Dr. Indra K. Muhtadi - "dokter plus"
  • Home
    • My Curriculum Vitae
    • Dr. Indra on Media
  • What's New
  • Health & Wellness Influencer & Motivator
    • Retirement Preparation from Health Point of View
    • Stres untuk Hebat
    • Health Topic Seminars
    • The Secret of Healthy Life Style
    • Company Health Management
    • Stop Smoking Course
    • Quality Service Excellent
    • Change Leadership Training and Self Improvement
    • Smile in Assertive Communication
    • Assertive Communication Skills
    • Employee Counseling for Productivity
    • Managerial Skills and Self Leadership Skills
    • Motivation and Job Satisfaction
  • Dr. Indra's Books
    • Book: "SEHAT untuk HEBAT"
    • Book: "STRES untuk HEBAT"
    • Book: "Revolusi Mental"
  • Blog: Medical Articles
    • Blog Index (A to Z)
    • Blog Index (by category)
    • Blog Articles: 2026
    • Blog Articles: 2025
    • Blog Articles: 2024
    • Blog Articles: 2023
    • Blog Articles: 2022
    • Blog Articles: 2021
    • Blog Articles: 2020
    • Blog Articles: 2019
    • Blog Articles: 2018
    • Blog Articles: 2017
    • Blog Articles: 2016
    • Blog Articles: 2015
    • Blog Articles: 2014
    • Blog Articles: 2013
    • Blog Articles: 2012
    • Blog Articles: 2011
    • Blog Articles: 2010
  • Health Consultant (Praktek)
    • Location
    • Adult Vaccination
  • Health Tips Video
  • Health Calculator
    • BMI Calculator
    • Advanced BMI Calculator
    • BMI Calculator for Children
    • Ideal Body Weight Calculator
    • Exercise Calorie Calculator
    • Daily Calorie Calculator
    • Liquid Calorie Calculator
  • Health Pictures
  • My Travel and Other Blog
  • ABN Group
  • References & Partners
  • Contact Me

Topik ke-460: Anecdotal Evidence (Saksi Kejadian) di Dunia Medis

10/2/2023

2 Comments

 
Picture
Pendahuluan
Anecdotal evidence adalah suatu istilah mengenai sebuah informasi atau data berdasarkan pengalaman atau observasi pribadi seseorang atau sekelompok orang. Dalam bahasa Indonesia bisa diterjemahkan bebas sebagai “bukti anekdotal” atau “saksi kejadian”. Berbeda dengan penelitian sistematis yang mengumpulkan serta menganalisa data lengkap, dengan metoda yang terukur serta harus diuji dan dibuktikan secara ilmiah, anecdotal evidence dapat dikemukakan dengan bukti atau kejadian yang tidak banyak. Bahkan hanya satu kejadian pun dapat dijadikan dasar sebuah klaim. Walaupun demikian di dunia medis, anecdotal evidence tetap dapat bermanfaat dalam penanganan pasien yang bisa berdampingan dengan terapi yang sedang diberikan oleh dokter.

Bias dalam Anecdotal Evidence
Satu masalah utama dari anecdotal evidence adalah rentan terjadinya bias yang bersifat subjektif. Bias yang dapat terjadi adalah confirmation bias yaitu ketika seseorang mencari informasi hanya yang dapat mendukung pendapat atau hipotesis yang dibuatnya saja. Kemudian dapat terjadi selection bias yaitu ketika seseorang yang mencari informasi tersebut mengabaikan segala informasi yang bertentangan dengan pendapat atau hipotesis yang dibuatnya. Dan ketiga dapat terjadi sample bias yang terjadi karena berdasarkan jumlah kasus yang sedikit di mana belum tentu sesuatu yang positif terjadi pada seseorang dapat berlaku sama terhadap semua orang. Ketiga jenis bias ini sering dan dominan terjadi pada sebuah anecdotal evidence membuat klaim yang dibuat terlihat sangat meyakinkan seperti tidak dapat ditolak kebenarannya.

