntungan yang bisa didapat. Tidak untuk uang, tidak untuk menghindari hukuman, tidak untuk melindungi perasaan orang lain.
- Cerita yang dramatis dan detail: Pathological liar adalah pendongeng ulung. Cerita mereka sangat detail, berwarna, dan meyakinkan. Meskipun sering kali berlebihan.
- Menjadi pahlawan atau korban: Mereka sering menempatkan diri sebagai tokoh heroik atau korban yang membutuhkan simpati dalam cerita mereka.
- Kadang percaya pada dusta sendiri: Dalam beberapa kasus, mereka bisa meyakini dusta mereka sendiri, berada di antara kebohongan sadar dan delusi. Ini membuat mereka sangat meyakinkan karena mereka sendiri mempercayainya.
- Tidak menunjukkan tanda-tanda berbohong: Berbeda dengan orang biasa yang mungkin menghindari kontak mata atau ragu-ragu, pathological liar adalah penampil alami. Mereka fasih, kreatif, dan tidak menunjukkan kegugupan saat berbohong .
- Menjawab dengan samar: Saat ditanya tentang kebohongannya, mereka sering berbicara banyak tanpa benar-benar menjawab pertanyaan.
- Kompulsif: Perilaku ini terasa di luar kendali. Mereka berbohong secara impulsif, tidak terencana, dan sering kali tidak bisa berhenti meskipun ingin.
Contoh Kasus yang Sering Terjadi
- Seorang pria berpura-pura memiliki penyakit kanker stadium lanjut untuk mendapatkan simpati dan perhatian dari keluarga dan teman. Ketika ditelusuri, ia tidak memiliki riwayat medis tersebut sama sekali.
- Seorang profesional mengklaim memiliki gelar doktor dan pengalaman kerja di luar negeri yang sebenarnya fiktif, hanya untuk mendapatkan pengakuan di tempat kerja .
- Seorang wanita mengarang cerita tentang kematian anggota keluarga untuk mendapatkan cuti kerja dan perhatian dari rekan-rekannya.
Penyebab Seseorang Menjadi Pembohong Patologis
Penyebab pathological lying belum sepenuhnya dipahami, tetapi penelitian menunjukkan beberapa faktor yang mungkin berperan:
- Gangguan sistem saraf pusat (SSP). Beberapa bukti menunjukkan bahwa masalah pada SSP dapat mem-pengaruhi kecenderungan seseorang untuk berbohong secara patologis. Studi pencitraan otak menemukan bahwa pada individu dengan kecenderungan ini, terjadi peningkatan materi putih di prefrontal dan pengurangan rasio materi abu-abu terhadap materi putih dibandingkan dengan kontrol normal.
- Trauma dan gangguan kepribadian. Pathological lying sering muncul bersamaan dengan kondisi lain, seperti: gangguan kepribadian cluster B (antisosial, narsistik, histrionik, borderline), ditemukan pada 25,5% kasus. Kondisi gangguan depresif pada 16,4% kasus, gangguan terkait trauma pada 16,4% kasus, penggunaan zat terlarang pada 30,9% kasus, dan risiko bunuh diri pada 27,3% kasus.
- Faktor perkembangan. Pathological lying sering dimulai pada masa remaja, sekitar usia 16 tahun. Penelitian menunjukkan bahwa perilaku ini bisa menjadi pola yang menetap hingga dewasa, terutama jika tidak mendapat intervensi. Pada sekitar 5% populasi, kebiasaan berbohong yang berlebihan dapat berlanjut dari remaja hingga dewasa.
- Faktor Psikologis. Beberapa ahli berpendapat bahwa pathological lying mungkin terkait dengan harga diri rendah, kebutuhan akan pengakuan, atau keinginan untuk mengontrol lingkungan sosial. Dusta menjadi "pelarian" dari realitas yang tidak memuaskan.
Berinteraksi dengan Pembohong Patologis
Berinteraksi dengan pathological liar bisa sangat melelahkan secara emosional, karena:
- Rasa percaya terkikis. Anda tidak pernah tahu kapan mereka berbohong, bahkan tentang hal-hal sepele.
- Kebingungan. Cerita mereka sangat detail dan meyakinkan, membuat Anda meragukan penilaian sendiri.
- Frustrasi. Tidak ada tujuan jelas dari dusta mereka, sehingga sulit dimengerti.
- Perasaan dimanfaatkan. Mereka sering meminta simpati atau bantuan berdasarkan cerita palsu.
- Konflik berkepanjangan. Saat dihadapkan pada kebenaran, mereka sering kali menyangkal, marah, atau mengganti dengan dusta baru.
Menghadapi Pembohong Patologis
Jika Anda memiliki orang terdekat yang diduga mengalami kondisi ini, berikut panduan yang bisa membantu :
- Jangan kehilangan kendali emosi. Meskipun frustasi, penting untuk tetap tenang saat berhadapan dengan pathological liar. Bersikap suportif dan baik, tapi tegas.
- Siapkan diri untuk penyangkalan. Saat dihadapkan pada dusta mereka, kemungkinan besar mereka akan menyangkal atau bahkan marah. Ini adalah respons yang umum.
- Ingat, ini bukan tentang Anda. Sulit untuk tidak merasa tersinggung, tapi perilaku ini adalah cerminan dari kondisi mereka, bukan karena Anda.
- Jangan terlibat dalam dusta. Saat menyadari mereka berbohong, jangan ikut terlibat. Anda bisa mempertanyakan pernyataan mereka, atau mengatakan bahwa Anda tidak ingin melanjutkan percakapan saat mereka tidak jujur.
- Tawarkan dukungan mencari bantuan profesional. Tanpa menghakimi, sarankan mereka untuk berkonsultasi dengan profesional kesehatan mental. Sampaikan bahwa ini berasal dari kepedulian, bukan kritik. Anda juga bisa menyiapkan informasi tentang pathological lying yang bisa mereka baca ketika siap .
- Jaga keseimbangan diri sendiri. Jika interaksi dengan pathological liar terasa terlalu berat, jangan ragu untuk mencari dukungan dari profesional, teman, atau keluarga lain.
Penutup: Memahami Dusta di Balik Dusta
Pathological lying adalah fenomena kompleks yang mengingatkan bahwa perilaku manusia tak selalu bisa dijelaskan logika sederhana. Meski belum diakui sebagai diagnosis resmi, penelitian membuktikan kondisi ini nyata, dengan dampak signifikan seperti stres, gangguan fungsi sosial, dan risiko bunuh diri yang tinggi. Di Indonesia, jutaan orang mungkin hidup dengan kecenderungan ini tanpa disadari. Memahami bahwa ini bukan sekadar "kebiasaan buruk" tapi gejala kondisi lebih dalam berlatar belakang trauma, gangguan kepribadian, atau masalah neurologis, adalah langkah pertama memberi dukungan tepat untuk penderita. Bagi yang memiliki orang terdekat dengan kecenderungan ini, ingatlah bahwa kesabaran, batasan sehat, dan dorongan mencari bantuan profesional adalah kunci. Karena di balik setiap dusta, mungkin ada luka yang belum sembuh, atau otak yang bekerja berbeda.
©IKM 2026-08
Follow Dr. Indra on Instagram
RSS Feed