Manfaat Anecdotal Evidence
Terlepas dari kekurangannya, anecdotal evidence tetap dapat berguna ketika para ilmuan menyusun sebuah hipotesis dengan menjadikan klaim dari sebuah anecdotal evidence sebagai pembanding untuk diuji dengan metoda bersifat ilmiah. Atau anecdotal evidence sering juga berguna untuk meningkatkan kesadaran dan kewaspadaan terhadap sebuah issue atau masalah berdasarkan pengalaman atau sudut pandang yang mungkin belum pernah diteliti sebelumnya secara ilmiah. Walaupun demikian sangat penting untuk berhati-hati dalam menginterpretasikan dan memanfaatkan sebuah anecdotal evidence dalam membuat sebuah keputusan dan menarik sebuah kesimpulan karena belum tentu benar.
 
Anecdotal Evidence di Dunia Medis
Di dunia medis anecdotal evidence terjadi ketika pengalaman dan pengamatan seseorang, baik itu pasien, dokter, atau paramedis terhadap suatu kondisi medis, perlakuan medis, atau intervensi medis, yang dijadikan rujukan atau dasar dalam penanganan pasien tanpa adanya pandangan medis yang komprehensif dan representatif. Sudah tentu hal ini menjadi tantangan karena sangat rentan terjadi bias seperti yang diuraikan di atas. Belum lagi kemungkinan terjadinya placebo effect atau efek plasebo disebabkan keyakinan psikologis dari pasien terhadap sebuah anecdotal evidence tersebut. Contoh yang paling sering terjadi di Indonesia adalah kepercayaan masyarakat untuk meminum jus jambu batu yang diyakini dapat menaikkan trombosit yang rendah ketika terkena demam berdarah. Suatu anecdotal evidence yang tak jarang juga diyakini oleh dokter dan paramedis yang menangani pasiennya.
 
Jebakan Anecdotal Evidence
Ada beberapa skenario sebuah anecdotal evidence dapat menyesatkan di dunia medis, sbb.:
  1. Karena kebetulan. Hal ini sering sekali terjadi ketika pasien menjadi sembuh ketika misalnya setelah meminum jus tertentu, padahal memang dalam perjalanan penyakitnya sudah dalam tahap hampir sembuh. Sangat mungkin ia akan menjadi sangat percaya bahwa jus tersebutlah obatnya.
  2. Faktor gaya hidup. Contohnya ada seseorang yang menjadi lebih lekas sembuh dari sebuah penyakit infeksi bila dibandingkan temannya karena ia rutin minum air alkaline. Padahal ia memang hidup lebih sehat seperti menjaga diet, cukup istirahat, rajin olahraga, tidak merokok, dll., yang berbeda dengan temannya tersebut. Tapi faktor gaya hidup yang karena sudah biasa, menjadi terlupakan membuat konsentrasi kesembuhan fokus pada air alkaline tersebut.
  3. Lebih terfokus pada jumlah yang berhasil. Hal ini sering terjadi pada iklan-iklan terapi alternatif, yang menunjukkan keberhasilan puluhan orang di mana mereka menjadi sembuh setelah menjalaninya. Puluhan orang tersebut sepertinya banyak, padahal bila boleh fair, mungkin malah ada ratusan yang tidak sembuh setelah menjalaninya. Namun hal ini luput dari laporan.
  4. Karena sangat yakin. Ada pula kasus yang membuat seseorang menjadi sangat yakin akan apa yang dilakukan. Contohnya ketika pandemi COVID-19 (C19) yang lalu, di mana banyak orang mempraktekkan menghirup uap minyak kayu putih untuk mencegah tertular C19. Lalu ternyata dirinya memang tidak tertular sehingga merekomendasikan cara yang dilakukan kepada teman dan kerabat. Hal ini disebut sebagai placebo effect.
 
Dunia Medis Berdampingan dengan Anecdotal Evidence
Tapi dalam sejarahnya, dunia medis tidak pernah terlepas bahkan selalu berdampingan dengan anecdotal evidence. Sir Alexander Fleming yang menemukan penicillin pun memulai penelitiannya pada sebuah anecdotal evidence yang terjadi. Kalau saja ia tidak mempertimbangkan anecdotal evidence mungkin masih cukup lama baru penisilin ditemukan umat manusia. Ini artinya tidak semua anecdotal evidence yang ada merupakan sesuatu yang salah. Bukan berarti karena tidak ada penelitian dan bukti medisnya, menjadi tidak berguna untuk kepentingan pasien. Walaupun memang benar sebagian anecdotal evidence hanya menjadi jebakan seperti dijelaskan di atas, tapi sebagian lagi yang bila diteliti secara ilmiah malah memang terbukti. Contohnya khasiat bawang putih, kunyit, dll.

Baca artikel lainnya di Blog Dr. Indra K. Muhtadi
Picture
Evidence-Based Medicine vs. Anecdotal Evidence
Evidence-based medicine (EBM) atau pelayanan kesehatan berdasarkan bukti ilmiah, memang terlihat berlawanan dengan anecdotal evidence yang hampir selalu dianggap “mencedrai” hal yang didasari oleh bukti ilmiah. Bila kita melihat mundur lebih jauh ke belakang di sejarah perobatan dunia, EBM termasuk hal yang relatif baru. Berarti sebelum adanya EBM terkesan pelayanan kesehatan bersifat tidak ilmiah. Padahal EBM baru dikembangkan sebagai dasar pada tahun 1970an oleh ahli epidemiologi dari Skotlandia bernama Chochrane. Sementara istilah “evidence-based medicine” sendiri baru tertuang dalam sebuah tulisan pada tahun 1992 yang ditulis oleh Gordon Guyatt dan David Sackett.
 
Yang dikenal sebagai EBM saat ini adalah sebuah klaim yang diuji dengan meta-analisis dan pandangan sistematis dari triple-blind randomized placebo-based clinical trial dengan dukungan validasi statistik, relevansi klinis, dan keberterimaan dari insan kalangan medis. Padahal para ilmuan zaman dahulu seperti William Harvey yang menjelaskan peredaran darah, Louis Pasteur yang mengidekan vaksinasi, Alexander Fleming penemu penisilin; menggunakan dasar yang lebih tidak jelas dan penuh ketidakpastian sebagai landasan penemuan besar mereka. Dalam prakteknya saat ini, parah ahli biasanya menggunakan anecdotal evidence sebagai ide sebuah hipotesis baru tapi tidak untuk menggunakannya sebagai bukti yang tervalidasi.
 
Klaim Anecdotal Evidence yang Diteliti
Sudah mulai banyak para ahli yang tertarik menguji beberapa anecdotal evidence dan diangkat dalam penelitian ilmiah. Ada sebuah kajian yang melaporkan bahwa 35 dari 47 anecdotal evidence tentang penanganan medis ternyata benar, dan menjadi sesuatu yang bukan tanpa dasar lagi. Bahkan ketika hasilnya tidak begitu meyakinkan sekalipun, akan memancing ilmuan yang sama atau ilmuan lain untuk melanjutkan penelitiannya dan menguji hipotesis dari sebuah anecdotal evidence tersebut. Tidak sedikit pula penelitian yang dijalankan bersamaan dengan penanganan medisnya. Contohnya suatu pilihan terapi baru untuk kanker yang berdasar pada sebuah anecdotal evidence, penelitiannya dilakukan dengan cara memberikannya langsung kepada pasien kanker. Dan untuk beberapa kasus memang berhasil.
 
Para peneliti bisa melihat kecendrungan pola atau penyakit yang ada di masyarakat dari anecdotal evidence yang beredar, untuk kemudian membuat sebuah hipotesis akan kemungkinan cara pengobatan baru untuk sebuah penyakit. Contohnya yang masih hangat dalam ingatan kita adalah pada awal pandemi C19 yang lalu. Anecdotal evidence dan data kasar membantu dokter dan para peneliti di seluruh dunia untuk menemukan cara-cara yang mungkin bisa diterapkan demi mencegah penyebaran C19 atau untuk mengobati penyakitnya. Banyak penelitian-penelitian tersebut dikembangkan dari observasi awal pada bukti yang saat itu bersifat anecdotal evidence. Bukti tersebut kemudian diuji dalam penelitian yang lebih hati-hati, melakukan uji klinis, sehingga berujung pada kesimpulan bersifat ilmiah.
 
Penolakan Terhadap Anecdotal Evidence
Walaupun demikian tidak sedikit dokter yang benar-benar menolak apa pun yang “berbau” anecdotal evidence dalam menjalankan keprofesionalitasannya. Ada sisi positif dan negatif dalam kasus ini. Positifnya, dokter yang bersangkutan akan selalu memberikan penanganan pada pasiennya hanya berdasar pada sesuatu yang sudah pasti dan didukung oleh penelitian ilmiah. Tapi sisi negatifnya, dokter tersebut cendrung akan mengabaikan sudut pandang dan keinginan pasiennya yang tidak jarang ingin mencoba berbagai cara untuk mengobati dirinya. Pada akhirnya kondisi ini bisa berbalik pada kehilangan kepercayaan pasien kepada dokter mereka.
 
Terapi Berdasar Sugesti
Manusia itu makhluk dinamis yang memiliki tubuh luar biasa yang dapat mendukung atau justru menghalangi kesembuhan suatu penyakit yang sedang diderita. Cukup sering kita dengar anecdotal evidence pada pasien yang yakin akan lebih cepat sembuh bila berobat ke dokter A, dan yakin penyakitnya akan lama sembuh bila diobati oleh dokter B. Atau seseorang yang yakin kalau sakit kepalanya hanya bisa sembuh bila minum obat X, dan yakin tidak akan sembuh bila minum obat Y; padahal isi kedua obat persis sama. Fenomena ini hanya bisa dijelaskan bahwa memang manusia itu unik, dan terkadang sulit diterima atau dijelaskan oleh pemikiran bermetode ilmiah. Karenanya sangat penting bagi dokter untuk memperkuat sugesti atau rasa yakin sembuh pada pasien mereka.
 
Merubah Paradigma
Alih-alih hanya terfokus pada EBP, dokter juga harus menghargai pandangan, keinginan, dan rencana terapi yang dipilih oleh pasiennya. Hal ini hanya bisa tercapai bila para dokter lebih mau mendengarkan cerita dan keluh kesah pasien mereka. Karena setuju atau tidak, anecdotal evidence telah dan akan selalu menjadi motor ketika pasien sedang mengeluhkan masalah medisnya, walaupun terkadang sangat jauh sekali dari kepercayaan ilmiah yang dimiliki oleh dokter. Pekerjaan dokter akan selalu berada di persimpangan antara ilmu pengetahuan dan anecdotal evidence yang disampaikan oleh pasien. Gagal menyatukan keduanya akan menjadi awal yang salah bagi dokter bersangkutan dalam usaha menyembuhkan pasiennya.
 
Menyaring Anecdotal Evidence
Bagi masyarakat umum, menjadi sangat penting untuk memiliki literasi medis yang cukup agar bisa menyaring begitu banyaknya anecdotal evidence yang beredar. Tidak jarang malah bersifat hoax atau merupakan suatu informasi salah yang sengaja dibuat oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Atau suatu keyakinan yang sengaja diciptakan demi menjual sebuah produk obat, alat, atau pelayanan kesehatan alternatif. Memang pada kenyataannya, bahkan sebuah anecdotal evidence yang paling tidak masuk akal sekalipun dapat menyembuhkan suatu penyakit yang diderita seseorang, karena memang dirinya begitu yakin sehingga berujung pada kesembuhan.
 
Anecdotal evidence pada suatu issue tidak untuk semua orang. Biasanya hanya akan berlalu bagi mereka yang meyakininya saja. Jadi kembalikan pada diri sendiri. Bila memang sangat yakin dan ingin menjalaninya, maka tanyakan pada dokter terlebih dahulu. Bila dokter mengizinkan karena memang tidak akan berefek negatif apa-apa, maka silakan untuk dicoba. Tetapi kalau tidak yakin, tidak perlu repot mencoba, karena besar sekali kemungkinan tidak akan berefek pada kesembuhan dari penyakit. Begitu juga untuk para dokter, sebaiknya mengizinkan pasien untuk memilih sekalipun itu suatu cara berdasar anecdotal evidence, karena yang menyembuhkan itu bukan dokter, bukan obat, tapi Allah yang maha menyembuhkan.

©IKM 2023-02
2 Comments

Topik ke-459: Extrapulmonary TB – TBC Luar Paru-Paru

3/2/2023

0 Comments

 
Picture
Pendahuluan
Di Indonesia sepertinya hampir semua orang mengenal penyakit TBC, tapi tidak terlalu banyak yang paham bahwa TBC tidak hanya terjadi di paru-paru, namun bisa juga terjadi di luar paru-paru. TBC merupakan singkatan dari tuberculosis, mendapatkan namanya dari bakteri penyebab penyakit menular ini yaitu bakteri Mycobacterium tuberculosis. Memang utamanya infeksi terjadi di dalam paru-paru, tapi sangat bisa menyebar ke organ lain di luar paru-paru dengan insidensi seperempat dari total kasus infeksi TBC di dunia. Bila ini terjadi disebut sebagai “TBC luar paru” atau extrapulmonary TBC yang sering disingkat EPTB. Organ yang bisa juga terinfeksi kuman penyebab TBC ini adalah kelenjar getah bening, tulang, selaput otak, ginjal, dll. Semua orang beresiko terkena TBC, namun yang memiliki sistem imun yang lemah memiliki resiko yang lebih besar.

TBC Selain di Paru-Paru
Untuk TBC paru, bisa di baca di dalam artikel sebelumnya, karena alam artikel ini kita akan membahas TBC yang terjadi selain di paru-paru dan ternyata tidak sedikit jenisnya, seperti di bawah ini:
  1. Lymphadenitis TB atau TBC kelenjar getah bening
  2. Meningitis TB atau TBC selaput otak
  3. Peritonitis TB atau TBC pembungkus organ perut
  4. Pericarditis TB atau TBC pembungkus jantung
  5. Skeletal TB atau TBC tulang
  6. Genitourinary TB atau TBC organ reproduksi-saluran kemih
  7. Gastrointestinal TB atau TBC organ pencernaan
  8. Liver TB atau TBC hati
  9. Cutaneous TB atau TBC kulit
  10. Miliary TB yaitu TBC yang mengenai banyak organ sekaligus


Seluruh TBC yang terjadi pada organ selain paru-paru dapat muncul setelah terlebih dahulu terjadi TBC paru (kecuali genitourinary TB). Kuman TBC masuk pertama kali melalui udara berasal dari droplets yang terhirup. Namun kontak sekali atau jarang tidak membuat seseorang langsung tertular, karena dibutuhkan riwayat kontak lama yang berulang untuk menularkan kuman penyebab TBC. Setelah terkena TBC paru, kuman dapat menyebar ke organ lain melalui peredaran darah atau saluran getah bening. Dari semua organ selain paru yang paling mudah terinfeksi adalah selaput-selaput pembungkus organ sehingga membuat kasusnya lebih banyak, seperti selaput otak dan sumsum tulang (meningen), selaput pembung-kus organ perut (peritonium), dan selaput pembungkus jantung (pericardium). Faktor resiko seseorang terkena EPTB adalah: manula, diabetes, lemah sistem imun, kanker, dan HIV/AIDS.
 
Lymphadenitis TB
Merupakan TBC yang menginfeksi kelenjar getah bening (KGB), sehingga di Indonesia dikenal dengan istilah “TBC kelenjar”. Jenis ini merupakan jenis EPTB yang paling sering terjadi. Semua KGB bisa terinfeksi, namun yang paling sering adalah KGB di leher (cervical lymph nodes). Gejala yang muncul bila seseorang terkena TB kelenjar adalah terlihat adanya pembengkakan dari KGB, demam, lemah, berat badan turun tanpa alasan, serta muncul keringat malam.
 
Meningitis TB
Juga disebut sebagai meningeal tuberculosis yang merupakan TBC yang menginfeksi organ selaput pembungkus otak dan sumsum tulang belakang (spinal cord). Karenanya sering juga didengar sebutan “TBC sumsum tulang belakang”. Tidak seperti jenis lain dari meningitis yang menjadi berat dalam waktu yang cepat, perjalanan penyakit meningitis TB terjadi secara pelan dan bertahap. Pada awal terjadinya infeksi, penderita akan mengeluhkan nyeri-nyeri di tubuh, lemah, hilang nafsu makan, sakit kepala yang tidak kunjung hilang,  demam tapi tidak begitu tinggi, serta mual dan muntah. Seiring dengan perjalanan penyakitnya, maka dapat muncul keluhan sakit kepala berat, kaku pada leher, dan penderita sensitif bila melihat cahaya.
 
Peritonitis TB
Seperti namanya, jenis TBC ini menginfeksi selaput pembungkus organ pencernaan (peritonium) yang terjadi pada 3.5% penderita TBC paru, dan 58% dari jenis TBC yang terjadi di wilayah perut (abdominal TB). Gejala paling utamanya adalah terjadinya akumulasi cairan antara dinding perut dan organ pencernaan yang dikenal dengan istilah ascites. Lalu ada juga keluhan seperti demam, hilang nafsu makan, serta mual dan muntah. Seiring dengan bertambah banyaknya cairan ascites, perut penderita akan membesar seperti balon yang berisi air.
 
Pericarditis TB
Jenis TBC ini menginfeksi selaput pembungkus jantung (pericardium). Karena jantung terletak sangat dekat dengan paru-paru, maka tidak sulit bagi kuman penyebab TBC untuk menyebar sampai ke pericardium yang terdiri dari dua lapis selaput di mana terdapat sedikit cairan pelumas di antaranya untuk melindungi jantung. Selaput dan cairan tersebutlah yang terinfeksi dan dapat menyebabkan tiga jenis peradangan selaput pembungkus jantung; yaitu constrictive pericarditis yang membuat jantung tertekan, pericardial effusion di mana terjadi penumpukan cairan di antara dua selaput pericardium, atau gabungan keduanya: effusive-constrictive pericarditis. Gejala yang dikeluhkan penderita adalah nyeri dada, demam, palpitasi (jantung berdegup kencang), nafas pendek, dan batuk. Gejala ini agak mirip dengan awal terjadinya serangan jantung, sehingga harus segera di bawa ke rumah sakit untuk memastikannya.

Skeletal TB
Dikenal juga dengan nama bone TB atau TBC tulang. Semua tulang di tubuh dapat terinfeksi kuman penyebab TBC, tapi yang paling sering adalah tulang punggung dan persendian. TBC tulang kasusnya tidak begitu tinggi, tapi sekarang terjadi peningkatan kasus pada negara-negara dengan kasus HIV/AIDS yang tinggi, dimana penyakit tersebut membuat sistem imun penderita menjadi lemah. Pada tahap awal, TBC tulang tidak menimbulkan gejala sama sekali, tapi seiring dengan perjalanan penyakitnya, penderita akan mengeluhkan sakit yang sangat pada tulang punggung, nyeri dan bengkak pada persendian yang terkena, bisa terjadi deformitas (perubahan bentuk) pada tulang, dan bisa terjadi abses (nanah) pada tulang yang terkena.

Baca artikel lainnya di Blog Dr. Indra K. Muhtadi
Picture
Genitourinary TB
Jenis TBC ini dapat mengenai seluruh organ genital dan saluran kemih, namun paling sering terjadi pada ginjal. Selain kuman dapat menyebar melalui peredaran darah dan saluran getah bening, walaupun jarang penyakit ini juga bisa menyebar melalui hubungan kelamin dari pasangan seks yang sudah lebih dulu menderita genitourinary TB. Bila terjadi pada organ genital, penderita dapat mengeluhkan borok pada penis atau labia mayora dan minora. Keluhan lain yang muncul tergantung pada organ terjadinya infeksi, seperti pembengkakan testis, nyeri buang air kecil (BAK), keluarnya urin saat BAK terhambat, nyeri pada pelvis (perut bawah), nyeri pada punggung, berkurangnya jumlah semen, sampai bisa menyebabkan kemandulan.
 
Gastrointestinal TB
Merupakan TBC yang mengenai organ-organ pencernaan. Semua organ pada saluran pencernaan dari mulut sampai anus bisa terkena gastrointestinal TB. Keluhan yang bisa diderita adalah nyeri pada perut, hilang nafsu makan, berat badan turun tanpa sebab, terjadi diare atau konstipasi, mual dan muntah, serta bisa merasakan benjolan pada dinding perut yang dapat teraba dari luar. Benjolan tersebut adalah kelenjar getah bening yang membesar mengkompensasi infeksi yang terjadi pada organ-organ perut tersebut.
 
Liver TB
Dikenal juga dengan sebutan hepatic TB (TBC hati) yang terjadi saat kuman penyebab TBC menginfeksi hati. Kasusnya tidak banyak, hanya kurang dari 1% dari seluruh kejadian TBC. Karenanya TBC hati ini tidak begitu dikenal dan banyak orang yang tidak mengetahuinya. Selain kuman menyebar melalui peredaran darah dan kelenjar getah bening, TBC hati dapat terjadi menyusul kejadian gastrointestinal TB karena liver masih merupakan organ pencernaan di dalam tubuh manusia. Gejala yang bisa dikeluhkan penderita adalah demam yang tinggi, nyeri perut bagian atas, pembesaran liver, dan terjadi jaundice atau kuning pada mata, kuku, dan kulit seperti sakit kuning.
 
Cutaneous TB
Merupakan TBC yang menginfeksi kulit dan merupakan kasus EPTB yang paling jarang terjadi, bahkan pada negara dengan angka insidensi TB tinggi sekali pun. TBC kulit dapat terjadi pada setiap permukaan kulit di tubuh. Daerah yang umum terjadi adalah siku, tangan, bokong, belakang leher, dan kaki. Gejala yang terjadi adalah muncul lesi pada kulit dengan ciri-ciri berbeda seperti: lesi rata yang terasa nyeri, lesi berwarna keunguan atau merah kecoklatan, terkadang terlihat seperti kutil, juga dapat terlihat seperti bentol-bentol kecil, namun dapat juga menjadi seperti bisul yang mengeluarkan nanah.
 
Miliary TB
Merupakan jenis TBC yang menyebar di tubuh, mengenai beberapa organ sekaligus. Di Indonesia disebut sebagai “TBC milier”, dengan yang paling sering terjadi adalah infeksi bersamaan pada organ paru-paru, sumsum tulang, dan organ pencernaan. Dalam perjalanan penyakitnya bisa juga menyebar ke tulang punggung, otak, dan pericardium. Gejalanya sudah tentu sangat beragam tergantung organ yang terinfeksi seperti yang diuraikan di atas.
Active TB vs. Latent TB
Infeksi kuman TBC dapat bersifat aktif atau laten. TBC aktif merupakan infeksi TBC yang muncul dan dikeluhkan oleh penderita sehingga disebut juga sebagai “penyakit TBC” seperti TBC paru dan EPTB yang diuraikan di atas. Sementara TBC laten adalah infeksi yang terjadi tanpa adanya gejala dan tidak menular. Pada kasus TBC laten, seseorang memiliki bakteri penyebab TBC di dalam tubuhnya yang didapat dari orang lain penderita TBC; namun bakteri tersebut di dalam tubuhnya sedang tidak aktif. Yang bersangkutan seperti orang sehat dan tidak menularkannya kepada orang lain. Namun bila dilakukan tes kulit, maka akan terdeteksi positif. TBC laten dapat menjadi aktif pada 5-10% kasus. Berubahnya status TBC laten menjadi aktif ini terjadi ketika yang bersangkutan sedang turun daya tahan tubuhnya karena sedang menderita penyakit lain, terkena kanker, penyakit autoimun, atau terkena HIV/AIDS.
 
Pemeriksaan TBC
Seluruh jenis TBC dapat diperiksa dengan pemeriksaan yang sama, sbb.:
  1. Mantoux tuberculin skin test (TST) yang di Indonesia dikenal dengan sebutan “tes kulit”. Sejumlah kecil tuberculin disuntikkan ke dalam kulit. Tuberculin adalah purified protein derivative (PPD) yang diekstrak dari bakteri Mycobacterium tuberculosis. Karenanya dikenal juga dengan “test PPD”. Setelah tuberculin disuntikkan, akan ditunggu 48-72 jam, lalu diamati reaksi yang terjadi pada area suntikan yang dapat mengindikasikan telah terjadinya paparan terhadap kuman penyebab TBC. Paparan tersebut bisa berarti terjadi TBC aktif maupun TBC laten.
  2. Tes darah adalah tes yang dapat membedakan antara kasus TBC aktif dengan TBC laten. Biasa dilakukan sebagai lanjutan pemeriksaan setelah tes PPD di atas. Ada dua jenis pemeriksaan reaksi sistem imun terhadap bakteri TB ini yaitu T-SPOT TB Test (T-Spot), dan QuantiFERON-TB Gold In-Tube test (QFT-GIT).
  3. Imaging test: Foto X-ray paru-paru atau CT-scan pada organ yang dicurigai terkena untuk memperkuat diagnosis.
  4. Sputum test atau tes dahak. Tes ini merupakan tes pasti adanya bakteri TB di dalam paru-paru. Selain untuk mendeteksi keberadaan bakteri, tes dahak digunakan juga untuk menguji sensitivitas terapi antibiotik yang akan diberikan sehingga terapi akan lebih efektif.
 
Penutup
TBC masih merupakan masalah kesehatan umum di Indonesia, karena kasusnya terbilang tinggi. Kasus EPTB juga cukup tinggi di Indonesia dengan gejala yang tidak spesifik, membuat screening dan deteksi dini menjadi sangat penting. Menjaga kepatuhan minum obat bagi penderita TBC juga sebuah tantangan yang harus dihadapi, karena obat harus diminum setiap hari minimal 6 bulan, bahkan bisa 9-12 bulan. Bila TBC tidak ditangani secara baik, dapat menurunkan kualitas hidup penderitanya bahkan dapat menyebabkan kematian.

©IKM 2023-02
0 Comments
    Home >> Medical Articles >> 2023

    Medical Articles 2023

    Picture
    Lihat daftar artikel lainnya, click pada gambar

    Picture
    Maknai stres, untuk membuat hidup menjadi lebih hebat. Baca di sini.

    Bila Anda suka dengan blog ini, silakan "like" artikelnya di bagian bawah setiap artikel dan silakan menikmati artikel lainnya pada blog tahun 2022. Click di sini.

    Picture

    Author

    Dr. Indra K. Muhtadi adalah seorang Health Influencer dan konsultan pada berbagai professional training di Indonesia.

    Selama pandemi COVID-19, Dr. Indra juga aktif sebagai New Normal Consultant (Konsultan Adaptasi Kebiasaan Baru) di beberapa perusahaan.

    Sebagai dokter, ia sangat piawai memberikan konsultasi kesehatan dengan bahasa ringan sehingga membuat masalah medis menjadi sesuatu yang mudah untuk dipahami.

    Click di sini untuk berkonsultasi dengan Dr. Indra

    These Blogs are written in Bahasa Indonesia. I hope these blogs can help those who search the information about the topic discussed in the radio.  Feel free to give comments and if you need an English version of the content from these blogs, please don't hesitate to contact me.

    Instagram Follow Dr. Indra on Instagram
    Follow @indrakm

    Archives

    December 2023
    November 2023
    October 2023
    September 2023
    August 2023
    July 2023
    June 2023
    May 2023
    April 2023
    March 2023
    February 2023
    January 2023

    Categories

    All
    Anecdotal Evidence Di Dunia Medis
    Bau Badan (Body Odor)
    COVID-19 Di Penghujung 2023
    Dampak Gelombang Panas Bagi Kesehatan
    Extrapulmonary TB (TBC Luar Paru-Paru)
    Garam & Natrium (Salt & Sodium)
    Hoax Vs. Fakta
    Hormon Tidur Nyenyak
    Hypersomnia (Mengantuk Di Siang Hari)
    Immunity Debt Pasca Pandemi
    Kanker Payudara Pada Wanita Usia Muda
    Kesehatan Mental Di Era Digital
    Kesepian Pada Lansia (Loneliness In Elderly)
    Manfaat Ca-Mg-Zn Untuk Tubuh
    Melasma & Lentigo (Bercak Gelap Di Kulit)
    Melatonin
    Minyak Ikan (Fish Oil)
    Misteri Penyakit Autoimun
    Mitos & Fakta Superfood
    Mudik Lancar & Sehat
    Nomophobia (Takut Berpisah Dengan HP)
    Nyamuk Wolbachia (Wolbachia Mosquito)
    Nyeri Telapak Kaki (Plantar Fasciitis)
    Olahraga Di Bulan Ramadhann
    Pascapersalinan
    Pencernaan Sehat Untuk Keluarga
    Penyakit Jantung & Kebiasaan Hidup Saat Ini
    Perimenopause
    Puasa Ketika Hamil
    & Saat Menyusui
    Semua Tentang Madu - All About Honey
    Serba-Serbi Kacamata
    Tabir Surya (Sunscreen & Sunblock)
    Trigger Finger (Jari Pelatuk)


    Saya tidak mencantumkan rujukan atau sumber dari artikel yang saya tulis, karena akan menambah panjang body dari posting-an blog-nya.
    Bila ada yang memerlukan silakan hubungi saya di contac me. Saya dengan senang hati akan menginfokannya.


    Disclaimer
    All data and statements in all articles in these blogs on this website were true at the time of writing. Some update may be required.

    The Content is not intended to be a substitute for professional medical advice, diagnosis, or treatment. Always seek the advice of your physician or other qualified health provider with any questions you may have regarding a medical condition.

    Picture
    Terima kasih untuk mendukung usaha saya dan berbagi informasi
    Thank you for supporting my effort and sharing my knowledge


    Picture

    Navigation:
    Back to Blog Main Page
    Back to Blog Index

Proudly powered by Weebly